Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Culture

Lebih dari Sekadar Dongeng, Ini Rahasia di Balik Seragamnya Nilai Moral Cerita Rakyat Indonesia

Admin WGM - Wednesday, 18 February 2026 | 07:32 PM

Background
Lebih dari Sekadar Dongeng, Ini Rahasia di Balik Seragamnya Nilai Moral Cerita Rakyat Indonesia
Tangkuban Prahu (Tiket.com /)

Cerita rakyat atau folklore bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Di masa lalu, ketika institusi pendidikan formal belum merata, cerita rakyat berfungsi sebagai "kurikulum karakter" yang sangat efektif. Para leluhur menggunakan narasi sebagai alat kontrol sosial untuk membentuk perilaku generasi penerus.

Ada beberapa alasan mendasar mengapa pesan moral dalam cerita rakyat kita sering kali identik satu sama lain:

1. Nilai Kolektivisme dan Penghormatan pada Orang Tua

Masyarakat nusantara dikenal dengan budaya kolektif, di mana keharmonisan keluarga adalah segalanya. Pesan moral tentang "kualat" atau durhaka kepada orang tua muncul di hampir setiap daerah—seperti Malin Kundang (Minangkabau), Batu Menangis (Kalimantan), atau Legenda Pohon Enau (Sulawesi).

  • Alasannya: Pesan ini bertujuan untuk menjaga struktur sosial. Dalam masyarakat agraris dan maritim kuno, penghormatan kepada orang tua dan sesepuh adalah kunci stabilitas komunitas. Cerita-cerita ini berfungsi sebagai peringatan keras bahwa melupakan asal-usul dan membangkang pada orang tua akan mendatangkan kutukan alam.

2. Hubungan Manusia dengan Alam (Mitigasi Bencana)

Banyak cerita rakyat kita yang menjelaskan asal-usul sebuah tempat, seperti Danau Toba atau Tangkuban Perahu. Pesan moralnya selalu berputar pada pelarangan merusak janji atau melanggar pantangan alam.

  • Alasannya: Nenek moyang kita hidup berdampingan dengan alam yang ganas (gunung berapi dan lautan). Pesan moral yang sama tentang "menjaga janji dengan alam" adalah cara tradisional untuk mengajarkan rasa hormat terhadap kekuatan ekologi. Jika alam dirusak atau pantangan dilanggar, maka bencana (seperti banjir atau letusan gunung) akan terjadi.

3. Kemenangan Akal atas Kekuatan Fisik

Tokoh seperti Si Kancil di Jawa, Pelanduk di Sumatera, atau Kancil di daerah lain sering digambarkan mengalahkan hewan yang lebih besar seperti harimau atau buaya.

  • Alasannya: Ini merefleksikan posisi masyarakat nusantara yang sering kali berada di bawah tekanan (baik penguasa maupun keadaan alam). Pesan moral "kecerdikan mengalahkan kekuatan" menjadi simbol harapan bahwa dengan kecerdasan dan kreativitas, seseorang yang kecil atau lemah sekalipun bisa bertahan hidup dan meraih kemenangan.

4. Konsep Tabur Tuai (Karma Lokal)

Hampir semua cerita rakyat kita memiliki akhir di mana tokoh jahat akan celaka dan tokoh baik akan bahagia.

  • Alasannya: Ini adalah bentuk edukasi mengenai hukum sebab-akibat. Dalam budaya nusantara, konsep ngundhuh wohing pakarti (memetik buah dari perbuatan) adalah nilai universal. Cerita rakyat memastikan bahwa norma-norma kejujuran, kerendahan hati, dan ketulusan tetap terjaga di tengah masyarakat melalui gambaran akhir cerita yang adil.

Warisan yang Melampaui Sekat Geografis

Kesamaan pesan moral ini menunjukkan bahwa secara psikologis dan kultural, bangsa Indonesia telah "bersatu" jauh sebelum negara ini terbentuk secara formal. Kita berbagi ketakutan yang sama (ketakutan akan durhaka), berbagi harapan yang sama (harapan akan keadilan), dan memiliki cara yang sama dalam menghargai keajaiban alam.

Cerita rakyat adalah cermin dari jiwa sebuah bangsa. Meski latarnya berbeda—ada yang di pegunungan, ada yang di pesisir—hati dari setiap cerita tetaplah sama: sebuah ajakan untuk menjadi manusia yang beretika, tahu berterima kasih, dan selaras dengan semesta. Dengan menjaga cerita rakyat, kita sebenarnya sedang menjaga kompas moral yang telah menyelamatkan peradaban kita selama ribuan tahun.