Penjara Digital, Mengapa Berhenti Membandingkan Diri di Media Sosial Adalah Kunci Kesehatan Mental
Admin WGM - Friday, 13 February 2026 | 03:12 PM


Di era disrupsi digital saat ini, gawai bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan jendela dunia yang terbuka selama dua puluh empat jam. Namun, jendela ini sering kali menampilkan pemandangan yang tidak objektif. Melalui layar ponsel, kita menyaksikan keberhasilan karier kawan lama, liburan mewah kerabat, hingga pencapaian fisik yang tampak sempurna dari orang asing. Tanpa disadari, aktivitas menggulir layar (scrolling) ini kerap menjebak pengguna dalam pusaran perbandingan sosial yang destruktif, yang jika dibiarkan, akan menggerogoti kesehatan mental secara perlahan.
Psikologi mengenal istilah perbandingan sosial ke atas (upward social comparison), yaitu kecenderungan manusia untuk membandingkan dirinya dengan mereka yang dianggap lebih beruntung. Di media sosial, fenomena ini teramplifikasi secara masif karena apa yang ditampilkan oleh pengguna lain bukanlah realitas utuh, melainkan versi kehidupan yang telah dikurasi dan disaring secara ketat. Memahami alasan di balik urgensi menghentikan kebiasaan membandingkan diri ini menjadi langkah awal yang krusial untuk merebut kembali kebahagiaan autentik.
Alasan fundamental pertama adalah adanya ilusi kesempurnaan. Media sosial adalah panggung sandiwara tempat orang-orang hanya memamerkan momen-momen terbaik atau "lembar sorotan" (highlight reel) mereka. Kita sering kali membandingkan kondisi internal kita yang penuh dengan keraguan, kegagalan, dan kekacauan, dengan tampilan eksternal orang lain yang sudah dipoles dengan filter digital. Perbandingan ini tidak adil dan tidak seimbang secara logika. Ketika kita merasa tertinggal, kita sebenarnya sedang membandingkan realitas yang mentah dengan sebuah produk penyuntingan yang matang.
Kedua, kebiasaan membandingkan diri secara terus-menerus dapat memicu gangguan kesehatan mental yang serius, seperti kecemasan kronis dan depresi. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang intensif berkorelasi positif dengan peningkatan kadar hormon kortisol atau hormon stres. Saat seseorang merasa pencapaiannya tidak setara dengan standar semu di internet, kepercayaan dirinya akan merosot. Hal ini menciptakan siklus rasa rendah diri yang menghambat produktivitas nyata di dunia luring. Alih-alih fokus pada pengembangan potensi diri, energi mental justru habis terkuras untuk meratapi nasib yang dianggap kurang beruntung.
Ketiga, fokus pada kehidupan orang lain akan mendistorsi rasa syukur terhadap pencapaian pribadi. Setiap individu memiliki garis waktu atau timeline kehidupan yang berbeda. Keberhasilan seseorang di usia dua puluh lima tahun tidak lantas membuat perjuangan Anda di usia tiga puluh tahun menjadi sia-sia. Dengan berhenti membandingkan diri, Anda memberikan ruang bagi jiwa untuk menghargai setiap progres kecil yang telah dicapai. Rasa cukup adalah benteng terkuat melawan pengaruh negatif algoritma media sosial yang selalu menuntut pengguna untuk menjadi lebih, memiliki lebih, dan tampil lebih.
Selanjutnya, perbandingan di media sosial sering kali memicu perilaku konsumerisme yang tidak sehat. Banyak pengguna merasa harus memiliki barang-barang mewah atau mengikuti gaya hidup tertentu hanya agar terlihat setara di mata pengikutnya. Ini adalah bentuk pengejaran validasi eksternal yang tidak akan pernah berakhir. Berhenti membandingkan diri berarti memutus rantai kebutuhan akan pengakuan orang lain. Hal ini memungkinkan seseorang untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai dan kemampuan finansial pribadinya, tanpa dibayangi rasa takut tertinggal atau yang sering disebut dengan Fear of Missing Out (FOMO).
Terakhir, melepaskan diri dari jeratan perbandingan digital akan mempererat hubungan sosial di dunia nyata. Saat kita tidak lagi sibuk merasa iri pada kehidupan orang lain melalui layar, kita memiliki lebih banyak waktu dan kehadiran mental untuk berinteraksi secara tulus dengan orang-orang di sekitar. Hubungan yang dibangun atas dasar empati dan kehadiran fisik jauh lebih berkualitas daripada sekadar interaksi melalui kolom komentar atau tombol suka yang bersifat dangkal.
Menghentikan kebiasaan ini memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, mengingat algoritma media sosial dirancang untuk mempertahankan atensi kita. Namun, dengan menetapkan batasan waktu penggunaan gawai, melakukan kurasi terhadap akun yang diikuti, serta menanamkan kesadaran bahwa dunia digital hanyalah sekeping fragmen kecil dari realitas, kita dapat menjalani hidup dengan lebih tenang. Kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam validasi ribuan orang asing, melainkan dalam penerimaan penuh terhadap diri sendiri dan rasa syukur atas perjalanan hidup yang unik.
Next News

Anti-Loyo! Strategi Jitu Tetap Fokus dan Produktif di Kantor Tanpa Rasa Ngantuk Saat Puasa
in 3 hours

Kupas Tuntas Menu Sahur Terbaik untuk Redam Asam Lambung Selama Puasa
in 2 hours

Jangan Tunggu Sakit! Simak Trik Diet Anti-Inflamasi Agar Tubuh Gak Gampang Meradang
a day ago

Ternyata Berat Badan Ngaruh ke Jumlah Air Minum, Cek Rumus Praktisnya di Sini!
a day ago

Ternyata Ini Rahasia Awet Muda: Kenali Daftar Makanan yang Ampuh Lawan Peradangan Tubuh
a day ago

Hanya 5 Menit! Trik Sederhana Aktivasi Saraf Vagus buat Usir Stres dan Cemas Berlebihan
2 days ago

Mumpung Masih 20-an! Tabung Kepadatan Tulang dengan Daftar Olahraga Simpel Berikut Ini
2 days ago

Tengkuk Terasa Berat? Waspadai Tanda Tersembunyi Hipertensi di Usia Produktif
2 days ago

Bye Pegal-Pegal! 6 Langkah Setting Meja Kerja Ergonomis Biar Leher Gak Kaku
2 days ago

Mood Sering Berantakan? Coba Cek Pencernaanmu, Bisa Jadi Ususmu Lagi Stres!
2 days ago





