Gunung Merapi Meluncurkan Lava Pijar Sejauh 2.000 Meter, BPPTKG Pertahankan Status Siaga
Azizatul Khifdiyah - Friday, 18 September 2026 | 01:04 PM


Gunung Merapi yang membentang di perbatasan Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten kembali menunjukkan peningkatan aktivitas kegempaan serta guguran lava. Berdasarkan laporan resmi BPPTKG melalui aplikasi MAGMA-VAR, gunung api paling aktif di Indonesia ini masih bertahan pada Level III atau Siaga. Aktivitas vulkanik tersebut tercatat berlangsung selama 24 jam penuh pada Selasa, 16 September 2026.
Mengutip laporan pengamat gunung api Ngadiyo, asap putih tipis bertekanan lemah teramati membumbung setinggi 200 meter di atas puncak kawah. Kondisi cuaca di sekitar area puncak terpantau cerah hingga mendung dengan suhu udara berkisar antara 15,7 hingga 27,1 derajat Celcius. Angin berhembus pelan menuju ke arah utara, timur, dan barat sepanjang hari pengamatan.
Alat seismograf merekam adanya 65 kali gempa guguran dengan amplitudo 2-43 mm serta durasi hingga 185 detik. Selain itu, petugas juga mencatat 84 kali gempa hybrid yang menandakan adanya pergerakan magma menuju ke permukaan bumi. Getaran tektonik jauh pun turut terekam sebanyak satu kali dalam periode pengamatan 24 jam tersebut.
Petugas pos pengamatan turut melaporkan terjadinya tujuh kali guguran lava pijar yang meluncur langsung ke arah barat daya. Guguran material vulkanik tersebut meluncur menuju Kali Sat atau Putih dan Kali Krasak dengan jarak maksimum mencapai 2.000 meter. Peristiwa peluncuran lava pijar ini mengindikasikan bahwa kubah lava puncak Gunung Merapi masih belum stabil.
Berdasarkan data KESDM, Badan Geologi, PVMBG, dan BPPTKG, suplai magma dari dalam perut bumi hingga kini ditegaskan masih terus berlangsung. Kondisi pasokan magma yang dinamis tersebut berpotensi memicu timbulnya awan panas guguran secara tiba-tiba di kawasan rawan bencana. Oleh sebab itu, pihak berwenang meminta masyarakat sekitar untuk selalu mematuhi rekomendasi bahaya yang dikeluarkan resmi.
Potensi bahaya guguran lava dan awan panas di sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong hingga 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh 7 kilometer. Sementara di sektor tenggara, potensi ancaman melingkupi area Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer. Apabila terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik diperkirakan dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak gunung.
BPPTKG turut mengimbau warga di sekitar lereng Gunung Merapi untuk selalu mewaspadai potensi bahaya lahar saat hujan turun di puncak. Selain bahaya lahar, ancaman abu vulkanik juga patut diwaspadai karena dapat mengganggu pernapasan serta aktivitas harian masyarakat. Warga dilarang melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya demi menjaga keselamatan bersama.
Next News

Sita Aset Negara Rp4,8 T di Bali, Kortas Tipikor Usut Dugaan Penyerobotan Lahan Mewah!
15 hours ago

Populasi Nila Hitam Meledak Ancam Nelayan, Pemerintah Thailand Bayar Warga yang Tangkap Ikan Invasif.
15 hours ago

Hadiri 1 Abad Gontor, Presiden Prabowo Sapa Santri dari Maung dan Suarakan Palestina!
15 hours ago

Mengaku Dendam karena Nama Institusi Dicemarkan, Pejabat Bea Cukai Tetap Terima Suap Rp1 Miliar per Bulan
6 hours ago

Kinerja BPR BKK Kabupaten Pekalongan Anjlok di Tengah Penyidikan Kasus Korupsi Kredit
6 hours ago

Dituding Menghilang Usai OTT KPK, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid Buka Suara
6 hours ago

Gudang Mebel di Pekalongan Ludes Terbakar Dini Hari, Api Merembet ke Tiga Rumah Warga
a day ago

Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Diborgol, Kasus Pemerasan dan TPPU Dilimpahkan ke Kejari Jaksel
a day ago

Dugaan Keracunan MBG di MI Pringlangu, 11 Siswa Alami Mual dan Pusing
a day ago

Kebakaran Hebat di POJ City Semarang Berhasil Dipadamkan Setelah 8 Jam, Diduga Akibat Ulah Pemancing
2 days ago





