Jumat, 20 Februari 2026
Walisongo Global Media
Culture

Budaya Nongkrong di Perpustakaan: Ketika "Cari Ilmu" Jadi "Cari Aesthetic"

Admin WGM - Tuesday, 10 February 2026 | 05:07 PM

Background
Budaya Nongkrong di Perpustakaan: Ketika "Cari Ilmu" Jadi "Cari Aesthetic"
Perpustakaan (dekade.id/)

Kalau dulu kamu diminta ke perpustakaan, mungkin yang terbayang adalah ruangan gelap, bau buku tua, dan petugas yang hobi bilang "Sssttt!" setiap kali ada suara sedikit saja. Tapi coba lihat sekarang, Winners. Perpustakaan kota di Indonesia, seperti Perpustakaan Nasional di Jakarta atau perpustakaan kota lainnya telah bertransformasi menjadi hotspot baru yang nggak kalah keren dari coffee shop di Senopati.

Nongkrong di perpustakaan bukan lagi sekadar soal pinjam buku, tapi sudah menjadi gaya hidup baru yang menggabungkan produktivitas dan estetika. Mari kita bedah fenomena ini!

1. Transformasi Arsitektur: Dari Suram ke Instagrammable

Mengapa sekarang banyak anak muda mau antre masuk perpustakaan? Jawabannya: Desain.

  • Spot Foto Everywhere: Banyak perpustakaan kini mengusung konsep minimalis, modern, dengan pencahayaan alami yang luar biasa. Rak buku yang menjulang tinggi bukan cuma tempat menyimpan ilmu, tapi juga latar belakang sempurna untuk konten TikTok atau Instagram kamu.
  • Fasilitas Kelas Atas: Dari sofa empuk, koneksi Wi-Fi kencang, hingga area lounge yang nyaman. Perpustakaan sekarang didesain agar orang betah berlama-lama, bukan ingin cepat-cepat pulang.

2. Pilihan Baru Tempat Kencan (Study Date)

Siapa bilang kencan harus selalu di mal atau bioskop? Fenomena "Study Date" kini sedang naik daun di kalangan mahasiswa dan pasangan muda.

  • Vibe yang Sehat: Berbagi meja sambil fokus pada laptop masing-masing atau sekadar membaca buku bersama memberikan kesan kencan yang lebih produktif dan "berbobot".
  • Low Budget, High Quality: Di perpustakaan kota, kamu bisa menikmati fasilitas mewah secara gratis atau dengan biaya sangat minim. Pilihan cerdas buat pasangan yang mau tetap update tanpa harus menguras dompet di akhir bulan, kan?

3. Alternatif "Work From Anywhere" (WFA)

Bagi para freelancer atau pekerja kreatif, perpustakaan adalah penyelamat dari kejenuhan bekerja di kamar atau kebisingan kafe.

  • Ketenangan yang Terjamin: Berbeda dengan kafe yang penuh suara mesin kopi dan obrolan orang, perpustakaan menawarkan keheningan yang membantu fokus.
  • Stimulus Kreativitas: Dikelilingi oleh ribuan buku memberikan aura inspirasi yang berbeda. Kalau kamu buntu saat bekerja, tinggal melipir ke rak buku dan menemukan ide baru dalam hitungan menit.

4. Tantangan: Esensi atau Eksistensi?

Tentu ada perdebatan kecil di sini, Winners. Apakah orang-orang datang untuk benar-benar membaca, atau cuma untuk foto-foto lalu pulang? Namun, bagi banyak pengelola, ini adalah langkah awal yang baik. Selama mereka datang, mereka akan mulai melihat buku, dan mungkin suatu saat nanti, mereka akan jatuh cinta kembali pada kegiatan membaca.

Perpustakaan kini telah menjadi ruang publik yang inklusif. Ia bukan lagi "menara gading" yang eksklusif bagi para akademisi, tapi menjadi rumah kedua bagi siapa saja yang mencari ketenangan, produktivitas, atau sekadar sudut foto yang cantik. Jadi, sudahkah kamu menjadwalkan kunjungan ke perpustakaan terdekat minggu ini?