Rabu, 17 Juni 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Jangan Biarkan Air Hujan Terbuang, Ini Cara Mudah Bikin Lubang Biopori di Rumah Penyelamat Kekeringan

Admin WGM - Wednesday, 17 June 2026 | 12:00 PM

Background
Jangan Biarkan Air Hujan Terbuang, Ini Cara Mudah Bikin Lubang Biopori di Rumah Penyelamat Kekeringan
Biopori (DLH Buleleng /)

Masalah penurunan muka air tanah yang dibarengi dengan ancaman kekeringan lokal di wilayah perkotaan kini memicu perhatian serius dari berbagai kalangan pengamat lingkungan dan tata kota. Fenomena ini diperparah oleh masifnya alih fungsi lahan menjadi area pemukiman kedap air yang menutup akses infiltrasi air ke dalam lapisan bumi. Menanggapi urgensi tersebut, dinas lingkungan hidup bersama para pakar hidrologi gencar menyosialisasikan langkah mitigasi mandiri yang dapat diaplikasikan langsung oleh masyarakat di tingkat domestik. Solusi taktis tersebut diwujudkan melalui panduan praktis pembuatan sumur resapan dan lubang biopori di area pekarangan rumah sebagai metode efektif untuk menabung air hujan sekaligus menjaga stabilitas ketersediaan air tanah lokal.

Para ahli teknik penyehatan lingkungan memaparkan bahwa lubang resapan biopori merupakan teknologi tepat guna sederhana yang memanfaatkan aktivitas organisme tanah untuk membuat pori-pori alami di dalam bumi. Secara teknis, pembuatan biopori dilakukan dengan mengebor tanah secara vertikal menggunakan bor tanah silindris hingga kedalaman seratus sentimeter dengan diameter sekitar sepuluh sentimeter. Setelah pipa paralon berlubang dimasukkan ke dalam tanah untuk menjaga dinding lubang agar tidak longsor, rongga tersebut diisi penuh dengan sampah organik rumah tangga seperti sisa sayuran dan dedaunan kering secara berkala guna memancing aktivitas cacing tanah yang akan membentuk jaringan terowongan mikro penangkap air.

Sementara itu, untuk kapasitas penampungan air hujan yang jauh lebih besar, pembuatan sumur resapan menjadi opsi struktural yang sangat direkomendasikan pada area pekarangan yang memiliki ruang lebih luas. Berbeda dengan biopori, sumur resapan dibuat dengan menggali tanah berbentuk silinder atau persegi dengan diameter satu hingga satu setengah meter dan kedalaman mencapai dua hingga tiga meter, tergantung pada kondisi tinggi muka air tanah setempat. Dinding galian dipasang buis beton berpori atau susunan batu bata tanpa plester, sedangkan bagian dasarnya diisi dengan lapisan material penyaring seperti batu koral, ijuk, dan pasir bersih untuk menyaring polutan sebelum air hujan meresap ke dalam lapisan akuifer.

Dampak positif dari penggalakan gerakan pembuatan kantung-kantung resapan air di area domestik ini menurut para sosiolog perkotaan memiliki korelasi linear terhadap penurunan risiko banjir genangan di kawasan padat penduduk. Ketika air hujan dari atap rumah dialirkan langsung ke dalam sumur resapan atau lubang biopori alih-alih dibuang ke selokan umum, beban saluran drainase kota akan berkurang secara drastis saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Pada saat yang sama, air yang berhasil ditabung di dalam tanah selama musim penghujan akan menjadi cadangan hidrologis yang sangat vital untuk menjaga sumur-sumur dangkal milik warga agar tidak mengering saat musim kemarau tiba.

Komunitas penggiat lingkungan bersama pemerintah kelurahan kini terus mendorong penguatan literasi konservasi air ini melalui penyelenggaraan lokakarya praktis dan penyediaan alat bor biopori gratis yang dapat digunakan secara bergantian oleh warga. Sinergi ini dibentuk untuk menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa urusan pengelolaan air bukan hanya tanggung jawab pemerintah daerah semata, melainkan kontribusi aktif dari setiap rumah tangga. Dukungan dari kalangan arsitek lanskap dalam mengintegrasikan sistem resapan air ke dalam desain rumah minimalis modern juga dinilai sangat strategis untuk mengubah persepsi masyarakat agar memandang fasilitas ekologis ini sebagai elemen estetika hunian yang bernilai tinggi.

Melalui diseminasi panduan praktis mengenai optimalisasi pekarangan rumah untuk menabung air ini, seluruh lapisan masyarakat perkotaan diimbau untuk segera mengambil tindakan nyata di lingkungan masing-masing. Kesadaran untuk mengembalikan air hujan ke dalam tanah merupakan fondasi penting dalam menjaga keseimbangan siklus hidrologi di tengah laju pembangunan perkotaan yang serbacepat. Dengan konsisten membuat sumur resapan dan lubang biopori secara masif di setiap jengkal lahan tersisa, peradaban modern tidak hanya berhasil memitigasi bencana kekeringan secara mandiri, melainkan juga ikut merawat kelestarian sumber daya air demi keberlanjutan hidup generasi masa depan.