Childhood Core: Mengapa Kita (Orang Dewasa) Terobsesi dengan Mainan Lagi?
Admin WGM - Tuesday, 10 February 2026 | 05:33 PM


Pernahkah kamu melihat antrean panjang di mal, yang ternyata bukan untuk diskon baju, melainkan demi boneka monster kecil bernama Labubu? Atau mungkin kamu melihat teman sekantormu yang terlihat sangat serius, tapi diam-diam menyembunyikan koleksi kartu Pokemon atau Hot Wheels di laci mejanya?
Selamat datang di era "Childhood Core". Di mana batas antara mainan anak-anak dan koleksi orang dewasa semakin kabur. Tapi, apakah ini hanya tren konsumerisme, atau ada sesuatu yang lebih dalam yang sedang kita cari, Winners?
1. "Inner Child" yang Butuh Pelukan
Dunia kerja itu melelahkan, bukan? Antara target yang menumpuk, deadline yang mepet, dan tagihan yang terus datang.
- Kompensasi Masa Kecil: Bagi banyak orang, mengoleksi mainan adalah cara "menyembuhkan" masa lalu. Mungkin dulu kamu sangat menginginkan sebuah mainan tapi orang tua tidak mampu membelikannya. Sekarang, dengan gaji sendiri, membeli mainan tersebut adalah cara kamu memanjakan diri sendiri yang dulu pernah kecewa.
2. Mainan sebagai "Obat" Stres (Therapeutic Play)
Ada alasan ilmiah di balik ini, Winners. Memegang benda fisik yang lucu, berwarna cerah, atau punya tekstur unik bisa memicu hormon dopamin.
- Escapism: Saat kamu menyusun LEGO atau menata figurin Labubu di rak, otakmu sejenak "beristirahat" dari urusan kantor. Itu adalah momen pelarian yang sehat ke dunia yang lebih sederhana, di mana masalah terbesarmu hanyalah bagian mana yang belum terpasang.
3. Komunitas dan Identitas Baru
Dulu, orang dewasa yang main boneka mungkin dianggap "aneh". Sekarang? Itu adalah tiket masuk ke komunitas sosial yang solid.
- Social Currency: Koleksi mainan kini menjadi topik obrolan yang seru. Bergabung dalam grup kolektor atau pamer koleksi di media sosial memberikan rasa kepemilikan (sense of belonging). Ini bukan lagi soal mainannya, tapi soal siapa saja yang punya minat yang sama dengan kamu.
4. Nilai Investasi yang Menggiurkan
Jangan salah, Winners, "bermain" sekarang juga bisa jadi bisnis.
- Banyak mainan yang harganya melonjak berkali-kali lipat dalam hitungan bulan. Bagi sebagian orang, membeli mainan edisi terbatas adalah bentuk investasi alternatif selain saham atau emas. Jadi, hobi ini punya alasan logis untuk dompet kamu juga!
Pada akhirnya, menjadi dewasa tidak berarti kita harus mematikan sisi kekanak-kanakan kita. Mengoleksi mainan adalah cara kita tetap terhubung dengan rasa kagum dan kegembiraan sederhana yang sering hilang di tengah tekanan hidup. Selama tidak mengganggu stabilitas finansialmu, go ahead, Winners! Belilah mainan itu dan biarkan "anak kecil" di dalam dirimu tersenyum kembali.
Next News

Alasan Juni Disebut Sebagai 'Bulan Bung Karno', Saksi Tiga Tanggal Bersejarah Bangsa
7 days ago

Belum Banyak yang Tahu! Ini Silsilah Pekalongan sebagai Pusat Industri Gula Zaman Kolonial
7 days ago

Belum Banyak yang Tahu! Ini Panduan Berburu Kain ATBM yang Bernilai Tinggi di Pekalongan
7 days ago

Sering Keliru? Ini Cara Membedakan Batik Tulis, Cap, dan Print ala Pengrajin Pekalongan
7 days ago

Sisi Lain Sejarah: Teka-teki Hilangnya Nama Tan Malaka dari Buku Sekolah Zaman Orde Baru
8 days ago

Lolos dari Buruan Intelijen Dunia, Ini 11 Nama Samaran Legendaris Tan Malaka!
8 days ago

Hari Lahir Pancasila: Begini Cara Terapkan Sila 'Persatuan Indonesia' di Kolom Komentar Media Sosial
9 days ago

Kenapa Umat Buddha Pakai Baju Putih Saat Waisak? Ternyata Ini Makna di Baliknya!
10 days ago

Jadi Magnet Spiritual Global, Ini Alasan Candi Borobudur Menjadi Pusat Waisak Dunia
10 days ago

Mengenal Konsep 'Anicca' Saat Waisak: Cara Filosofi Ketidakekalan Atasi Ketidakpastian Hidup
10 days ago





