Kamis, 22 Oktober 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Anak Penyandang Down Syndrome di Surabaya Meninggal Diduga Jadi Korban Bullying Dua Anak Tetangga

Azizatul Khifdiyah - Sunday, 18 October 2026 | 12:04 PM

Background
Anak Penyandang Down Syndrome di Surabaya Meninggal Diduga Jadi Korban Bullying Dua Anak Tetangga
Bocah penyandang Down Syndrome berinisial Z (10) di Surabaya meninggal dunia diduga akibat perundungan oleh dua anak tetangga. Polrestabes Surabaya tengah melakukan penyidikan terkait laporan dugaan kekerasan tersebut. (kumparan.com/)

Seorang anak penyandang Down Syndrome berinisial Z (10) asal Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya meninggal dunia diduga akibat menjadi korban perundungan oleh dua anak tetangganya. Berdasarkan laporan suarasurabaya.net, peristiwa nahas tersebut terjadi pada Sabtu, 12 September 2026 silam di teras rumah korban. Perkara tersebut kini telah dilaporkan oleh ayah korban, SAW (53), ke Polrestabes Surabaya dengan nomor laporan LP/B/1843/IX/2026/SPKT/Polrestabes Surabaya/Polda Jawa Timur.

​Kejadian bermula saat korban sedang bermain sendirian menggunakan kursi roda di teras rumahnya yang terpagar rapat sekitar pukul 08.00 WIB. Ibu korban, NF, sedang berjualan di pasar, sedangkan SAW tertidur pulas akibat efek obat setelah menjalani operasi pengangkatan batu ginjal. Sekitar pukul 09.00 WIB, NF pulang dari pasar dan terkejut mendapati anaknya tergeletak di teras dengan kondisi tidak sadarkan diri.

​Istri SAW berteriak histeris mendapati wajah anaknya membiru serta ada bekas jeratan tali sepatu di lehernya.

"Tak lihat itu anak saya ada jeratan di lehernya, jeratan tali sepatu, terus mulutnya putih di bibirnya ada bekas putih, menurut hasil penyidikan dijejeli sabun colek," ujar ayah korban kepada suarasurabaya.net, Minggu (18/10/2026).

Korban dilarikan ke RSUD Eka Candrarini pukul 09.20 WIB dan dinyatakan meninggal dunia pukul 09.45 WIB.

​Hasil rekaman kamera CCTV di sekitar lokasi menunjukkan dua anak tetangga masuk ke rumah korban dari pukul 08.15 hingga 08.32 WIB. Selama rentang waktu tersebut, kedua anak diduga melakukan aksi perundungan hingga mengakibatkan korban tidak sadarkan diri. SAW mengungkapkan bahwa kejadian ini bukan pertama kali terjadi, sebab leher anaknya pernah dikalungi tali tampar seminggu sebelumnya dan mukanya dipenuhi pasir sebulan lalu.

​Ayah korban merasa sangat terpukul mengingat putranya memiliki keterbatasan fisik, katarak, jantung bocor, serta tidak bisa berjalan maupun berbicara.

"Saya ingin kedua anak ini dibina oleh negara, sampai anak ini bisa berpikir mana yang baik, mana yang buruk," tegasnya.

Ia berharap kedua terduga pelaku mendapatkan pembinaan agama dan moral yang memadai sebelum nantinya dilepas kembali ke lingkungan masyarakat.

​Jenazah korban dipindahkan ke RS Bhayangkara Surabaya untuk menjalani proses autopsi hingga pukul 12.00 WIB sebelum akhirnya dimakamkan pada malam hari. Sementara itu, Kasat Reskrim PPA dan PPO Polrestabes Surabaya AKBP Melatisari mengonfirmasi bahwa penanganan kasus kekerasan tersebut saat ini masih terus berjalan.

"Kita tangani, proses penyidikan," jelasnya.