Minggu, 17 Mei 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Nobar Pesta Babi Demi Jaga Kewarasan

Luluk - Friday, 15 May 2026 | 12:19 PM

Background
Nobar Pesta Babi Demi Jaga Kewarasan
Nonton Bareng "Pesta Babi" di Halaman Gedung E UNIKAL, Kamis (14/5) malam. (WGM/Trista)

Di tengah ramainya perbincangan nasional soal pembubaran nonton bareng (nobar) "Pesta Babi" di sejumlah wilayah, pemutaran "Pesta Babi" yang diadakan oleh Konsolidasi Masyarakat Sipil justru disambut antusias oleh masyarakat Pekalongan. Acara yang digelar di halaman Gedung E, Universitas Pekalongan (UNIKAL) pukul 18.00 WIB (14/5) dihadiri oleh hampir 200 orang, baik dari elemen mahasiswa maupun elemen masyarakat. Syakif, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNIKAL mengaku bahwa peserta nobar malam ini melampaui ekspektasi.

"Ekspektasi awal itu paling 50 orang yang datang. Dan ini di luar ekspektasi, ini sekitar hampir 200 orang," ujar Syakif saat diwawancarai, Kamis (14/5) malam.

Film dokumenter karya Dandhy Laksono itu menyoroti persoalan Papua, mulai dari ekspansi proyek industri dan food estate, hilangnya hutan adat, hingga dampaknya terhadap masyarakat lokal. Suasana nobar berlangsung sederhana namun penuh perhatian. Peserta tampak serius mengikuti jalannya film hingga sesi diskusi dimulai. Forum diskusi ini dipandu oleh Imam Nurhuda perwakilan dari Save Pekalongan yang dibantu oleh Nadia Pitaloka perwakilan BEM UNIKAL. Sementara itu, diskusi akan dipantik oleh Rizky Riyansyah dari WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) Jawa Tengah dan Haris Aufa selaku penggerak sosial di Pekalongan.

Film yang bercerita tentang perusakan lingkungan di Papua itu, masih linear dengan kondisi di lingkungan Pekalongan. Hal tersebut disampaikan oleh Syakif, sekaligus menjadi alasan yang melatarbelakangi diadakannya kegiatan tersebut.

"Di pekalongan ini kita coba berikan informasi ke masyarakat umum dan mahasiswa. Yang melatarbelakangi diadakan nobar ini yaitu permasalahan lingkungan, itu tidak hanya dirasakan di Papua sana, tapi di Kota Pekalongan sendiri juga merasakan betul bahwasanya lingkungan kita saat ini bagaimana. Film tersebut juga menjelaskan bahwa kerusakan lingkungan itu tidak hanya disebabkan oleh faktor alam saja, tetapi juga juga faktor non alam. Hal itu kita diskusikan, kita pikirkan bareng-bareng biar kita tau lingkungan kita khususnya di Kota Pekalongan," ungkap Syakif.

Tidak berhenti sampai di sini, Pegiat Literasi Kota Pekalongan dan sejumlah komunitas akan mengadakan kegiatan sebagai tindak lanjut dari acara ini.

"Terkait rencana tindak lanjut acara ini, yang pertama, membuat sebuah diskusi terkait komunitasnya masing-masing. Apa, sih, yang menjadi keresahan Pekalongan maupun isu-isu lokal dan nasional. Yang kedua, langkah atau strategi apa yang dilakukan komunitas untuk mencapai goals tersebut," tutur C.Aas, Pegiat Literasi Kota Pekalongan.

Dengan adanya nonton bareng "Pesta Babi" di Kota Pekalongan ini, dapat membuka kesadaran dari berbagai elemen masyarakat, bahwa isu lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Harapannya, masyarakat tidak hanya mengkritik pemerintah, tetapi juga ikut andil dalam tindakan nyata.