Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Health

Invasi Ikan Sapu-Sapu yang Kini Menjadi Ancaman Nyata Bagi Ekosistem Sungai

Admin WGM - Wednesday, 28 January 2026 | 01:41 PM

Background
Invasi Ikan Sapu-Sapu yang Kini Menjadi Ancaman Nyata Bagi Ekosistem Sungai
Foto Ikan Sapu-sapu (AloDokter /)

Berbanding terbalik dengan pergerakannya yang lambat dan tampilannya yang pasif, rupanya ikan sapu-sapu (Loricariidae) telah menjadi ancaman sunyi bagi ekosistem perairan tawar di Indonesia. Ikan yang awalnya populer sebagai penghias akuarium karena kemampuannya memakan lumut ini, kini telah berubah menjadi spesies invasif yang mendominasi sungai-sungai besar, mulai dari Sungai Ciliwung di Jakarta hingga Bengawan Solo di Jawa Tengah.

Salah satu alasan utama ledakan populasi ikan sapu-sapu adalah ketangguhan biologisnya atau daya than luar biasa meskipun di lingkungan air yang tercemar. Ikan asal Amerika Selatan ini memiliki kemampuan adaptasi yang tidak dimiliki ikan lokal seperti nila atau gurame. Berdasarkan struktur biologisnya, ikan sapu-sapu mampu bertahan hidup di perairan dengan kadar oksigen yang sangat rendah (hipoksia).

Lebih jauh lagi, ikan ini dikenal sangat toleran terhadap limbah industri dan domestik. Di perairan metropolitan yang tercemar berat, ikan sapu-sapu tetap mampu berkembang biak. Namun, ketahanan ini membawa risiko besar. Mengutip laporan dari Liputan6, ikan sapu-sapu yang diambil dari sungai-sungai yang tercemar, seperti di Jakarta, memiliki risiko tinggi mengandung logam berat dan bakteri berbahaya. Hal ini menjadikannya sangat tidak layak konsumsi karena sifatnya yang menyerap polutan dari dasar sungai yang berlumpur.

Di habitat aslinya, populasi ikan sapu-sapu dikendalikan oleh predator alami seperti berang-berang raksasa atau buaya. Namun, di perairan Indonesia, predator tersebut hampir tidak ditemukan di wilayah sungai perkotaan. Kulit ikan sapu-sapu yang keras dan bersisik tajam layaknya perisai baja membuatnya sulit dimangsa oleh burung pemakan ikan atau ikan predator lokal. Tanpa adanya kontrol dari rantai makanan di atasnya, ikan ini mengalami ledakan populasi tak terkendali, sehingga mendominasi ruang hidup dan sumber makanan di sungai.

Kehadiran ikan sapu-sapu bukan sekadar gangguan visual, melainkan ancaman ekologis yang sistematis. Sebagai hewan pemakan segala (omnivora), mereka seringkali mengonsumsi telur-telur ikan asli Indonesia. Dampaknya, populasi ikan lokal semakin terhimpit dan terancam punah karena gagal beregenerasi.

Selain merusak biodiversitas, ikan sapu-sapu juga menjadi musuh bagi infrastruktur sungai. Ikan ini memiliki kebiasaan membuat lubang di dinding atau tanggul sungai sebagai tempat bersarang dan meletakkan telur. Jika populasi di satu titik sangat padat, ribuan lubang ini dapat memperlemah struktur tanah, memicu erosi, dan dalam jangka panjang berisiko menyebabkan keruntuhan tanggul sungai yang berpotensi memicu banjir.

Invasi ikan sapu-sapu adalah pengingat keras akan bahayanya melepasliarkan spesies asing ke alam tanpa kajian mendalam. Dibutuhkan upaya kolaboratif antara pemerintah dan masyarakat untuk mengendalikan populasi ikan ini, baik melalui pembersihan rutin maupun edukasi mengenai larangan membuang ikan hias ke sungai. Perlindungan terhadap ekosistem sungai bukan hanya tentang air yang bersih, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan makhluk hidup di dalamnya dari ancaman spesies invasif.