Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Health

Mata Kedutan Terus? Jangan Abaikan, Bisa Jadi Tubuhmu Lagi Kirim Sinyal Stres

Admin WGM - Sunday, 15 February 2026 | 07:41 PM

Background
Mata Kedutan Terus? Jangan Abaikan, Bisa Jadi Tubuhmu Lagi Kirim Sinyal Stres
Mata cepat lelah jangan diabaikan (pexels.com/ClickerHappy/)

Fenomena mata berkedut terjadi ketika otot-otot di sekitar kelopak mata mengalami kontraksi atau kejang kecil yang tidak terkendali. Meskipun sering kali muncul secara tiba-tiba dan terasa mengganggu, kedutan ini umumnya bersifat jinak (benign) dan akan hilang dengan sendirinya tanpa intervensi medis yang berat.

Namun, mengabaikan kedutan yang terjadi secara terus-menerus juga bukan langkah yang bijak. Otak dan saraf motorik Anda sebenarnya sedang memberikan sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak seimbang dalam rutinitas harian Anda.

1. Kelelahan dan Kurang Tidur: Pemicu Utama

Alasan paling umum di balik mata berkedut adalah kelelahan fisik, khususnya kurang tidur. Saat tubuh kekurangan waktu istirahat, saraf-saraf di sekitar mata menjadi lebih sensitif dan mudah terangsang. Kurang tidur mengganggu keseimbangan neurotransmiter di otak yang bertugas mengatur gerakan otot, sehingga memicu kontraksi involunter pada kelopak mata.

2. Stres dan Ketegangan Mental

Stres merupakan faktor sistemik yang memengaruhi seluruh bagian tubuh, termasuk mata. Saat Anda berada di bawah tekanan, tubuh memproduksi hormon kortisol yang tinggi. Reaksi tubuh terhadap stres ini dapat bermanifestasi dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah kedutan otot. Sering kali, kedutan ini menjadi indikator bahwa tingkat stres Anda sudah melampaui batas kemampuan adaptasi tubuh.

3. Konsumsi Kafein dan Alkohol Berlebih

Bagi para pencinta kopi, penting untuk mengetahui bahwa kafein memiliki sifat stimulan yang dapat memicu aktivitas saraf yang berlebihan. Kafein meningkatkan eksitabilitas saraf di sekitar mata, sehingga mempermudah terjadinya kedutan. Hal serupa juga berlaku pada konsumsi alkohol yang dapat menyebabkan otot-otot halus di sekitar mata menjadi lebih rileks namun tidak stabil, sehingga memicu kejang kecil.

4. Ketegangan Mata Digital (Digital Eye Strain)

Di era digital, menatap layar laptop atau ponsel dalam waktu lama adalah pemicu yang sangat nyata. Kurangnya frekuensi berkedip saat menatap layar menyebabkan mata menjadi kering. Mata yang kering dan lelah harus bekerja lebih keras untuk fokus, yang kemudian membebani otot-otot kelopak mata dan memicu miokimia.

5. Kekurangan Nutrisi Tertentu

Dalam beberapa kasus, kedutan mata dikaitkan dengan kekurangan elektrolit atau mineral tertentu, seperti magnesium. Magnesium berperan penting dalam membantu otot untuk berelaksasi. Jika kadar magnesium dalam tubuh rendah, otot-otot tubuh termasuk di area wajah cenderung lebih mudah mengalami kram atau kedutan spontan.

Kapan Anda Harus Waspada?

Meski mayoritas kedutan mata disebabkan oleh gaya hidup dan akan hilang dalam beberapa hari, Anda harus berkonsultasi dengan dokter jika:

  • Kedutan berlangsung selama lebih dari dua minggu secara terus-menerus.
  • Kelopak mata tertutup sepenuhnya secara spontan saat berkedut.
  • Kedutan menjalar ke bagian wajah lainnya (seperti pipi atau mulut).
  • Mata menjadi sangat merah, bengkak, atau mengeluarkan cairan.

Mata berkedut adalah cara tubuh berkomunikasi bahwa ia membutuhkan istirahat, hidrasi, atau pengurangan asupan stimulan. Alih-alih mencemaskan mitos yang tidak berdasar, cobalah untuk memperbaiki pola tidur dan mengurangi waktu di depan layar. Sering kali, solusi terbaik untuk mata berkedut bukanlah obat, melainkan waktu istirahat yang berkualitas dan manajemen stres yang lebih baik.