Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Culture

Mengenal Arti 'Pitu' di Nasi Tumpeng, Rahasia Angka 7 yang Penuh Doa dan Pertolongan

Admin WGM - Wednesday, 18 February 2026 | 07:07 PM

Background
Mengenal Arti 'Pitu' di Nasi Tumpeng, Rahasia Angka 7 yang Penuh Doa dan Pertolongan
Tumpeng (Universitas Ciputra /)

Dalam tradisi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, Bali, dan Madura, nasi tumpeng adalah representasi doa yang bisa dimakan. Setiap elemen yang ada di dalam nampan (tampah) tumpeng telah dipikirkan matang-matang untuk menyampaikan pesan spiritual tertentu. Tumpeng sendiri merupakan akronim dari kalimat bahasa Jawa: "Yen metu kudu mempeng" yang berarti "ketika keluar harus dengan sungguh-sungguh."

1. Bentuk Kerucut: Gunung dan Hubungan Vertikal

Bentuk kerucut yang menjulang tinggi pada nasi tumpeng terinspirasi dari bentuk gunung. Dalam kepercayaan kuno, gunung dianggap sebagai tempat tinggal para dewa atau roh leluhur yang suci.

  • Filosofinya: Bentuk yang mengerucut ke atas melambangkan konsep Ketuhanan. Puncak tumpeng merepresentasikan Tuhan Yang Maha Esa sebagai tujuan akhir dari segala doa dan usaha manusia. Semakin ke atas semakin lancip, bermakna bahwa segala sesuatu dalam hidup ini pada akhirnya akan kembali kepada yang satu, yaitu Sang Pencipta.

2. Misteri Angka Tujuh (Pitu) pada Lauk-Pauk

Mungkin kamu sering melihat tumpeng dikelilingi oleh beragam lauk, namun secara tradisional, jumlah lauk tersebut idealnya berjumlah tujuh macam.

  • Filosofinya: Dalam bahasa Jawa, angka tujuh disebut dengan pitu. Angka ini merupakan simbol dari kata pitulungan yang berarti pertolongan. Dengan menyajikan tujuh macam lauk, orang yang mengadakan syukuran sedang memanjatkan doa agar selalu mendapatkan pitulungan atau pertolongan dari Tuhan dalam menghadapi setiap rintangan hidup.

3. Makna Lauk-Pauk Pilihan

Setiap lauk yang mendampingi nasi tumpeng tidak dipilih secara acak. Masing-masing memiliki pesan moral yang kuat:

  • Ayam Jago (Goreng/Ingkung): Melambangkan upaya untuk menghindari sifat-sifat buruk ayam jago, seperti sombong, selalu merasa benar sendiri, dan tidak setia pada pasangan.
  • Ikan Teri/Gereh Petek: Melambangkan kebersamaan dan kerukunan, karena ikan teri selalu berenang dalam kelompok besar.
  • Telur Rebus (Pindang): Biasanya disajikan utuh dengan kulitnya. Maknanya adalah segala sesuatu harus direncanakan secara matang (dikupas) sebelum dilakukan agar membuahkan hasil yang baik.
  • Sayur Urap: Terdiri dari berbagai jenis sayuran yang bermakna keberagaman. Bumbu kelapa atau urap berarti "urip" atau hidup, yang menyebarkan manfaat bagi sekeliling.

4. Cara Memotong Tumpeng yang Benar

Tahukah kamu bahwa memotong puncak tumpeng lalu memberikannya kepada orang terhormat sebenarnya adalah kekeliruan filosofis? Secara tradisional, tumpeng tidak dipotong puncaknya karena puncak itu melambangkan Tuhan.

  • Tradisi Aslinya: Tumpeng seharusnya dimakan bersama-sama mulai dari bagian bawah (dasar). Hal ini melambangkan bahwa manusia harus saling bahu-membahu dan hidup berdampingan di bumi sebelum akhirnya "naik" menuju kesucian. Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi potong tumpeng menjadi simbol penghormatan yang sudah lazim dilakukan.

Nasi tumpeng adalah perpaduan antara seni kuliner dan nilai spiritual yang luhur. Ia mengajarkan kita untuk selalu rendah hati, menjaga kerukunan, dan selalu memohon pertolongan Tuhan dalam setiap langkah. Saat kita menikmati nasi tumpeng, kita tidak hanya sedang mengenyangkan perut, tetapi juga sedang merayakan harmoni antara manusia, semesta, dan Sang Pencipta.