Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Health

Sering Pikun padahal Masih Muda? Kenalan sama Digital Amnesia, Efek Samping AI yang Bikin Otak Jadi 'Malas'!

Admin WGM - Saturday, 07 February 2026 | 10:08 AM

Background
Sering Pikun padahal Masih Muda? Kenalan sama Digital Amnesia, Efek Samping AI yang Bikin Otak Jadi 'Malas'!
Digital Amnesia saat Otak Cenderung Jadi Malas (pexels.com/Amel Uzunovic/)

Pernahkah Winners merasa sangat bergantung pada peta digital untuk menuju lokasi yang sebenarnya sudah sering dikunjungi? Atau mungkin, Winners menyadari bahwa tidak lagi menghafal satu pun nomor telepon orang terdekat karena semuanya telah tersimpan rapi di kontak ponsel? Memasuki tahun 2026, para ilmuwan saraf memperingatkan tentang sebuah fenomena yang kian meluas di masyarakat modern: Digital Amnesia, atau yang secara teknis sering disebut sebagai The Google Effect.

Digital Amnesia bukan berarti kerusakan fisik pada otak, melainkan kecenderungan kognitif untuk melupakan informasi yang dapat dengan mudah ditemukan secara daring atau disimpan dalam perangkat digital. Secara sederhana, otak manusia kini sedang melakukan "outsourcing" memori ke mesin dan kecerdasan buatan (AI).

Sains di Balik Otak yang "Efisien" atau "Malas"?

Otak manusia pada dasarnya adalah organ yang sangat efisien. Secara evolusioner, otak dirancang untuk membuang informasi yang dianggap tidak krusial guna menghemat energi kognitif. Sebuah studi pionir dari Betsy Sparrow (Columbia University) yang dipublikasikan dalam jurnal Science mengungkapkan perilaku unik manusia modern.

Penelitian tersebut menemukan bahwa ketika partisipan yakin sebuah informasi akan tersedia kembali di komputer atau internet, otak mereka cenderung tidak menyimpan fakta tersebut secara mendalam. Sebaliknya, otak justru lebih kuat dalam menyimpan lokasi atau cara mengakses informasi tersebut (misalnya: "Saya bisa mencarinya di ChatGPT atau Google").

Masalahnya, proses mengingat atau retensi adalah latihan vital bagi sinapsis otak. Ketika kita berhenti menghafal atau mencoba mengingat secara manual, jalur-jalur saraf tertentu menjadi lemah karena jarang digunakan. Jalur yang seharusnya digunakan untuk berpikir kritis, melakukan sintesis informasi, dan menghubungkan ide-ide baru menjadi pasif akibat terlalu sering menggunakan jalan pintas digital.

Dampak Masif di Era Generative AI 2026

Hadirnya AI generatif yang semakin canggih pada tahun 2026 membawa tantangan ini ke level yang lebih serius. Jika satu dekade lalu kita mencari informasi di mesin pencari dan masih harus membaca beberapa artikel untuk menemukan jawaban, kini AI memberikan jawaban instan yang sudah "matang".

Dr. Maria Wimber, seorang ahli saraf dari University of Birmingham, menjelaskan bahwa proses mengunggah atau memindahkan beban memori ke perangkat digital dapat menghambat pembentukan memori jangka panjang. "Otak kita belajar melalui pengulangan dan upaya untuk memanggil kembali informasi (retrieval). Jika kita tidak pernah memanggil kembali informasi dari ingatan kita sendiri karena merasa jawaban selalu tersedia di ujung jari, informasi tersebut tidak akan pernah tertanam kuat dalam struktur memori kita," ungkapnya dalam laporan perkembangan kognitif digital.

Tanpa latihan memori yang cukup, kemampuan manusia untuk memecahkan masalah secara mandiri dan kreativitas spontan dikhawatirkan akan menurun. Kita menjadi penonton dari kecerdasan buatan, bukan lagi pemain utama yang memiliki basis pengetahuan internal yang kuat.

Strategi Melawan Digital Amnesia: "Olahraga Otak"

Meskipun teknologi mustahil dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, kita tetap perlu melakukan latihan kognitif agar kemampuan otak tidak menyusut. Berikut adalah beberapa metode praktis yang disarankan oleh para ahli:

  1. Latih Memori Kerja (Working Memory): Cobalah menghafal 3 hingga 5 nomor telepon penting atau cobalah berkendara tanpa bantuan GPS untuk rute yang sudah familiar. Ini melatih hipokampus, bagian otak yang bertanggung jawab atas navigasi dan memori spasial.
  2. Terapkan Metode Active Recall: Setelah membaca artikel atau menonton video edukasi, tutup layar Winners selama 2 menit. Coba tuliskan poin-poin penting yang ingat dalam selembar kertas. Proses "memaksa" otak mencari data di dalam sel memori ini jauh lebih efektif daripada sekadar membaca ulang.
  3. Digital Detox Berkala: Sisihkan waktu harian atau mingguan tanpa perangkat digital sama sekali. Gunakan waktu ini untuk merenung atau memikirkan solusi masalah secara mandiri tanpa bantuan asisten virtual.

Budayakan Menulis Tangan: Riset dari Norwegian University of Science and Technology menunjukkan bahwa menulis dengan tangan melibatkan lebih banyak indra dan menciptakan koneksi saraf yang lebih kompleks di otak dibandingkan sekadar

Teknologi, termasuk AI, seharusnya menjadi ekstensi dari kemampuan manusia, bukan pengganti fungsi dasar otak kita. Dengan memahami mekanisme Digital Amnesia, kita bisa lebih bijak dalam memanfaatkan kecanggihan perangkat pintar tanpa mengorbankan daya ingat dan kecerdasan alami.

Jangan biarkan otak Winners menjadi pasif. Tetaplah menjadi tuan atas ingatan sendiri, karena kreativitas yang paling murni sering kali lahir dari apa yang tersimpan di dalam pikiran, bukan apa yang ada di dalam database mesin.