Kamis, 22 Oktober 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Gebrakan Kenduri Batik 2026 di Sikembang: Upaya Selamatkan Wastra Batang Terancam Punah Lewat Konser Orkestra Dangdut

Azizatul Khifdiyah - Monday, 19 October 2026 | 09:11 AM

Background
Gebrakan Kenduri Batik 2026 di Sikembang: Upaya Selamatkan Wastra Batang Terancam Punah Lewat Konser Orkestra Dangdut
Simak rangkuman Puncak Peringatan Hari Batik Nasional Kenduri Batik 2026 di Hutan Pinus Sikembang, Kabupaten Batang, yang memadukan edukasi pelestarian wastra lokal, kampanye alam, dan kemeriahan konser orkestra dangdut Ndarboy Gank. (Radar Pekalongan/)

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) menggelar Puncak Peringatan Hari Batik Nasional bertajuk Kenduri Batik 2026 pada Sabtu (17/10/2026). Berlokasi di Objek Wisata Hutan Pinus Sikembang, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, perhelatan ini memadukan edukasi pelestarian wastra lokal, kampanye lingkungan, dan sajian musik orkestra dangdut. Ribuan pengunjung yang didominasi oleh generasi muda tampak memadati kawasan wisata alam tersebut sejak pagi hari.

​Bupati Batang M. Faiz Kurniawan mengapresiasi tinggi antusiasme generasi muda yang hadir memadati lokasi acara. Ia menilai keterlibatan aktif anak muda menjadi kunci utama keberlanjutan tradisi membatik di daerahnya.

​"Batik ini tentang bagaimana kita mewariskan motif-motif turun-temurun, melakukan inovasi, serta memupuk rasa bangga dan cinta untuk memakai batik khas Kabupaten Batang," ujar Faiz saat ditemui di lokasi acara, Sabtu.

​Faiz menambahkan bahwa pihak pemkab mendorong agar Kenduri Batik dapat menjadi agenda tahunan sebagai sarana edukasi budaya dan promosi pariwisata daerah. Sementara itu, Ketua Dekranasda Kabupaten Batang Faelasufa Faiz Kurniawan mengungkapkan bahwa agenda ini dirancang khusus untuk membangkitkan kembali motif batik khas Batang yang sempat terancam punah. Menurut Faelasufa, keberadaan para perajin sebagai penjaga warisan budaya Nusantara harus diimbangi dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi yang memadai.

​"Batik Batang sempat hampir punah. Melalui acara ini, kita melihat anak-anak muda mau dan bangga memakai batik. Kesejahteraan perajin harus terus diangkat karena mereka adalah benteng kelestarian budaya kita," tutur Faelasufa.

​Terkait pemilihan kawasan Hutan Pinus Sikembang sebagai venue kegiatan, Faelasufa menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil secara sengaja untuk mengedukasi masyarakat mengenai hubungan erat antara batik dan alam. Ia mencontohkan motif batik khas Batang seperti Relawati yang sarat akan unsur flora dan fauna seperti dedaunan, bunga, hingga burung merak.

​"Para perajin dahulu terinspirasi dari alam sekitar. Jika alam rusak atau terjadi kebakaran hutan, maka sumber inspirasi dan peradaban manusia ikut terancam. Kita ingin mengingatkan bahwa untuk mengembangkan industri batik (thriving), kita wajib menjaga dan merawat alam," tegasnya.

​Suasana acara kian semarak saat penyanyi asal Yogyakarta, Helarius Daru Indrajaya atau Ndarboy Gank, naik ke atas panggung utama. Tampil diiringi aransemen orkestra, Ndarboy membawakan lagu populernya seperti Kicau Mania, Jogja Istimewa, Aku Anak Singkong, Mendung Tanpo Udan, Sikep, hingga tembang daerah Prau Layar. Ndarboy mengaku terkesan dengan keindahan lanskap Hutan Pinus Sikembang dan respons hangat masyarakat Kabupaten Batang.

​"Tempatnya indah sekali di tengah hutan pinus Batang dan antusias penonton luar biasa seru. Baru kali ini saya tampil berkonsep orkestra tapi penonton goyang dari awal sampai akhir," kata Daru.

​Ia berharap pentas seni bertema alam di destinasi wisata terus dikembangkan oleh pemerintah daerah untuk mendongkrak daya tarik wisatawan luar daerah ke Kabupaten Batang dan Jawa Tengah pada umumnya. Musik dangdut, khususnya yang berbahasa Jawa, dinilainya sebagai bagian dari identitas budaya nasional yang harus terus dilestarikan bersama.