Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Culture

Sura dan Baya Hingga Sangkuriang, Cek Asal-Usul Nama Kotamu yang Penuh Legenda

Admin WGM - Wednesday, 18 February 2026 | 05:35 PM

Background
Sura dan Baya Hingga Sangkuriang, Cek Asal-Usul Nama Kotamu yang Penuh Legenda
Kota Surabaya (Institut Kesehatan dan Bisnis Surabaya /)

Nama sebuah kota adalah doa dan pengingat akan peristiwa besar yang pernah terjadi di sana. Di balik gedung-gedung pencakar langit yang kini berdiri, terkubur narasi kepahlawanan dan mitos yang diwariskan turun-temurun. Mari kita telusuri asal-usul beberapa kota ikonik Indonesia:

1. Surabaya: Duel Maut Penguasa Air

Salah satu legenda paling populer adalah asal-usul nama Surabaya. Konon, dahulu terjadi pertarungan hebat antara Ikan Hiu (Sura) dan Buaya (Baya).

  • Kisah Legendanya: Keduanya bertarung memperebutkan wilayah kekuasaan yang tak kunjung usai, hingga akhirnya mereka bersepakat membagi wilayah: Sura di laut dan Baya di sungai. Namun, Sura melanggar janji dengan mencari mangsa di muara sungai, memicu perkelahian yang sangat sengit hingga air berubah menjadi merah karena darah.
  • Makna Filosofisnya: Secara historis, "Sura" berarti selamat dan "Baya" berarti bahaya. Maka Surabaya secara harfiah berarti "Selamat dalam menghadapi bahaya", merefleksikan keberanian warganya saat melawan serangan tentara Mongol hingga penjajah di masa mendatang.

2. Bandung: Bendungan dan Perahu Sakti

Ibu kota Jawa Barat ini memiliki asal-usul nama yang erat kaitannya dengan kondisi geografis masa lalu dan legenda Sangkuriang.

  • Kisah Legendanya: Nama Bandung dipercaya berasal dari kata "Bendung" atau "Bendungan". Legenda menyebutkan bahwa Sungai Citarum dibendung oleh Sangkuriang untuk membuat danau purba demi memenuhi syarat pernikahan dari Dayang Sumbi.
  • Fakta Sejarahnya: Dalam versi lain, Bandung berasal dari "Perahu Bandung", yaitu dua perahu yang diikat berdampingan yang digunakan oleh Bupati Bandung, R.A. Wiranatakusumah II, saat menyusuri Citarum untuk mencari lokasi ibu kota baru. "Bandung" dalam bahasa Sunda juga berarti berpasangan atau berdampingan.

3. Medan: Dari Medan Perang ke Kota Perdagangan

Medan memiliki sejarah toponimi yang unik karena pengaruh bahasa dan peristiwa sejarah di Tanah Deli.

  • Kisah Sejarahnya: Nama Medan berasal dari bahasa Arab "Maidan" yang berarti tanah lapang atau alun-alun. Namun, ada pula pendapat bahwa nama ini berasal dari bahasa Karo, "Madan", yang artinya menjadi sembuh.
  • Legenda Lokal: Konon, dahulu daerah ini merupakan "Medan Perang" antara Kesultanan Aceh dan kerajaan-kerajaan lokal. Namun, sejarah resminya merujuk pada tahun 1590 ketika Guru Patimpus Pelawi membuka sebuah perkampungan yang kemudian berkembang menjadi titik temu berbagai budaya.

4. Banyuwangi: Harapan dan Bukti Kesetiaan

Kota di ujung timur Pulau Jawa ini memiliki sejarah nama yang sangat mengharukan dan dramatis.

  • Kisah Legendanya: Alkisah, seorang putri bernama Sri Tanjung dituduh selingkuh oleh suaminya, Raden Sidopekso, karena hasutan jahat seorang Raja. Sebelum dibunuh oleh suaminya sendiri, Sri Tanjung berpesan: "Jika darahku berbau busuk maka aku berkhianat, namun jika berbau harum maka aku suci."
  • Asal Namanya: Begitu Sri Tanjung dibunuh dan jasadnya dilempar ke sungai, tiba-tiba air sungai tersebut mengeluarkan aroma yang sangat wangi. "Banyu" berarti air dan "Wangi" berarti harum. Raden Sidopekso pun menyesal seumur hidup karena telah membunuh istrinya yang setia.

5. Jayapura: Kota Kemenangan

Jayapura memiliki sejarah pergantian nama yang cukup sering, mencerminkan dinamika politik di tanah Papua.

  • Sejarah Nama: Didirikan oleh Kapten Sachse dari Belanda pada 1910 dengan nama Hollandia. Setelah integrasi ke Indonesia, namanya sempat berubah menjadi Kota Baru dan Sukarnopura.
  • Arti Namanya: Akhirnya pada tahun 1968, namanya ditetapkan menjadi Jayapura. Diambil dari bahasa Sanskerta, "Jaya" berarti kemenangan dan "Pura" berarti kota. Nama ini dipilih untuk melambangkan kota kemenangan atau keberhasilan.

Mengetahui asal-usul nama kota membuat kita menyadari bahwa setiap tempat yang kita pijak memiliki jiwa. Legenda-legenda tersebut, terlepas dari fakta atau fiksi, merupakan cara leluhur kita menyampaikan nilai-nilai moral, seperti pentingnya kesetiaan (Banyuwangi) atau keberanian (Surabaya). Dengan memahami sejarahnya, kita tidak lagi melihat sebuah kota hanya sebagai tumpukan beton, melainkan sebagai warisan budaya yang harus dijaga identitasnya.

Nama-nama kota besar di Indonesia adalah perpaduan antara keindahan bahasa Sanskerta, dialek lokal, dan romansa legenda. Dari pertarungan satwa hingga pembuktian cinta, setiap nama mengisahkan jati diri masyarakatnya. Mengenal sejarah ini adalah langkah pertama untuk lebih mencintai dan menghargai keberagaman nusantara yang tak ada habisnya.