Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Health

Soft Hiking: Tren Naik Gunung Tanpa Target Puncak yang Lagi Digemari Gen Z buat Jaga Kesehatan Mental di 2026

Admin WGM - Monday, 16 February 2026 | 04:36 PM

Background
Soft Hiking: Tren Naik Gunung Tanpa Target Puncak yang Lagi Digemari Gen Z buat Jaga Kesehatan Mental di 2026
(57hours.com/)

Dunia pendakian Indonesia di tahun 2026 sedang mengalami pergeseran filosofi yang cukup drastis. Jika dulu mendaki gunung identik dengan uji fisik yang berat, adu cepat sampai puncak, dan pamer foto di tugu ketinggian, kini muncul gerakan "Soft Hiking". Fenomena ini mulai mendominasi jalur-jalur pendakian populer dari Gunung Prau hingga Gunung Gede Pangrango. Bagi Gen Z, soft hiking adalah antitesis dari hustle culture yang melelahkan. Di sini, targetnya bukan lagi summit, melainkan seberapa berkualitas waktu yang dihabiskan untuk menghirup udara hutan dan mendengarkan suara alam.

1. Menghapus Tekanan "Summit Attack"

Dalam soft hiking, tidak ada keharusan untuk bangun jam 2 pagi demi mengejar sunrise di puncak. Para pendaki bebas menentukan titik berhenti mereka. Jika menemukan padang sabana yang indah atau aliran sungai yang tenang di tengah jalur, mereka akan memilih untuk stay di sana, membuka kursi lipat, dan menyeduh kopi. Fokusnya adalah menikmati perjalanan (the journey), bukan hasil akhir (the destination).

2. "Digital Detox" yang Lebih Nyata

Berbeda dengan pendakian biasa yang seringkali masih sibuk mencari sinyal demi update story, pelaku soft hiking di 2026 lebih memilih untuk benar-benar offline. Mereka menggunakan waktu pendakian untuk meditasi jalan kaki (walking meditation). Tren ini dianggap sebagai cara paling ampuh untuk merestart otak yang sudah jenuh dengan stimulasi algoritma media sosial.

3. Perlengkapan yang Lebih "Chill" dan Estetik

Tren ini juga mengubah gaya fashion naik gunung. Di 2026, pakaian pendakian tidak lagi kaku. Penggunaan outerwear yang nyaman, warna-warna bumi yang estetik, dan sepatu lari lintas alam (trail running shoes) yang ringan lebih diminati daripada sepatu bot berat. Tujuannya adalah mobilitas yang santai dan kenyamanan maksimal sepanjang hari.

4. Dampak Positif pada Kesehatan Mental

Psikolog di tahun 2026 menyebut soft hiking sebagai bentuk "Green Therapy". Dengan menghilangkan target puncak, hormon kortisol (penyebab stres) akan turun lebih efektif karena tubuh tidak merasa sedang dalam tekanan kompetisi. Ini adalah ruang aman di mana orang diperbolehkan untuk "berhenti sejenak" tanpa merasa gagal.

Soft hiking mengingatkan kita bahwa alam adalah tempat untuk pulang, bukan untuk ditaklukkan. Di tahun 2026, menjadi Winners dalam hidup bukan berarti selalu harus berada di puncak tertinggi, tapi tentang siapa yang paling mampu menjaga kedamaian hatinya. Jadi, kalau akhir pekan nanti kamu mendaki dan merasa lelah di tengah jalan, jangan dipaksa. Berhentilah, nikmati kopimu, dan sadarilah bahwa kamu sudah "sampai" pada tujuanmu yang sebenarnya.