Rupiah Makin Melemah, Prabowo Tegas Dolar Tidak Berdampak Bagi Warga Desa
Admin WGM - Sunday, 17 May 2026 | 04:40 PM


Kondisi ekonomi Indonesia sedang menjadi perhatian publik. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kini telah menyentuh angka Rp17.602 per US$ (17/5/2026). Angka ini menjadi yang terlemah sepanjang sejarah dan lebih buruk daripada krisis moneter yang pernah dialami Indonesia pada tahun 1998.
Presiden Prabowo Subianto merespons hal ini dengan pernyataan tepisan anggapan negatif terkait perekonomian Indonesia yang berada di era gelap. Dalam pernyataan di sambutan peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur (16/5/2026), Indonesia masih dalam kendali aman, baik dari sisi pangan hingga energi.
"Saya yakin sekarang ada yang selalu sebentar-sebentar 'Indonesia akan collapse, akan chaos'. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok," ungkap Prabowo pada agenda di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).
Prabowo menambahkan kondisi ekonomi negara yang aman dapat tercermin dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang masih dapat tersenyum. Kondisi fundamental Indonesia masih kuat, meskipun pelemahan mata uang rupiah jelas berdampak pada kalangan yang bertransaksi menggunakan dolar, bukan masyarakat desa.
"Selama Purbaya bisa senyum, tenang saja, enggak usah kau khawatir. Mau dolar berapa ribu kek, kalian di desa-desa enggak pakai dolar," ungkap Prabowo menekankan pendapatnya.
Sementara itu, nilai tukar yang lemah sangat berdampak pada aktivitas belanja Indonesia yang masih sangat bergantung pada bahan impor mencapai nilai 70 persen. Impor ini sebagian besar memenuhi sektor kimia, tekstil, elektronik, minyak dan gas, obat-obatan, hingga kendaraan pribadi.
Meskipun masyarakat tidak secara langsung membeli kebutuhan dalam bentuk mentah yang diimpor sebagai keberlangsungan hidup, namun dampaknya dapat langsung dirasakan dengan meningkatnya harga bahan baku seperti komoditas pangan dan barang modal.
"Ini membuat cost of production (biaya produksi) produsen domestik menjadi semakin mahal. Implikasi terhadap masyarakat sehari-hari adalah tentu biaya hidup akan semakin mahal," ungkap Teuku Riefky, peneliti di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM FEB UI), dilansir dari BBC (16/5/2026).
Kondisi ekonomi demikian akan memengaruhi penurunan kepercayaan investor yang ditandai dengan aksi jual aset (capital outflow), depresiasi nilai tukar rupiah, dan penundaan ekspansi bisnis. Investor akan mengambil langkah dengan beralih ke instrumen yang lebih aman, membebani emiten bervaluasi asing, dan memperlambat laju investasi langsung.
Pemerintah harus segera mengambil langkah strategis untuk memperkuat nilai rupiah dengan pemilihan selektif sektor saham, diversifikasi portofolio, pengamanan likuiditas, dan dana darurat sebagai prospek jangka panjang yang didasari dengan kebijakan makroekonomi.
Next News

Khofifah Serukan Budaya Membaca Jadi Tren Masa Kini pada Hari Buku Nasional 2026
in 5 hours

Waspada Penipuan Jual Beli Lokasi SPPG, BGN Imbau Masyarakat Gunakan Hotline Resmi
in 4 hours

Polda Metro Jaya Selidiki Kasus Pria Grogol Dikeroyok dan Dilempar dari Lantai Dua
20 hours ago

Prabowo Resmikan Museum Buruh Marsinah, Lontar Guraan Satire ke Menteri LH
21 hours ago

Haru Biru Gim Suyati, TKW Asal Batang Berhasil Pulang ke Batang Usai Ditipu 3 Dekade Kerja Ilegal di Malaysia
a day ago

SMK Muhammadiyah Pekalongan Buka Pintu untuk Semua Siswa Non-Muslim, Revano Wujud Inklusif Komitmen
a day ago

Nobar Pesta Babi Demi Jaga Kewarasan
2 days ago

Buntut Panjang Dugaan Perundungan, Seorang Anak Laki-Laki di Batang Luka Bakar Serius Disiram Bensin
3 days ago

Fokus RUU Perampasan Aset, Komisi III DPR Sebut Regulasi Harus Ketat dan Presisi
3 days ago

Langgar Kedaulatan, Jet Tempur Austria Paksa Pesawat Militer AS Keluar Wilayah Udara
3 days ago



