Kenapa Gen Z Cepat Burnout? Tips Menjaga Mental Health di Dunia Kerja yang "Toxic"
Admin WGM - Sunday, 08 February 2026 | 11:01 AM


Pernah merasa baru hari Selasa tapi rasanya pengen langsung hari Jumat? Atau kamu merasa kerjaan nggak ada habisnya padahalkamuo udah lembur tiap hari? Kalau iya, kamu nggak sendirian. Fenomena burnout di kalangan Gen Z makin nyata, dan ini bukan sekadar soal "kurang healing".
Tapi, kenapa sih generasi yang katanya paling tech-savvy ini justru paling rentan kena burnout?
Kenapa Gen Z Lebih Rentan Burnout?
Ada beberapa alasan logis di balik fenomena ini, Winners:
1. Garis Batas yang Blur (Work-Life Balance vs Integration)
Dulu, pulang kantor ya selesai kerja. Sekarang? Ada WhatsApp, Slack, atau email yang masuk jam 9 malam. Karena Gen Z sangat terkoneksi dengan teknologi, ada ekspektasi nggak tertulis buat "selalu tersedia" (always on), yang bikin otak nggak pernah bener-bener istirahat.
2. Tekanan Media Sosial (Social Comparison)
Buka Instagram pas lagi capek kerja, eh lihat temen lagi flexing liburan atau pamer pencapaian karier. Ini bikin kamu merasa tertinggal (FOMO) dan ngerasa kerja keras kamu selama ini nggak ada apa-apanya.
3. Ekonomi yang Tidak Menentu
Harga rumah naik, biaya hidup makin tinggi, tapi kenaikan gaji sering nggak sebanding. Ketidakpastian finansial ini bikin Gen Z merasa harus kerja ekstra keras demi bertahan hidup, yang ujung-ujungnya memicu stres kronis.
Ciri-Ciri Lo Lagi Burnout (Bukan Cuma Capek Biasa)
Penting buat bedain antara capek setelah kerja keras sama burnout:
- Sinisme: kamu mulai benci sama kerjaan atau rekan kerja.
- Efikasi Rendah: Merasa nggak kompeten, padahal biasanya kamu bisa ngerjain tugas itu dengan gampang.
- Kelelahan Emosional: Bangun tidur udah ngerasa capek dan malas ngapa-ngapain.
Tips Jaga Mental Health di Lingkungan Kerja Toxic
Kalau kamu merasa kantor kamu sekarang mulai "beracun", jangan langsung resign tanpa rencana. Coba lakuin langkah-langkah ini:
1. Set Boundaries (Pasang Batas)
Tegas sama waktu kamu. Kalau jam kerja selesai jam 5 sore, sebisa mungkin berhenti bahas kerjaan. Matikan notifikasi aplikasi kantor setelah jam kerja. Dunia nggak bakal kiamat cuma karena kamu bales chat besok pagi.
2. Jangan Jadikan Karier Sebagai Satu-satunya Identitas
Kamu itu lebih dari sekadar posisi kamu di kantor. Punya hobi atau komunitas di luar kerjaan sangat membantu biar kalau ada masalah di kantor, harga diri kamu nggak langsung hancur.
3. 'Quiet Quitting' Secukupnya
Bukan berarti nggak kerja, tapi kerjakan sesuai porsi dan Job Desk. Jangan mau dikasih beban kerja tambahan terus-menerus tanpa kompensasi atau apresiasi yang jelas.
4. Cari Support System
Cari temen kantor yang bisa diajak curhat (yang bisa dipercaya ya!) atau ngobrol sama profesional kayak psikolog kalau beban mentalnya udah terasa terlalu berat.
Next News

Anti-Loyo! Strategi Jitu Tetap Fokus dan Produktif di Kantor Tanpa Rasa Ngantuk Saat Puasa
in 3 hours

Kupas Tuntas Menu Sahur Terbaik untuk Redam Asam Lambung Selama Puasa
in 2 hours

Jangan Tunggu Sakit! Simak Trik Diet Anti-Inflamasi Agar Tubuh Gak Gampang Meradang
a day ago

Ternyata Berat Badan Ngaruh ke Jumlah Air Minum, Cek Rumus Praktisnya di Sini!
a day ago

Ternyata Ini Rahasia Awet Muda: Kenali Daftar Makanan yang Ampuh Lawan Peradangan Tubuh
a day ago

Hanya 5 Menit! Trik Sederhana Aktivasi Saraf Vagus buat Usir Stres dan Cemas Berlebihan
2 days ago

Mumpung Masih 20-an! Tabung Kepadatan Tulang dengan Daftar Olahraga Simpel Berikut Ini
2 days ago

Tengkuk Terasa Berat? Waspadai Tanda Tersembunyi Hipertensi di Usia Produktif
2 days ago

Bye Pegal-Pegal! 6 Langkah Setting Meja Kerja Ergonomis Biar Leher Gak Kaku
2 days ago

Mood Sering Berantakan? Coba Cek Pencernaanmu, Bisa Jadi Ususmu Lagi Stres!
2 days ago





