Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Tapanuli Tengah Kembali Dilanda Banjir, Upaya Pascabencana Harus Diprioritaskan, Warga Belum Pulih Psikis dan Materil

Trista - Sunday, 15 February 2026 | 05:55 PM

Background
Tapanuli Tengah Kembali Dilanda Banjir, Upaya Pascabencana Harus Diprioritaskan, Warga Belum Pulih Psikis dan Materil
Banjir kembali melanda Tapanuli Tengah (ANTARA Foto /)

Tapanuli Tengah, Sumatra Utara kembali diterjang banjir bandang yang meluas hingga enam kecamatan, Rabu (11/2/2026). Wilayah terdampak diantaranya Kecamatan Tukka, Kecamatan Sibabangun, Kecamatan Sarudik, Kecamatan Pandan, Kecamatan Barus, dan Kecamatan Sitahuis. 

Akibat dari peristiwa ini, warga terpaksa kembali mengungsi dengan perasaan khawatir adanya banjir susulan dan sebagian rumah masih tertimbun lumpur sisa banjir. Pembangunan tanggul darurat tidak mampu menampung derasnya air yang berimbas langsung terhantamnya permukiman warga di Kecamatan Tukka yang sebelumnya juga dilanda banjir dan longsor. 

"Alur sungai yang kemarin kita coba normalkan itu, lebarkan, itu kita pasangin tanggul darurat itulah airnya penuh, bukan cuma air tapi juga kayu-kayu," jelas Masinton Pasaribu, Bupati Tapanuli Tengah, dilansir dari laman CNN Indonesia, Rabu malam (11/2/2026). 

Selain itu, satu jembatan darurat turut ambruk hanyut terbawa arus dan tertahan di jembatan Jalan ST Z Tampubolon. 

"Jembatan darurat menuju Desa Sibio-bio, Kecamatan Sibabangun hanyut. Air sungai di jembatan Jalan ST Z Tampubolon antara Kelurahan Aek Tolang Induk dan Kelurahan Aek Tolang banyak kayu tertahan/terhambat," lanjut Masinton. 

Kondisi psikologis korban banjir turut menjadi hal penting dalam pengupayaan pascabencana yang harus diperhatikan pemerintah. Investigasi mendalam dilakukan oleh Tim BBC Indonesia, salah satu korban banjir, Rinilorensa Sinaga mengalami trauma mendalam hingga frustasi enggan berkuliah lagi. 

"Saya sempat frustasi dan tidak mau lagi kuliah. Karena ijazahku sudah tidak ada lagi, laptop juga hilang. Istilahnya senjata untuk menempuh pendidikan juga tidak ada," ungkap Rini terhadap tim BBC Indonesia (12/2/2026). 

Meskipun bantuan hadir dalam bentuk barang dan dana yang dibutuhkan dari masyarakat dan gereja, Rini mengakui bahwa dirinya belum sepulihnya damai secara mental. Bongkahan kayu besar dan derasnya longsor susulan kembali memberikan bayangan menakutkan untuk dirinya dan keluarga. 

"Pastinya, kami masih mengingat-ingat kejadian yang sama yang bertepatan pada kejadian november 2025 berada di tempat yang sama. Jadi seperti terulang. Respon tubuh saya langsung gemetar," ungkap Rini. 

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) (13/2/2026) mencatat 1.600 jiwa masih mengungsi sejak banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Tapanuli Tengah di akhir November 2025 lalu. 

Beberapa pakar lingkungan menanggapi insiden terulangnya banjir bandang dan tanah longsor di Tapanuli Tengah ini, pemerintah ditekan untuk lebih memberikan perhatian dalam wilayah yang menjadi prioritas. Pengkajian dan perhitungan dalam masa pemulihan bencana akan lebih rumit dan berlarut apabila ditunda-tunda, mengingat sudah hampir 3 bulan pascakejadian.