Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Health

Anti-Loyo! Strategi Jitu Tetap Fokus dan Produktif di Kantor Tanpa Rasa Ngantuk Saat Puasa

Admin WGM - Thursday, 19 February 2026 | 09:00 PM

Background
Anti-Loyo! Strategi Jitu Tetap Fokus dan Produktif di Kantor Tanpa Rasa Ngantuk Saat Puasa
Circadian rhytm (Getty image /)

Rasa kantuk saat puasa adalah kombinasi dari berkurangnya durasi tidur (karena sahur) dan proses pencernaan yang melambat. Tanpa asupan kafein atau camilan, otak harus mengandalkan cadangan energi yang ada. Untuk tetap produktif, Anda tidak bisa menggunakan pola kerja yang sama dengan hari-hari biasa. Anda perlu melakukan "rekayasa jadwal" agar tugas-tugas berat tidak bertabrakan dengan titik terendah energi Anda.

Strategi Manajemen Tugas Berdasarkan Level Energi

Gunakan teknik energy mapping untuk menentukan kapan Anda harus melakukan pekerjaan berat:

  • Pagi Hari (Golden Hours): Fokus Tinggi Setelah sahur dan salat Subuh, kadar gula darah Anda berada di titik paling stabil. Gunakan rentang waktu pukul 08.00 hingga 11.00 untuk mengerjakan tugas yang membutuhkan konsentrasi mendalam, analisis rumit, atau pengambilan keputusan penting. Jangan gunakan waktu ini untuk sekadar membalas email atau merapikan meja.
  • Siang Hari (The Slump): Pekerjaan Administratif Saat memasuki pukul 13.00, energi mulai menurun. Ini adalah waktu di mana rasa kantuk berada di puncaknya. Alihkan fokus Anda ke pekerjaan "ringan" yang sifatnya rutin dan repetitif, seperti menginput data, mengorganisir folder, atau melakukan koordinasi singkat.
  • Sore Hari (The Home Stretch): Evaluasi dan Perencanaan Menjelang berbuka, fokus mungkin kembali menurun namun semangat biasanya meningkat. Gunakan waktu ini untuk melakukan review kerja hari itu dan menyusun daftar prioritas untuk keesokan harinya.

Daftar Taktik Praktis Melawan Rasa Kantuk

Selain pengaturan jadwal, lakukan tindakan fisik berikut untuk menjaga kewaspadaan otak:

  1. Praktikkan Power Nap (Tidur Singkat): Jika memungkinkan, gunakan waktu istirahat siang untuk tidur selama 15–20 menit. Tidur singkat ini sudah cukup untuk "me-reset" otak dan mengembalikan fokus tanpa menimbulkan rasa pening (sleep inertia).
  2. Paparan Cahaya Matahari: Cahaya alami membantu mengatur hormon melatonin yang mengatur kantuk. Cobalah berjalan keluar ruangan sebentar atau duduk di dekat jendela saat jam-jam kritis siang hari agar otak tetap merasa "siang".
  3. Hidrasi Strategis saat Sahur: Kurang cairan (dehidrasi ringan) adalah penyebab utama lemas dan sulit konsentrasi. Pastikan mengonsumsi air mineral dengan pola 2-4-2 (2 gelas saat berbuka, 4 gelas di malam hari, dan 2 gelas saat sahur).
  4. Lakukan Peregangan Ringan: Saat kantuk menyerang, jangan hanya diam di kursi. Lakukan peregangan leher, bahu, dan pergelangan tangan, atau berjalan singkat ke area kantor yang lain untuk melancarkan aliran oksigen ke otak.

Nutrisi Sahur sebagai Bahan Bakar Utama

Agar tidak cepat lemas, hindari konsumsi karbohidrat sederhana (seperti nasi putih berlebih atau makanan manis) secara tunggal saat sahur. Karbohidrat sederhana menyebabkan lonjakan gula darah yang cepat naik tapi juga cepat turun (sugar crash), yang memicu rasa kantuk luar biasa beberapa jam kemudian.

Tetap produktif saat puasa adalah soal bekerja secara cerdas, bukan bekerja lebih keras. Dengan menyinkronkan beban kerja dengan ritme energi tubuh, serta memberikan hak tubuh untuk istirahat sejenak (power nap), Anda bisa membuktikan bahwa kualitas kerja tidak harus menurun meski sedang menjalankan ibadah. Puasa justru melatih kedisiplinan mental yang, jika dikelola dengan baik, akan meningkatkan efisiensi kerja Anda secara jangka panjang.