Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Culture

Lebih dari Sekadar Estetika, Ini Alasan Merah dan Emas Jadi 'Warna Wajib' Tradisi Tionghoa

Admin WGM - Thursday, 19 February 2026 | 10:49 AM

Background
Lebih dari Sekadar Estetika, Ini Alasan Merah dan Emas Jadi 'Warna Wajib' Tradisi Tionghoa
Imlek (Liputan 6 /)

Bagi masyarakat Tionghoa, warna berkaitan erat dengan teori Lima Unsur (Wu Xing) yang terdiri dari air, kayu, api, tanah, dan logam. Setiap warna mewakili elemen tertentu yang dipercaya dapat memengaruhi aliran energi dalam kehidupan manusia. Di antara spektrum warna yang ada, merah dan emas menempati kasta tertinggi dalam hierarki nilai sosial dan spiritual.

Mengapa Merah dan Emas Selalu Ada?

Dominasi kedua warna ini dapat ditelusuri melalui mitologi kuno dan sejarah kekaisaran yang membentuk fondasi budaya Tiongkok hingga saat ini:

Merah: Simbol Kehidupan dan Pengusir Keburukan Warna merah melambangkan elemen api. Dalam tradisi Tionghoa, merah adalah simbol kebahagiaan, gairah, dan keberuntungan. Secara mitologis, warna merah dikaitkan dengan legenda Nian, seekor monster yang muncul setiap awal tahun untuk memangsa ternak dan manusia. Masyarakat menemukan bahwa Nian takut pada warna merah dan bunyi ledakan. Sejak saat itu, merah digunakan sebagai "perisai" untuk mengusir nasib buruk dan energi negatif. Inilah alasan mengapa angpao, lampion, dan pakaian pernikahan Tionghoa didominasi warna merah.

Emas: Simbol Kejayaan dan Keagungan Kaisar Emas melambangkan elemen logam dan tanah. Dalam sejarah Tiongkok, kuning atau emas adalah warna eksklusif yang hanya boleh digunakan oleh kaisar. Warna ini melambangkan kemuliaan, kekuasaan, dan kemakmuran finansial. Jika merah adalah harapan akan kebahagiaan, maka emas adalah simbol pencapaian materi dan kedudukan tinggi. Perpaduan merah dan emas menciptakan harmoni visual yang berarti "kebahagiaan yang berujung pada kejayaan."

Daftar Makna Warna Lain dalam Budaya Tionghoa

Selain merah dan emas, warna lain juga memiliki peran penting dalam keseimbangan hidup:

Kuning (Tanah): Sering dianggap sebagai warna paling indah dan netral. Kuning melambangkan pusat alam semesta dan sering digunakan bersama warna merah sebagai pengganti emas untuk melambangkan kebebasan dari urusan duniawi (sering terlihat pada pakaian biksu).

Hijau (Kayu): Melambangkan pertumbuhan, regenerasi, dan harapan. Hijau adalah warna yang membawa kedamaian dan kesehatan. Namun, terdapat tabu unik yakni "topi hijau" yang dalam bahasa kiasan Tionghoa bermakna pengkhianatan dalam rumah tangga.

Hitam (Air): Mewakili pengetahuan dan otoritas. Meski di Barat hitam sering dikaitkan dengan kedukaan, dalam budaya Tionghoa kuno, hitam dianggap sebagai raja warna sebelum akhirnya digantikan oleh kuning kaisar.

Putih (Logam): Berbeda dengan budaya Barat, putih dalam tradisi Tionghoa klasik adalah warna duka dan kematian. Warna ini melambangkan kekosongan dan biasanya digunakan dalam upacara pemakaman.

Makna Psikologis di Era Modern

Di zaman modern, penggunaan warna merah dan emas telah bertransformasi menjadi strategi psikologis untuk membangun optimisme. Saat seseorang dikelilingi oleh warna merah yang cerah dan kilauan emas, secara bawah sadar muncul perasaan semangat dan kepercayaan diri bahwa tahun yang akan datang akan jauh lebih baik. Ini adalah bentuk "terapi visual" yang telah dipraktikkan selama ribuan tahun.

Warna merah dan emas dalam budaya Tionghoa adalah bentuk pernyataan sikap terhadap hidup: sebuah perayaan atas kemenangan melawan ketakutan dan harapan akan masa depan yang berkilau. Dengan memahami arti di balik warna-warna ini, kita dapat melihat bahwa setiap dekorasi yang terpasang bukan sekadar hiasan, melainkan untaian doa yang dipanjatkan agar kehidupan selalu dipenuhi kehangatan dan kemakmuran.