Senin, 2 November 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Tegaskan Indonesia Belum Bisa Ekspor Listrik ke Singapura

Azizatul Khifdiyah - Monday, 02 November 2026 | 03:34 PM

Background
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Tegaskan Indonesia Belum Bisa Ekspor Listrik ke Singapura
Pemerintah Indonesia melalui Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan penundaan ekspor listrik ke Singapura demi memprioritaskan kedaulatan dan kebutuhan energi dalam negeri. (Detik Finance/)

Pemerintah Indonesia memastikan tidak akan melakukan ekspor pasokan listrik ke Singapura dalam waktu dekat. Keputusan tegas tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia. Dilansir dari laporan detikfinance, langkah ini diambil pemerintah dengan mempertimbangkan tingginya pemenuhan kebutuhan energi listrik di dalam negeri.

​Pernyataan tersebut disampaikan oleh Bahlil Lahadalia saat menghadiri acara pertambangan Minerba Convex 2026 di Jakarta pada Senin (2/11/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia menjelaskan bahwa ketersediaan daya listrik nasional masih perlu diprioritaskan sepenuhnya untuk masyarakat Indonesia terlebih dahulu. Oleh karena itu, opsi pengiriman daya ke negara tetangga tersebut dipastikan belum bisa direalisasikan saat ini.

​"Saya sudah mengumumkan untuk Indonesia belum dalam waktu dekat belum bisa mengekspor listrik. Kita masih butuh listrik. Enggak ada," ujar Bahlil.

​Selain mengumumkan penghentian rencana ekspor pasokan energi, Bahlil juga menyinggung masalah kewenangan serta koordinasi kelembagaan di tubuh pemerintah. Mengutip laporan detikfinance, ia meminta Danantara untuk tidak melakukan lobi-lobi mengenai keputusan strategis ini. Ia mengingatkan bahwa seluruh izin ekspor energi nasional merupakan kewenangan penuh Kementerian ESDM.

​"Saya sudah kasih tahu Danantara, jangan kamu mau dilobi-lobi. Enggak ada. Izin itu ada di (Kementerian) ESDM, bukan Danantara," tegas Bahlil.

​Bahlil menambahkan bahwa pertimbangan kedaulatan serta kehormatan bangsa menjadi dasar utama dalam pengambilan kebijakan sektor kelistrikan ini. Menurutnya, pemerintah memegang komitmen kuat untuk mengedepankan kepentingan seluruh rakyat Indonesia di atas kepentingan lainnya. Ia menyatakan bahwa wibawa negara merepresentasikan pemenuhan kebutuhan hidup bagi seluruh lapisan masyarakat tanah air.

​"Kedaulatan negara saya dahulukan, wibawa negara saya mendahulukan. Marwah negara adalah marwah 280 jiwa yang ada di bangsa ini," sambungnya.

​Sebelumnya, rencana ekspor listrik ke Singapura memang belum pernah terwujud karena belum tercapainya kesepakatan harga di antara kedua pihak. Berdasarkan laporan detikfinance, Bahlil sebenarnya menyatakan terbuka pada kerja sama internasional selama prinsip saling menguntungkan tetap terpenuhi. Namun, ia menekankan saat ditemui di Kementerian ESDM Jakarta pada Senin (11/5/2026) bahwa harga yang ditawarkan harus wajar.

​"Untuk Singapura, kita juga akan ekspor, tapi harganya juga harus cengli. Selama itu belum kita bicara tentang win-win, maka saya pikir penting untuk melakukan kajian yang lebih mendalam," ujarnya.

​Dalam menjaga ketahanan energi nasional, Indonesia sendiri sudah memiliki skema kerja sama kelistrikan kawasan dengan negara jiran Malaysia. Berbeda dengan rencana Singapura, kerja sama dengan Malaysia dilakukan melalui mekanisme impor listrik untuk memperkuat pasokan wilayah Kalimantan. Menurut Bahlil, skema impor listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Air Malaysia tersebut dinilai saling menguntungkan dan bernilai wajar.

​"Seperti kita melakukan kerja sama antara Malaysia dan Indonesia, itu kan kita juga impor listrik dari Malaysia, PLTA kita lewat Kalimantan. Itu bagus, harganya cengli," ujarnya.