Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Health

Sering Merasa Dekat sama Artis padahal Gak Kenal? Hati-hati, Mungkin Kamu Terjebak Parasocial Relationship!

Admin WGM - Saturday, 07 February 2026 | 01:37 PM

Background
Sering Merasa Dekat sama Artis padahal Gak Kenal? Hati-hati, Mungkin Kamu Terjebak Parasocial Relationship!
parasocial relationship (Pinterest/Voice/m9QkdlU1F/)

Pernah merasa nyesek banget pas tahu idolamu lagi susah, atau malah emosi saat mereka ketahuan pacaran? Kamu gak sendirian. Memasuki tahun 2026, fitur live streaming dan pesan otomatis dari AI bikin kita merasa 'dekat' banget sama artis. Efeknya, batasan antara dunia nyata dan kehidupan sang idola jadi makin gak jelas, seolah mereka adalah bagian dari keluarga kita sendiri.

Fenomena psikologis ini dikenal sebagai Parasocial Relationship (Hubungan Parasosial). Ini adalah hubungan searah di mana salah satu pihak (penggemar) mencurahkan energi emosional, minat, dan waktu, sementara pihak lainnya (artis/figur publik) sama sekali tidak menyadari keberadaan individu tersebut.

Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh Donald Horton dan Richard Wohl pada tahun 1956. Namun, di era media sosial tahun 2026, intensitasnya berlipat ganda. Berbeda dengan zaman dulu di mana artis terlihat "jauh" di layar bioskop, kini artis hadir di genggaman tangan setiap saat melalui Instagram Story, TikTok, atau siaran langsung yang tampak sangat intim dan personal.

Otak manusia, menurut riset dari Journal of Social and Personal Relationships, terkadang sulit membedakan antara interaksi nyata melalui tatap muka dengan interaksi virtual yang konsisten. Ketika seorang artis berbicara langsung ke kamera ponselnya, otak penggemar bisa memprosesnya sebagai interaksi "satu lawan satu", yang kemudian memicu pelepasan oksitosin dan dopamin, menciptakan perasaan "dekat" dan "akrab".

Secara positif, hubungan parasosial bisa memberikan rasa komunitas dan dukungan emosional. Bagi banyak orang, mengikuti idola yang inspiratif dapat meningkatkan motivasi dan memberikan pelarian yang sehat dari stres sehari-hari.

Namun, sisi gelapnya muncul ketika hubungan ini berubah menjadi obsesif. Fenomena cancel culture yang ekstrem atau perilaku sasaeng (fans fanatik yang melanggar privasi) sering kali berakar dari hubungan parasosial yang tidak sehat. Penggemar mulai merasa "memiliki" sang artis dan menuntut mereka untuk bertindak sesuai ekspektasi pribadi. Ketika idola tersebut tidak memenuhi standar tersebut, penggemar merasa dikhianati secara personal.

Menjaga Batasan yang Sehat di Tahun 2026

Industri hiburan masa kini memang didesain untuk memperkuat ikatan ini karena mendatangkan keuntungan finansial yang besar. Namun, sebagai konsumen konten, kita perlu tetap sadar akan realitas. Berikut adalah cara menjaga kesehatan mental dalam ber-fandom:

  1. Sadar akan 'Komersialisasi Kedekatan': Pahami bahwa banyak interaksi "personal" dari artis adalah bagian dari strategi pemasaran dan manajemen citra.
  2. Batasi Durasi Konsumsi Konten: Jangan biarkan waktu Anda habis hanya untuk mengikuti setiap detik kehidupan idola hingga melupakan kehidupan sosial di dunia nyata.
  3. Hargai Privasi: Ingatlah bahwa idola Anda adalah manusia biasa yang memiliki hak atas kehidupan pribadi yang tidak perlu dibagikan atau dikomentari.

Mengagumi karya seorang artis adalah hal yang menyenangkan dan manusiawi. Hubungan parasosial adalah bagian tak terpisahkan dari industri hiburan modern. Namun, kunci utamanya adalah keseimbangan. Jadikan idola sebagai sumber inspirasi, bukan pusat dari semesta Anda. Di akhir hari, hubungan yang paling nyata dan berharga tetaplah hubungan dengan orang-orang yang benar-benar ada di samping kita.