Jumat, 20 Februari 2026
Walisongo Global Media
Health

Berbeda dengan Flu Biasa, Risiko yang Mencolok dari Virus Nipah Terletak pada Serangan Peradangan Otak

Admin WGM - Tuesday, 27 January 2026 | 11:46 AM

Background
Berbeda dengan Flu Biasa, Risiko yang Mencolok dari Virus Nipah Terletak pada Serangan Peradangan Otak
Foto Orang Flu (unsplash.com/@enginakyurt/)

Di tengah musim pancaroba yang sering memicu merebaknya berbagai penyakit saluran pernapasan, munculnya kekhawatiran masyarakat terhadap infeksi virus baru adalah hal yang wajar. Salah satu yang sering dipertanyakan adalah bagaimana membedakan antara influenza biasa dengan ancaman virus Nipah (NiV). Meskipun keduanya diawali dengan gejala yang tampak serupa, terdapat perbedaan fundamental yang menentukan tingkat keparahan hingga risiko kematian.

Virus Nipah bukanlah sekadar infeksi saluran napas, melainkan penyakit zoonosis yang memiliki kecenderungan menyerang sistem saraf pusat. Perbedaan gejala sejak dini bukan hanya soal meredakan kekhawatiran, melainkan tentang ketepatan dalam mengambil tindakan medis.

Baca Juga: Tingkat Fatalitas Hingga 75%, Ini Gejala, Cara Penularan, dan Pencegahan Virus Nipah Kembali Menjadi Sorotan Dunia

Pada fase awal atau periode prodromal, gejala virus nipah memang sangat mirip dengan flu atau influenza. Penderita biasanya akan mengeluhkan demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot (mialgia), hingga radang tenggorokan. Kondisi ini sering kali membuat pasien merasa hanya terkena flu biasa dan memilih untuk sekadar beristirahat di rumah.

Namun, perbedaannya terletak pada progresivitas penyakitnya. Jika flu biasa cenderung membaik dalam waktu 3 hingga 7 hari dengan pengobatan simtomatik, infeksi Nipah dapat berkembang dengan sangat cepat menjadi kondisi yang mengancam nyawa. Pasien Nipah sering kali mengalami sesak napas yang lebih berat dibandingkan penderita flu, yang kemudian diikuti oleh tanda-tanda neurologis.

Perbedaan paling mencolok sekaligus paling mematikan dari virus Nipah adalah kemampuannya memicu ensefalitis atau peradangan otak akut. Ini adalah ciri khas yang tidak ditemukan pada penderita flu biasa sebagai risiko peradangan otak (ensefalitis).

Ketika virus mulai menyerang sistem saraf pusat, penderita akan mengalami gejala neurologis seperti:

  • Pusing yang luar biasa hingga menyebabkan disorientasi atau kebingungan mental.
  • Rasa kantuk yang tidak tertahankan (somnolence).
  • Penurunan kesadaran hingga koma dalam waktu 24 hingga 48 jam.
  • Kejang-kejang mendadak.

Ensefalitis yang disebabkan virus Nipah, menyebabkan angka fatalitas penyakit ini menjadi sangat tinggi. Bagi Winners yang merasa khawatir setelah terpapar hewan atau mengonsumsi produk yang berisiko, penting untuk memantau masa inkubasi. Masa inkubasi adalah rentang waktu dari saat virus masuk ke tubuh hingga gejala pertama muncul.

Masa inkubasi Virus Nipah umumnya berkisar antara 4 hingga 14 hari. Namun, data dari WHO menunjukkan variasi yang cukup lebar; dalam beberapa kasus, gejala baru muncul setelah 45 hari terpapar. Hal ini sangat berbeda dengan flu biasa yang masa inkubasinya sangat singkat, biasanya hanya 1 hingga 4 hari. Artinya, jika Anda merasa sakit hanya sehari setelah berinteraksi dengan orang yang flu, kemungkinan besar itu adalah influenza biasa, bukan Nipah.

Memahami perbedaan gejala ini bukan sekadar upaya meningkatkan kewaspadaan, melainkan langkah krusial untuk menjaga ketenangan di tengah masyarakat. Pemahaman tentang virus yang menyebar dengan matang menjadi fondasi utama bagi perlindungan diri dan ketangguhan bersama dalam menghadapi ancaman krisis kesehatan global yang semakin dinamis.