Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Health

Jangan Salah Diagnosis! Kenali Beda Asam Lambung Biasa dengan GERD yang Kronis

Admin WGM - Sunday, 25 January 2026 | 04:05 PM

Background
Jangan Salah Diagnosis! Kenali Beda Asam Lambung Biasa dengan GERD yang Kronis
Foto Lambung (Unsplash Julien Tromeur/)

Istilah "asam lambung" dan GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) kerap digunakan secara bergantian oleh masyarakat awam untuk menggambarkan gangguan pencernaan. Namun, para praktisi kesehatan menegaskan bahwa kedua kondisi tersebut memiliki perbedaan signifikan, baik dari segi frekuensi maupun tingkat keparahan dampak medis yang ditimbulkan pada tubuh.

Memahami perbedaan ini menjadi krusial agar masyarakat tidak salah dalam melakukan penanganan mandiri yang justru berisiko memperburuk kondisi kesehatan saluran cerna.

Mengenal Refluks Asam Lambung Sesaat

Secara medis, asam lambung naik atau refluks asam adalah kondisi ketika cairan asam dari lambung kembali ke kerongkongan (esofagus). Menurut penjelasan dari Cleveland Clinic, kondisi ini merupakan proses fisiologis yang umum terjadi, terutama setelah seseorang mengonsumsi makanan pemicu seperti hidangan pedas, asam, atau berlemak dalam porsi besar.

Gejala utamanya adalah sensasi terbakar di dada (heartburn) atau rasa pahit di pangkal tenggorokan. Namun, pada kondisi refluks asam biasa, gejala ini umumnya bersifat temporer, terjadi sesekali, dan dapat mereda dengan sendirinya atau dengan bantuan antasida dosis rendah.

GERD sebagai Gangguan Kronis

Berbeda dengan refluks biasa, GERD adalah bentuk kronis dan lebih serius dari kenaikan asam lambung. Mengutip standar medis dari Mayo Clinic, seseorang didiagnosis menderita GERD apabila refluks asam terjadi setidaknya dua kali dalam sepekan secara konsisten, atau terjadi sekali dalam sepekan dengan intensitas gejala yang berat hingga mengganggu aktivitas harian.

Penyebab utama GERD adalah melemahnya otot sfingter esofagus bawah (lower esophageal sphincter), yakni katup otot yang berfungsi sebagai pintu satu arah menuju lambung. Ketika katup ini tidak menutup dengan sempurna, asam lambung akan terus-menerus mengiritasi dinding kerongkongan. Jika dibiarkan tanpa penanganan medis, GERD dapat memicu komplikasi serius, termasuk peradangan kerongkongan (esofagitis) hingga risiko kanker esofagus.

Gejala Pembeda dan Penanganan

Selain frekuensi, gejala GERD sering kali disertai keluhan lain yang tidak muncul pada refluks biasa, seperti batuk kronis, gangguan tidur, suara serak, hingga sensasi adanya ganjalan di tenggorokan (globus).

Para ahli medis menyarankan bagi individu yang mengalami gejala lebih dari dua kali seminggu untuk segera melakukan konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam. Penanganan GERD biasanya melibatkan terapi obat-obatan penekan asam dalam jangka panjang serta perubahan gaya hidup mulai dari Makanan Yang Aman Untuk Gerd yang lebih disiplin dibandingkan penderita asam lambung biasa

Dengan mengenali perbedaan ini, diharapkan masyarakat lebih waspada dalam membedakan gangguan pencernaan ringan dengan kondisi kronis yang memerlukan intervensi medis berkelanjutan.