Jumat, 20 Februari 2026
Walisongo Global Media
Culture

Bukan ke Bali Lagi! Kenapa "Quiet Travel" ke Desa Terpencil Jadi Status Simbol Baru di Tahun 2026?

Admin WGM - Sunday, 15 February 2026 | 06:01 PM

Background
Bukan ke Bali Lagi! Kenapa "Quiet Travel" ke Desa Terpencil Jadi Status Simbol Baru di Tahun 2026?
(rvshare.com/)

Dulu, liburan dianggap sukses kalau kita bisa pamer foto di beach club populer Bali atau antre di kafe hits Jakarta. Tapi masuk ke tahun 2026, trennya berubah total. Postingan di Instagram yang penuh keramaian mulai dianggap "biasa".

Status simbol baru sekarang adalah: Quiet Travel.

Orang-orang paling berpengaruh dan para trendsetter kini lebih memilih menghilang ke desa terpencil di kaki gunung, pesisir yang belum terjamah, atau penginapan di tengah hutan tanpa sinyal internet. Kenapa bisa begitu?

1. Privasi Adalah Kemewahan Tertinggi

Di era di mana kita selalu terpantau secara digital, privasi menjadi barang langka. Pergi ke tempat yang tidak bisa ditemukan di Google Maps atau yang tidak punya titik tag lokasi adalah kemewahan sejati.

  • Vibenya: Semakin sedikit orang yang tahu tempat itu, semakin tinggi "kelas" liburanmu.

2. "Digital Detox" Sebagai Bentuk Flexing

Kalau dulu kita pamer kecepatan internet, sekarang orang pamer "No Signal". Bisa lepas dari koneksi selama 3 hari tanpa takut ketinggalan kerjaan menunjukkan bahwa kamu adalah orang yang sudah "selesai" dengan urusannya. Kamu punya kontrol penuh atas waktumu sendiri—dan itu adalah flexing yang sangat elegan di tahun 2026.

3. Mencari "Authentic Connection"

Budaya Quiet Travel mengutamakan interaksi yang nyata. Alih-alih ngobrol sama barista kafe yang sibuk, para pelancong ini lebih memilih ngopi bareng warga lokal di teras rumah, belajar cara bertani, atau sekadar mendengarkan suara alam. Ada kepuasan batin yang nggak bisa dibeli dengan tiket masuk wahana permainan.

4. Melawan "Burnout" Massal

Dunia di tahun 2026 bergerak sangat cepat dengan bantuan AI dan teknologi yang serba instan. Kecepatan ini bikin orang capek secara mental. Desa terpencil menawarkan sesuatu yang nggak ada di kota: Lambat. Di sana, jam seolah berhenti, dan itu adalah obat paling manjur buat kesehatan mental yang lagi di ambang batas.

Ciri-ciri Destinasi "Quiet Travel" yang Lagi Hits:

  • Akses Sulit: Harus ditempuh lewat jalur darat yang menantang atau perahu kecil.
  • Low-Tech: Listrik terbatas (sering pake solar panel) dan minim layar digital.
  • Farm-to-Table: Makanan yang disajikan adalah hasil panen kebun sendiri atau tangkapan laut hari itu juga.
  • Arsitektur Lokal: Nggak ada gedung beton, melainkan bangunan kayu atau bambu yang menyatu dengan alam.

Dulu kita liburan buat "dilihat", sekarang kita liburan buat "ditemukan"—oleh diri kita sendiri. Quiet Travel bukan berarti kamu nggak punya uang buat ke hotel mewah, tapi kamu punya kedewasaan untuk memilih ketenangan di atas kebisingan.

Jadi, sudah siap buat menghilang sejenak ke desa minggu depan?