Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Health

Mood Sering Berantakan? Coba Cek Pencernaanmu, Bisa Jadi Ususmu Lagi Stres!

Admin WGM - Tuesday, 17 February 2026 | 04:56 PM

Background
Mood Sering Berantakan? Coba Cek Pencernaanmu, Bisa Jadi Ususmu Lagi Stres!
Usus manusia (Halodoc/)

Rasa perut tiba-tiba mulas saat akan melakukan presentasi penting, atau munculnya sensasi "kupu-kupu" di perut saat sedang jatuh cinta, sering kali dianggap sebagai reaksi emosional biasa. Namun, bagi para ilmuwan dan praktisi kesehatan, hal tersebut adalah bukti nyata dari komunikasi yang sangat kuat antara perut dan kepala. Selama dekade terakhir, penelitian medis telah mengungkap fakta mengejutkan: usus bukan sekadar tempat mengolah makanan, melainkan "otak kedua" yang memegang kendali besar atas kesehatan mental, suasana hati (mood), hingga tingkat kecemasan.

Sistem pencernaan manusia dilengkapi dengan jaringan saraf yang sangat luas yang disebut Sistem Saraf Enterik (ENS). Jaringan ini terdiri dari lebih dari 100 juta sel saraf yang melapisi saluran pencernaan dari kerongkongan hingga rektum. Yang luar biasa, usus mampu bekerja secara mandiri dan terus-menerus bertukar informasi dengan otak melalui jalur komunikasi dua arah yang disebut Gut-Brain Axis. Jalur inilah yang menjelaskan mengapa gangguan pada usus bisa memicu gangguan kecemasan, dan sebaliknya, stres psikologis bisa merusak sistem pencernaan.

Pabrik Kebahagiaan di Dalam Perut

Alasan pertama mengapa usus sangat berpengaruh pada mood terletak pada produksi neurotransmiter atau zat kimia pembawa pesan di otak. Banyak anggapan bahwa Serotonin zat kimia yang bertanggung jawab atas rasa bahagia, tenang, dan tidur yang nyenyak hanya diproduksi di dalam otak. Faktanya, penelitian menunjukkan bahwa sekitar 90% hingga 95% serotonin tubuh justru diproduksi di dalam usus.

Sel-sel khusus di lapisan usus bekerja sama dengan triliunan bakteri baik (mikrobioma) untuk mensintesis serotonin ini. Artinya, jika ekosistem bakteri di usus tidak seimbang akibat pola makan yang buruk atau konsumsi antibiotik yang berlebihan, produksi serotonin akan terganggu. Hasilnya, muncul perasaan lebih mudah sedih, mudah marah, atau gejala depresi meskipun tidak ada masalah besar yang terjadi. Usus yang sehat secara harfiah berarti pasokan "hormon bahagia" yang stabil bagi otak.

Mikrobioma dan Pengaturan Stres

Di dalam usus manusia, terdapat ekosistem mikroba yang sangat kompleks yang disebut mikrobioma. Bakteri-bakteri ini tidak hanya membantu mencerna serat, tetapi juga berperan sebagai perisai terhadap hormon stres. Bakteri tertentu di dalam usus memiliki kemampuan unik untuk memengaruhi bagaimana tubuh merespons kortisol, yaitu hormon utama yang memicu stres dan kecemasan.

Ketika mikrobioma usus berada dalam kondisi seimbang atau eubiosis, bakteri baik akan mengirimkan sinyal melalui saraf vagus jalur saraf terpanjang yang menghubungkan usus dan otak—untuk menenangkan sistem saraf pusat. Sebaliknya, ketika terjadi ketidakseimbangan bakteri atau dysbiosis, usus akan mengirimkan sinyal "bahaya" ke otak. Sinyal ini sering kali diterjemahkan oleh otak sebagai rasa cemas yang tidak beralasan, kepanikan, atau perasaan waspada yang berlebihan. Inilah alasan mengapa pengidap gangguan pencernaan kronis seperti Irritable Bowel Syndrome (IBS) memiliki risiko jauh lebih tinggi untuk mengalami gangguan kecemasan.

Hubungan Peradangan dan Kesehatan Mental

Selain melalui saraf dan hormon, usus memengaruhi mental melalui sistem kekebalan tubuh dan peradangan. Dinding usus berfungsi sebagai penjaga gerbang yang mencegah racun dan bakteri jahat masuk ke aliran darah. Namun, pola makan tinggi gula dan makanan olahan dapat menyebabkan kondisi yang disebut leaky gut atau kebocoran usus, di mana dinding usus melemah.

Saat racun merembes keluar dari usus dan masuk ke aliran darah, tubuh akan mengalami peradangan sistemik. Peradangan ini tidak hanya berhenti di tubuh bagian bawah, tetapi bisa mencapai otak dan memicu peradangan saraf (neuroinflammation). Kondisi ini sering kali bermanifestasi sebagai brain fog (kabut otak), kesulitan berkonsentrasi, dan ketidakstabilan emosi. Dengan menjaga kesehatan dinding usus, setiap orang sebenarnya sedang menjaga agar otak tetap "dingin" dan bebas dari gangguan emosional yang disebabkan oleh peradangan.

Langkah Praktis Menuju Mental Sehat via Usus

Mengetahui betapa vitalnya peran usus bagi mental, sudah saatnya memberikan perhatian lebih pada asupan harian. Cara termudah untuk mendukung "otak kedua" adalah dengan mengonsumsi makanan kaya probiotik seperti yogurt, tempe, kimchi, dan kefir. Selain itu, penuhi asupan prebiotik (makanan untuk bakteri baik) yang banyak terdapat pada bawang putih, pisang, dan sayuran hijau.

Selain makanan, mengelola stres melalui meditasi dan tidur yang cukup juga sangat membantu menyeimbangkan komunikasi antara otak dan usus. Ketika otak tenang, usus akan bekerja dengan baik. Dan ketika usus sehat, perasaan cemas akan jauh berkurang. Pada akhirnya, kesehatan mental yang stabil bukanlah hasil dari satu organ saja, melainkan harmoni yang tercipta antara pikiran di kepala dan kesehatan di dalam perut.