Sabtu, 20 Juni 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Tantangan Evakuasi Gunung Leuser: Mengapa Jenazah Pendaki Tak Bisa Dijemput Helikopter?

Admin WGM - Thursday, 16 April 2026 | 06:00 PM

Background
Tantangan Evakuasi Gunung Leuser: Mengapa Jenazah Pendaki Tak Bisa Dijemput Helikopter?
Pendaki Asal Binjai Bento Dimakamkan di Padang Sapana Gunung Leuser (Sumut Pos /)

Perjalanan ekspedisi menuju salah satu puncak tertinggi di Indonesia berakhir duka bagi kelompok pendaki asal Sumatera Utara. Zainul Pane, atau yang akrab disapa Bento, seorang pendaki asal Kota Binjai, mengembuskan napas terakhirnya saat tengah melakukan pendakian di Gunung Leuser. Setelah melalui berbagai pertimbangan teknis dan kondisi medan yang ekstrem, pihak keluarga menyatakan keikhlasannya agar jenazah almarhum dimakamkan di area pegunungan, tepatnya di kawasan yang dikenal sebagai Padang Sapana atau Kamp Lapangan Bola.

Keputusan ini diambil setelah tim evakuasi menghadapi kendala besar dalam upaya pemulangan jenazah dari kedalaman hutan hujan tropis Aceh tersebut.

Proses evakuasi jenazah Bento menjadi tantangan luar biasa bagi tim penyelamat gabungan. Lokasi meninggalnya almarhum berada di titik yang sangat terpencil dengan kondisi geografis yang terjal dan cuaca yang tidak menentu. Hal ini memicu pertanyaan publik mengenai alasan tidak digunakannya helikopter untuk mengevakuasi jenazah dari ketinggian tersebut.

Pihak otoritas terkait menjelaskan bahwa evakuasi udara menggunakan helikopter tidak memungkinkan untuk dilakukan di titik tersebut. Faktor utama meliputi ketinggian lokasi yang berada di atas batas aman operasional helikopter penyelamat sipil, kerapatan vegetasi hutan yang tidak menyediakan landasan darurat (helipad), serta kondisi angin kencang yang berisiko tinggi bagi keselamatan awak penerbang.

"Medan di Gunung Leuser sangat kompleks. Selain faktor cuaca, tidak ada titik terbuka yang cukup luas bagi helikopter untuk melakukan manuver hoisting atau pendaratan di dekat lokasi almarhum," tulis laporan yang merujuk pada keterangan teknis tim penyelamat.

Berdasarkan diskusi mendalam antara tim pendaki yang menyertai almarhum, tim SAR, dan pihak keluarga di Binjai, akhirnya disepakati bahwa jenazah Bento akan dimakamkan di Kamp Lapangan Bola atau Padang Sapana. Lokasi ini merupakan salah satu titik ikonik di jalur pendakian Leuser yang memiliki area terbuka cukup luas.

Pihak keluarga almarhum telah menyatakan keikhlasan mereka. Keikhlasan ini didasari atas rasa hormat terhadap kecintaan almarhum pada dunia pendakian, serta pertimbangan untuk tidak membahayakan nyawa tim evakuasi jika harus memaksakan pengangkutan jenazah melalui jalur darat yang memakan waktu berhari-hari dengan medan yang sangat berat.

Meskipun jenazah dimakamkan di gunung, rombongan pendaki yang merupakan rekan-rekan almarhum tetap turun untuk melapor dan menyelesaikan administrasi pendakian. Kepulangan rombongan ini disambut langsung oleh Kapolres Gayo Lues dan Bupati setempat di titik jemput. Penyambutan ini merupakan bentuk simpati dan penghormatan pemerintah daerah terhadap insiden yang menimpa pegiat alam bebas tersebut.

Kapolres Gayo Lues memberikan apresiasi kepada tim evakuasi dan rombongan pendaki yang telah berusaha maksimal dan tetap solid dalam menghadapi situasi darurat di atas gunung. Pemerintah daerah juga memastikan akan membantu proses komunikasi dengan pihak keluarga di Sumatera Utara terkait dokumentasi dan lokasi tepat pemakaman almarhum.

Tragedi meninggalnya pendaki di Gunung Leuser ini menjadi pengingat keras bagi para pegiat alam terbuka mengenai risiko tinggi pendakian di jalur non-komersial yang memiliki durasi panjang. Gunung Leuser dikenal sebagai salah satu jalur pendakian paling berat di Asia Tenggara yang membutuhkan kesiapan fisik, mental, dan logistik yang sangat matang.

Meninggalnya Bento meninggalkan duka mendalam bagi komunitas pendaki di Sumatera Utara dan Indonesia. Kini, sang pendaki telah menemukan peristirahatan terakhirnya di tempat yang ia cintai, di antara rimbunnya hutan dan dinginnya kabut Puncak Leuser.