Minggu, 25 Oktober 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Inovasi Pemuda Pekalongan: Sulap Industri Batik Jadi Ramah Lingkungan dan Kekinian

Azizatul Khifdiyah - Sunday, 25 October 2026 | 08:37 AM

Background
Inovasi Pemuda Pekalongan: Sulap Industri Batik Jadi Ramah Lingkungan dan Kekinian
Simak kisah inspiratif pemuda Kota Pekalongan dalam mengembangkan batik ramah lingkungan lewat pewarna alami WERNA dan desain kekinian METAFLORA demi menjaga kelestarian tradisi serta lingkungan. (pekalongan-news.com/)

​Dua anak muda asal Kota Pekalongan mengambil langkah konkret untuk menjaga kelestarian batik tanpa mengabaikan aspek kelestarian lingkungan. Mila Fahria mendirikan merek WERNA untuk fokus mengembangkan pewarna alami dari tumbuhan demi menekan limbah cair industri. Di sisi lain, Falahi Muhammad mendirikan METAFLORA untuk merancang motif dan pendekatan desain batik yang lebih relevan dengan gaya hidup generasi muda.

​Langkah pengaplikasian pewarna ramah lingkungan yang digagas Mila bermula dari kepeduliannya sebagai alumni Kriya Batik Universitas Pekalongan. Proses pembuatan pewarna tersebut memanfaatkan bahan alam seperti tanaman indigo, jolawe, tegeran, hingga mahoni. Meski membutuhkan waktu ekstra serta uji laboratorium ketat agar warna tidak luntur, WERNA yang berproduksi sejak April 2026 ini berhasil menciptakan variasi warna seperti merah, hijau, biru, dan cokelat.

​"Indonesia kaya sekali akan pewarna alami," ujar Mila, Jumat (23/10/2026).

​Kegelisahan terhadap masa depan perbatikan juga mendorong Falahi Muhammad, seorang arsitek yang menempuh studi di Program Studi Batik Universitas Pekalongan, untuk bertindak. Ia menilai regenerasi batik hanya bisa terwujud apabila produk yang dihasilkan diminati anak muda sebagai pakaian harian, bukan hanya dikenakan saat acara formal. Pendekatan desain yang adaptif dianggap mampu menjamin keberlanjutan ekonomi pelaku usaha serta kesejahteraan para pembatik lokal.

​"Bukan karena kasihan, bukan karena dianggap sesuatu meupakan hal yang sakral, tapi memang dekat dengan mereka secara desain maupun secara hasil akhirnya," terang Falahi.

​Upaya perbaikan sistem produksi batik turut diperlihatkan dalam pameran Green Batik di Museum Batik Pekalongan yang dihadiri Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen. Pameran yang melibatkan 14 pembatik tersebut menampilkan inovasi Instalasi Pengolahan Air Limbah mini untuk mengolah air limbah secara nontoksik. Wakil Wali Kota Pekalongan, Bulqis Diab, menjelaskan bahwa teknologi ini direncanakan menjadi proyek percontohan IPAL komunal bagi para pembatik di kawasan tersebut.

​"Air sungai kita tetap bersih, tetapi para pembatik juga tetap berproduktif dan menghasilkan pendapatan yang lebih baik lagi secara ekonomi," ujarnya.

​Melalui pameran kolaboratif ini, Marc Gerritsen memberikan apresiasi tinggi terhadap kemampuan masyarakat setempat yang memadukan tradisi budaya, karya seni, dan pengolahan limbah industri. Sejalan dengan hal itu, Ketua Dekranasda Kota Pekalongan, Inggit Soraya, mengungkapkan bahwa minat pelaku UMKM terhadap pembuatan batik ekologis kini terus mengalami peningkatan. Kolaborasi antara bahan baku ramah lingkungan, desain modern, serta dukungan teknologi pengolahan air menjadi bukti nyata bahwasanya tradisi batik Pekalongan sanggup menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.