Rabu, 17 Juni 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Sesar Sausu Picu Gempa M 6,7 di Palu, Berikut 5 Fakta Ilmiah dari BMKG

Admin WGM - Wednesday, 17 June 2026 | 08:30 AM

Background
Sesar Sausu Picu Gempa M 6,7 di Palu, Berikut 5 Fakta Ilmiah dari BMKG
Gempa Palu (Media Indonesia /)

Aktivitas tektonik di wilayah pedalaman Pulau Sulawesi kembali menjadi sorotan intensif para ahli geofisika dan kebencanaan nasional pasca-terjadinya guncangan tektonik kuat yang melanda kawasan perkotaan. Peristiwa kegempaan bermagnitudo enam koma tujuh yang berpusat di sekitar Kota Palu tersebut memicu kepanikan massal serta mendorong dilakukannya kajian mitigasi struktural yang masif di tingkat tapak. Guna memberikan pencerahan ilmiah dan meluruskan kesimpangsiuran informasi di ruang publik, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika merilis lima fakta penting terkait fenomena geologis yang dipastikan dipicu oleh pergerakan aktif struktur patahan Sesar Sausu tersebut.

Fakta pertama yang diungkap oleh para peneliti seismologi bertumpu pada identifikasi akurat mengenai parameter magnitudo dan kedalaman pusat gempa bumi yang terjadi. Guncangan tektonik berkekuatan magnitudo enam koma tujuh ini diklasifikasikan sebagai jenis gempa bumi dangkal akibat hiposenternya yang berada pada kedalaman kurang dari dua puluh kilometer di bawah permukaan tanah. Karakteristik kedalaman yang sangat dangkal tersebut menjadi faktor determinan utama mengapa energi getaran yang dirasakan oleh masyarakat di permukaan bumi menjadi sangat destruktif dan memicu kerusakan struktur bangunan sipil secara meluas.

Selanjutnya, fakta kedua mengupas secara spesifik mengenai peran mekanis Sesar Sausu sebagai generator utama dari aktivitas pelepasan energi tektonik kali ini. Para pakar geodesi menjelaskan bahwa Sesar Sausu merupakan salah satu struktur patahan aktif di Sulawesi Tengah yang memiliki karakteristik pergerakan geser mendatar atau strike-slip. Selama beberapa dekade terakhir, akumulasi tegangan batuan pada jalur retakan ini terus mengalami peningkatan secara konstan, hingga akhirnya mencapai titik jenuh mekanis dan memicu patahan batuan secara mendadak yang memanifestasikan diri dalam bentuk gelombang seismik berkekuatan masif.

Fakta ketiga yang menjadi perhatian serius dinas pemadam kebakaran dan penyelamatan setempat adalah pola sebaran dampak guncangan yang diukur melalui skala intensitas kemiringan tanah. Berdasarkan pemetaan makroseismik, getaran gempa bumi ini dirasakan paling kuat di wilayah pemukiman yang berdiri di atas lapisan tanah lunak atau aluvial di sekitar Lembah Palu. Kondisi geomorfologi lokal tersebut secara mekanis mengamplifikasi atau memperkuat jalannya gelombang gempa, sehingga memicu kerusakan structural pada fasilitas publik, retakan masif pada akses jalan raya, hingga memicu insiden longsoran tanah skala kecil di area perbukitan terjal.

Sementara itu, fakta keempat menegaskan kepastian status keamanan perairan terkait ada tidaknya potensi bencana sekunder berupa gelombang pasang tsunami. Berdasarkan pemodelan numerik yang dilakukan sesaat setelah parameter gempa terdeteksi, otoritas terkait menyatakan bahwa gempa bumi M 6,7 ini tidak berpotensi memicu tsunami karena pusat patahan batuan berada sepenuhnya di wilayah daratan. Penegasan ilmiah ini dinilai sangat krusial oleh para sosiolog kebencanaan untuk meredam kepanikan horizontal di kalangan masyarakat pesisir yang masih memiliki trauma psikologis mendalam akibat bencana geologis beberapa tahun silam.

Sebagai poin penutup, fakta kelima menyoroti terjadinya serangkaian aktivitas gempa susulan atau aftershocks yang terekam secara konstan oleh jaringan seismograf di sekitar episenter. Fenomena munculnya puluhan gempa susulan dengan magnitudo yang kian mengecil tersebut dinilai para ahli geologi sebagai proses alami pengosongan sisa energi batuan guna mencapai kembali titik kesetimbangan tektonik yang baru. Melalui diseminasi lima fakta geologis ini, seluruh elemen masyarakat diimbau untuk tidak mempercayai berita bohong yang tidak dapat dipertanggungjawabkan serta terus meningkatkan literasi bangunan tahan gempa demi mewujudkan ketahanan komunitas yang tangguh bencana di masa depan.