Bukan Sekadar Pasrah, Intip Kekuatan Mental di Balik Filosofi Nrimo Ing Pandum
Admin WGM - Thursday, 19 February 2026 | 09:56 AM


Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang menuntut pencapaian tanpa batas, stres dan kecemasan sering kali menjadi kawan akrab bagi banyak orang. Namun, di tengah gempuran ambisi tersebut, masyarakat Jawa memiliki sebuah "jangkar spiritual" yang telah diwariskan secara turun-temurun untuk menjaga kewarasan dan ketenangan batin. Konsep itu dikenal dengan istilah Nrimo Ing Pandum.
Secara harfiah, Nrimo Ing Pandum berasal dari bahasa Jawa; nrimo berarti menerima, dan ing pandum berarti terhadap pemberian atau jatah. Sering kali, konsep ini disalahartikan sebagai sikap pasrah yang pasif atau kemalasan untuk berusaha. Padahal, makna yang terkandung di dalamnya jauh lebih dalam dan bersifat aktif-psikologis, yang berfungsi sebagai perisai mental menghadapi fluktuasi kehidupan.
Filosofi Menerima dengan Kesadaran Penuh
Filosofi Nrimo Ing Pandum bukanlah bentuk keputusasaan. Sebaliknya, ini adalah sebuah bentuk penerimaan yang disertai dengan kesadaran penuh bahwa manusia hanya memiliki kendali atas usaha, sementara hasil akhir berada di tangan Tuhan atau semesta. Ini adalah sikap ksatria untuk mengakui realitas tanpa harus merasa hancur ketika ekspektasi tidak berjalan beriringan dengan kenyataan.
Orang Jawa memandang kehidupan sebagai sebuah alur yang sudah tertata (paugeran). Ketika seseorang mampu mempraktikkan nrimo, ia sedang melepaskan ego yang sering kali menjadi sumber penderitaan. Dalam psikologi modern, konsep ini sangat selaras dengan prinsip mindfulness dan Radical Acceptance, di mana individu menerima situasi saat ini tanpa menghakimi atau melawannya secara emosional yang destruktif.
Empat Pilar Utama dalam Praktik Nrimo Ing Pandum
Agar konsep ini tidak terjebak dalam stigma kepasrahan buta, terdapat beberapa daftar nilai yang melandasi cara kerja filosofi ini dalam kehidupan sehari-hari:
- Ikhtiar Maksimal Sebelum Penerimaan Seseorang baru bisa dikatakan nrimo apabila ia telah melakukan upaya maksimal (mempeng). Penerimaan dilakukan terhadap hasil, bukan terhadap proses. Jika hasil tidak sesuai dengan kerja keras, maka di situlah Nrimo Ing Pandum bekerja untuk mencegah kekecewaan berlebih.
- Syukur sebagai Fondasi Utama Inti dari filosofi ini adalah rasa syukur. Dengan merasa cukup (semelah), seseorang tidak akan terjebak dalam perlombaan sosial yang melelahkan. Fokusnya beralih dari apa yang tidak dimiliki menjadi menghargai apa yang sudah ada di tangan.
- Pengendalian Diri terhadap Ambisi Nrimo mengajarkan manusia untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Ambisi yang meledak-ledak tanpa kontrol sering kali membuat manusia kehilangan arah. Dengan filosofi ini, ambisi tetap ada, namun ia tidak lagi mendikte kebahagiaan seseorang.
- Kecerdasan Emosional dalam Cobaan Saat tertimpa musibah, orang yang memegang prinsip ini akan berkata, "Iki wis dadi bagianku" (ini sudah menjadi bagianku). Kalimat sederhana ini memiliki kekuatan luar biasa untuk menstabilkan emosi dan membantu seseorang berpikir jernih untuk mencari solusi, alih-alih meratapi nasib.
Dampak Sosial: Menciptakan Masyarakat yang Harmonis
Secara kolektif, konsep Nrimo Ing Pandum menciptakan masyarakat yang lebih stabil dan minim konflik. Ketika setiap individu merasa cukup dengan perannya masing-masing, gesekan sosial akibat rasa iri dan dengki dapat diminimalisasi. Hal ini menjelaskan mengapa di lingkungan masyarakat Jawa tradisional, hubungan bertetangga sering kali terasa sangat rukun dan penuh gotong royong.
Namun, tantangan besar muncul di era digital saat ini. Budaya pamer (flexing) dan standar kesuksesan yang seragam di media sosial sering kali mengaburkan makna "cukup". Generasi muda saat ini ditantang untuk merefleksikan kembali nilai ini; bukan untuk berhenti maju, melainkan untuk memiliki ketahanan mental agar tidak mudah tumbang saat menghadapi kegagalan.
Nrimo Ing Pandum: Sebuah Kekuatan Tersembunyi
Banyak pakar kesehatan mental mulai melirik kearifan lokal seperti ini sebagai terapi untuk mengatasi depresi. Nrimo Ing Pandum mengajarkan manusia untuk memiliki jarak yang sehat dengan masalahnya. Masalah adalah bagian dari hidup, namun ia bukanlah keseluruhan hidup. Dengan menerima "jatah" kesulitan dengan lapang dada, beban emosional yang dirasakan justru akan terasa lebih ringan.
Pada akhirnya, filosofi ini adalah tentang kedaulatan diri. Kita tidak bisa mengatur arah angin, namun kita bisa mengatur layar kapal kita. Nrimo Ing Pandum adalah seni untuk mengatur layar tersebut agar kita tidak tenggelam saat badai datang, dan tetap
Mengenal dan mempraktikkan Nrimo Ing Pandum adalah langkah awal menuju kedamaian batin yang berkelanjutan. Ia adalah rahasia kuno yang tetap relevan untuk menjawab tantangan kesehatan mental di zaman modern. Hidup tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, namun ia selalu memberikan apa yang kita butuhkan untuk bertumbuh sebagai manusia.
Next News

Rahasia di Balik Layar Industri K-Pop: Antara Obsesi Kesempurnaan dan Dominasi Global
3 hours ago

Bukan Sekadar Mentah, Ini Rahasia Teknik Ikejime yang Bikin Ikan Jepang Sangat Nikmat
4 hours ago

Lebih dari Sekadar Estetika, Ini Alasan Merah dan Emas Jadi 'Warna Wajib' Tradisi Tionghoa
4 hours ago

Hargai Tradisi! Ini Daftar Pamali yang Tak Boleh Dilanggar Saat Traveling di Indonesia
5 hours ago

Lebih Mahal dari Emas, Intip Sejarah Kelam di Balik Harumnya Rempah Nusantara
19 hours ago

Lebih dari Sekadar Dongeng, Ini Rahasia di Balik Seragamnya Nilai Moral Cerita Rakyat Indonesia
20 hours ago

Mengenal Arti 'Pitu' di Nasi Tumpeng, Rahasia Angka 7 yang Penuh Doa dan Pertolongan
20 hours ago

Gak Nyangka! 5 Makanan Enak Ini Ternyata 'Anak Kandung' Akulturasi Tiongkok dan Belanda
21 hours ago

Ternyata Bukan Asli Indonesia! Simak Sejarah Panjang Cabai Sampai Jadi Raja Kuliner Kita
21 hours ago

Sura dan Baya Hingga Sangkuriang, Cek Asal-Usul Nama Kotamu yang Penuh Legenda
a day ago





