Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Culture

Gak Nyangka! 5 Makanan Enak Ini Ternyata 'Anak Kandung' Akulturasi Tiongkok dan Belanda

Admin WGM - Wednesday, 18 February 2026 | 06:39 PM

Background
Gak Nyangka! 5 Makanan Enak Ini Ternyata 'Anak Kandung' Akulturasi Tiongkok dan Belanda
Bakso (Detik food/)

Sejarah kuliner nusantara adalah sejarah tentang adaptasi. Masakan Indonesia tidak lahir dalam ruang hampa; ia adalah produk dari pertemuan antarbangsa yang berlangsung selama berabad-abad. Pengaruh Tiongkok membawa teknik menumis dan penggunaan mi, sementara pengaruh Belanda membawa tradisi pengolahan daging dan penggunaan produk susu.

Mari kita telusuri makanan apa saja yang menjadi bukti nyata dari akulturasi tersebut:

1. Bakso: Warisan Kasih Sayang dari Tiongkok

Bakso hampir bisa ditemukan di setiap sudut jalanan Indonesia. Namun, nama "Bakso" sendiri berasal dari bahasa Hokkien, yakni Bak-So.

  • Sejarahnya: Bak berarti daging dan So berarti mie atau sup. Di negeri asalnya, bakso biasanya dibuat dari daging babi. Ketika masuk ke nusantara yang mayoritas penduduknya Muslim, bahan utamanya diadaptasi menggunakan daging sapi, ikan, atau ayam. Kuah bening dan penggunaan mi kuning adalah ciri khas pengaruh Tiongkok yang masih kental hingga kini.

2. Selat Solo: "Steak" Eropa Rasa Jawa

Jika kamu berkunjung ke Solo, kamu akan menemukan hidangan bernama Selat Solo yang menyerupai bistik. Ini adalah contoh sempurna akulturasi dengan budaya Belanda.

  • Sejarahnya: Namanya berasal dari kata "Slacht" (penyembelihan) atau merujuk pada "Sla" (selada). Di masa kolonial, kaum bangsawan Belanda ingin memakan bistik daging dengan sayuran. Namun, orang Jawa mengadaptasinya dengan menambahkan bumbu manis seperti kecap dan rempah lokal agar lebih sesuai dengan lidah pribumi. Hasilnya adalah perpaduan unik antara gaya makan Eropa dan bumbu Jawa.

3. Bakpao dan Bakpia: Si Putih dan Si Manis dari Tiongkok

Dua kudapan ini adalah oleh-oleh ikonik dari banyak daerah di Indonesia. Keduanya memiliki akar kata yang sama, yaitu Bak (daging).

  • Sejarahnya: Bakpao (Pao berarti bungkusan) awalnya berisi daging babi cincang. Di Indonesia, isiannya berkembang menjadi kacang hijau, cokelat, hingga ayam. Begitu juga dengan Bakpia, yang aslinya adalah kue berisi daging, namun di Yogyakarta ia bertransformasi menjadi kue kering manis berisi kacang hijau yang kita kenal sekarang.

4. Perkedel: Adaptasi dari Frikadel Belanda

Hampir setiap rumah di Indonesia menyajikan perkedel sebagai pelengkap nasi. Nama "Perkedel" adalah hasil lidah lokal yang mencoba melafalkan kata Belanda, "Frikadel".

  • Sejarahnya: Di Belanda, frikadel adalah bola daging cincang yang digoreng. Karena harga daging mahal di masa penjajahan, masyarakat lokal berkreasi dengan mencampurkan kentang tumbuk sebagai bahan utama dan sedikit daging sebagai penyedap. Adaptasi cerdik inilah yang membuat perkedel menjadi makanan merakyat di Indonesia.

5. Semur: Berasal dari Kata "Smoor"

Semur adalah hidangan daging atau telur dengan kuah cokelat pekat yang manis. Meskipun terasa sangat "Indonesia," teknik ini berasal dari Belanda.

  • Sejarahnya: Kata semur berasal dari bahasa Belanda "Smoor" yang berarti teknik memasak dengan cara merebus lama di atas api kecil (stewing). Orang Belanda menggunakan teknik ini untuk memasak daging dengan tomat dan bawang. Di tangan orang Indonesia, hidangan ini diperkaya dengan kecap manis dan rempah seperti cengkih serta pala, menjadikannya hidangan wajib di acara-acara besar.

Pertemuan budaya dalam sepiring makanan mengajarkan kita tentang toleransi dan kreativitas. Kita tidak hanya mengambil resep mereka secara mentah, tetapi mengolahnya kembali dengan kekayaan alam yang ada di bumi nusantara. Akulturasi ini membuktikan bahwa perbedaan tidak selalu memicu konflik; terkadang, perbedaan justru menghasilkan kelezatan baru yang bisa dinikmati oleh semua orang.

Makanan Indonesia adalah sebuah mosaik sejarah yang luas. Dari bakso yang bercerita tentang imigrasi Tiongkok hingga perkedel yang mengisahkan masa kolonial Belanda, setiap suapan adalah perjalanan melintasi waktu. Mengenal asal-usul makanan ini membuat kita lebih menghargai keberagaman identitas bangsa yang menyatu harmonis dalam cita rasa kuliner kita sehari-hari.