Kamis, 26 Februari 2026
Walisongo Global Media
Health

Jangan Asal Masak! Ini Rahasia Membuat Kolak yang Tidak Cepat Basi, Kuncinya Ada pada Teknik Pengolahan Santan

Admin WGM - Sunday, 22 February 2026 | 12:30 PM

Background
Jangan Asal Masak! Ini Rahasia Membuat Kolak yang Tidak Cepat Basi, Kuncinya Ada pada Teknik Pengolahan Santan
Kolak pisang (UIN Bandung/)

Hidangan kolak merupakan menu takjil yang paling ikonik dan hampir selalu hadir di setiap meja makan masyarakat Indonesia saat bulan Ramadan tiba. Perpaduan rasa manis dari gula merah dan gurihnya santan yang menyatu dengan pisang atau ubi selalu berhasil memanjakan lidah setelah seharian berpuasa. Namun, masalah utama yang sering dihadapi oleh para ibu rumah tangga adalah daya tahan kolak yang cenderung singkat dan mudah sekali basi. Fenomena kolak yang berubah rasa menjadi asam atau berlendir dalam hitungan jam tentu sangat mengecewakan, terutama jika hidangan tersebut disiapkan dalam porsi besar untuk keluarga.

Penyebab utama dari rusaknya kualitas kolak biasanya terletak pada kesalahan teknis saat mengolah santan serta kurangnya kebersihan selama proses memasak. Santan merupakan bahan cair yang sangat sensitif terhadap kontaminasi bakteri dan perubahan suhu ekstrem. Edukasi mengenai teknik memasak yang benar menjadi solusi krusial agar hidangan pembuka ini tetap lezat dinikmati hingga waktu sahur tanpa mengalami penurunan kualitas rasa.

Anomali Lemak Santan dan Risiko Kontaminasi Bakteri

Santan mengandung kadar lemak dan protein tinggi yang menjadi media pertumbuhan sangat baik bagi mikroorganisme jika tidak diolah dengan sempurna. Proses pemerasan kelapa yang menggunakan air tidak matang atau wadah yang kurang steril dapat menjadi pintu masuk awal bagi bakteri pembusuk. Selain itu, suhu ruangan yang lembap di area dapur sering kali mempercepat proses fermentasi alami pada santan yang sudah tercampur dengan gula.

Ketidakstabilan emulsi santan saat dipanaskan juga memegang peranan penting dalam menentukan keawetan masakan. Santan yang pecah saat proses perebusan tidak hanya merusak tekstur visual kolak, tetapi juga memicu kerusakan struktur lemak yang membuatnya lebih cepat teroksidasi. Memahami perilaku kimiawi santan akan membantu setiap orang dalam menghasilkan kolak yang memiliki masa simpan lebih panjang tanpa perlu menggunakan bahan pengawet kimia.

Daftar Rahasia Mengolah Kolak Agar Tahan Lama

Mendapatkan hasil kolak yang awet memerlukan ketelitian mulai dari pemilihan bahan baku hingga metode pemanasan terakhir. Berikut adalah langkah taktis yang wajib Anda terapkan di dapur:

  1. Pilihlah Kelapa Tua yang Segar Kualitas santan sangat ditentukan oleh tingkat kematangan buah kelapa yang digunakan sebagai bahan dasar. Kelapa yang sudah tua memiliki kandungan lemak lebih stabil dibandingkan kelapa muda sehingga hasil santannya tidak mudah pecah. Pastikan Anda memeras santan menggunakan air matang guna meminimalisir keberadaan kuman sejak tahap awal persiapan bumbu cair.
  2. Pisahkan Perebusan Santan dan Bahan Utama Strategi paling ampuh agar kolak tidak cepat basi adalah dengan tidak merebus semua bahan secara bersamaan sejak awal. Rebuslah terlebih dahulu isian kolak seperti pisang, ubi, atau kolang kaling menggunakan air gula dan daun pandan hingga matang. Santan sebaiknya dimasukkan pada tahap terakhir dan dimasak dengan api kecil sambil terus diaduk secara perlahan agar emulsinya tetap terjaga.
  3. Pastikan Santan Mencapai Titik Didih Sempurna Sering kali orang mematikan kompor segera setelah santan terlihat mulai panas padahal proses pasteurisasi alami belum tercapai sepenuhnya. Biarkan santan mendidih selama beberapa menit sambil tetap diaduk agar semua bakteri jahat mati terpapar panas. Namun, Anda harus tetap waspada jangan sampai api terlalu besar karena suhu yang berlebihan justru akan merusak kandungan protein dalam santan.
  4. Gunakan Garam sebagai Pengawet Alami Penambahan sedikit garam dalam adonan kolak tidak hanya berfungsi untuk menyeimbangkan rasa manis agar lebih gurih. Secara kimiawi, garam memiliki sifat menghambat pertumbuhan mikroba tertentu yang dapat memperlama kesegaran masakan. Masukkan garam pada saat proses perebusan air gula agar larut secara merata ke dalam seluruh serat isian kolak.
  5. Hindari Menutup Panci Saat Kolak Masih Panas Kesalahan fatal yang sering dilakukan adalah langsung menutup rapat panci kolak sesaat setelah api dimatikan. Uap panas yang terperangkap akan berubah menjadi butiran air yang jatuh kembali ke dalam masakan dan memicu proses pembusukan kilat. Biarkan kolak dalam keadaan terbuka hingga suhunya benar benar turun menuju suhu ruang sebelum disimpan atau ditutup.

Manajemen Penyimpanan untuk Konsumsi Jangka Panjang

Sistem penyimpanan yang baik merupakan kunci terakhir dalam menjaga keawetan kolak untuk dikonsumsi pada hari berikutnya. Jika Anda berniat menyisakan kolak untuk menu sahur, segera ambil porsi secukupnya menggunakan sendok yang bersih dan kering. Hindari kebiasaan mencicipi makanan langsung dari panci utama menggunakan sendok bekas mulut karena enzim amilase dari ludah dapat merusak stabilitas santan dengan sangat cepat.

Penyimpanan di dalam lemari es sangat disarankan apabila kolak sudah tidak mengeluarkan uap panas sama sekali. Gunakan wadah plastik atau kaca yang kedap udara guna menghindari kontaminasi bau dari bahan makanan lain di dalam kulkas. Saat ingin menyantapnya kembali, panaskan kolak hanya dalam porsi yang dibutuhkan saja dan jangan memanaskan ulang seluruh isi panci secara berulang-ulang karena akan merusak tekstur dan rasa.

Membuat kolak yang awet dan tidak mudah basi bukanlah hal yang mustahil jika kita memahami karakteristik bahan baku utamanya yakni santan. Kedisiplinan dalam menjaga kebersihan alat masak serta penerapan teknik perebusan yang tepat akan menjamin kualitas hidangan tetap prima. Momen berbuka puasa akan menjadi lebih bermakna dengan sajian kolak yang segar, gurih, dan terjaga kualitasnya hingga suapan terakhir. Mari lebih teliti dalam setiap tahapan memasak di dapur agar keberkahan Ramadan terpancar melalui hidangan sehat yang disajikan untuk keluarga tercinta.