Minggu, 6 September 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Bukan Sekadar Horor, Pengabdi Setan 3 Ungkap Asal Kutukan dari Strasbourg 1518

Admin WGM - Thursday, 03 September 2026 | 05:24 PM

Background
Bukan Sekadar Horor, Pengabdi Setan 3 Ungkap Asal Kutukan dari Strasbourg 1518
Poster Pengabdi Setan 3 dan gambaran ilustrasi wabah menari Strasbourg (indonesiaonline.co.id/)

Joko Anwar kembali membawa waralaba horor Pengabdi Setan ke layar lebar melalui Pengabdi Setan 3: Origin, film yang dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 2027 dan akan mengungkap asal-usul kutukan serta sekte yang menjadi inti cerita dua film sebelumnya.

Berbeda dari dua film sebelumnya, Pengabdi Setan 3: Origin hadir sebagai prekuel mandiri dengan cerita yang melintasi dua benua dan beberapa periode sejarah, dimulai dari peristiwa histeria massal di Strasbourg, Prancis, pada 1518 yang dikenal sebagai fenomena dancing plague atau wabah menari. Kisah tersebut kemudian bergerak menuju sebuah mercusuar berhantu di pesisir selatan Jawa pada abad ke-17.

Skala produksi film ini juga menjadi salah satu hal yang membuatnya berbeda karena cerita akan menggunakan tujuh bahasa, yakni Indonesia, Alsace, Portugis, Jawa, Belanda, Turki, dan Latin. Pendekatan tersebut memperluas dunia Pengabdi Setan sekaligus menjadi bagian dari ambisi Joko Anwar dalam menghadirkan cerita horor yang bergerak melintasi zaman dan benua.

Film ini akan menggali lebih dalam asal-usul kultus, perjanjian dengan kekuatan iblis, serta berbagai misteri yang telah ditinggalkan Pengabdi Setan (2017) dan Pengabdi Setan 2: Communion (2022). Joko Anwar sebelumnya menyebut film ketiga ini akan menjawab pertanyaan besar mengenai dari mana kutukan tersebut berasal, mengapa tidak pernah berhenti, dan apa sebenarnya yang diincarnya.

Dari sisi produksi, Pengabdi Setan 3: Origin melibatkan Rapi Films, Come and See Pictures, Sky Media, dan Legacy Pictures, sementara Barunson E&A dari Korea Selatan dipercaya menangani penjualan internasional. Dengan cerita yang membentang dari Eropa hingga Jawa dan penggunaan tujuh bahasa, film ini diproyeksikan menjadi salah satu proyek Joko Anwar dengan skala terbesar.

Penonton pun masih harus menunggu hingga 2027 untuk melihat bagaimana Joko Anwar menghubungkan peristiwa Strasbourg 1518 dengan asal-usul kutukan dalam semesta Pengabdi Setan.