Jumat, 22 Mei 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Bikin Nostalgia Sekaligus Haru, Mengingat Kembali Memori Generasi 90-an Saat Hadapi Krismon

Admin WGM - Thursday, 21 May 2026 | 08:00 PM

Background
Bikin Nostalgia Sekaligus Haru, Mengingat Kembali Memori Generasi 90-an Saat Hadapi Krismon
Krisi Moneter (CNN Indonesia /)

Bagi generasi yang tumbuh dan besar pada dekade 1990-an, akhir abad ke-20 tidak hanya dikenang sebagai era transisi teknologi, melainkan juga sebagai periode penuh perjuangan akibat hantaman Krisis Moneter (Krismon). Krisis ekonomi hebat yang puncaknya terjadi pada tahun 1998 tersebut meninggalkan memori kolektif yang mendalam di benak masyarakat. Salah satu kenangan yang paling membekas adalah masa-masa sulit ketika barang kebutuhan pokok atau sembako menjadi komoditas yang sangat langka dan sulit dicari di pasaran.

Mengingat kembali momentum tersebut bukan sekadar urusan bernostalgia dengan masa lalu, melainkan sebuah upaya untuk merawat nilai empati sosial antargenerasi. Krismon kala itu berhasil mengubah tatanan kehidupan harian masyarakat secara drastis dalam waktu singkat, terutama ketika nilai tukar rupiah merosot tajam yang berdampak langsung pada lonjakan harga barang-barang manufaktur dan pangan.

Dalam ingatan kolektif generasi 90-an, pemandangan toko-toko kelontong, pasar tradisional, hingga pusat perbelanjaan modern yang kehabisan stok barang menjadi pemandangan harian yang meresahkan. Komoditas penting seperti beras, minyak goreng, gula pasir, hingga susu bubuk untuk anak balita mendadak lenyap dari etalase. Kelangkaan ini dipicu oleh kepanikan pasar serta terhambatnya jalur distribusi akibat inflasi yang tidak terkendali.

Kondisi tersebut memaksa masyarakat, termasuk orang tua dari generasi 90-an, untuk meluangkan waktu berjam-jam demi mengantre di agen-agen sembako atau pasar murah yang disediakan pemerintah. Antrean mengular yang melintasi terik matahari menjadi simbol nyata dari ketahanan sebuah keluarga demi memenuhi kebutuhan isi piring dapoer harian mereka. Sering kali, jatah pembelian pun dibatasi secara ketat agar seluruh warga yang mengantre bisa mendapatkan bagian secara merata.

Namun, di tengah himpitan ekonomi dan peliknya mencari bahan pangan tersebut, memori Krismon juga merekam potret indah mengenai kuatnya solidaritas dan empati sosial di tingkat akar rumput. Keterbatasan justru memicu rasa senasib sepenanggungan di antara bertetangga. Praktis di berbagai pemukiman, warga saling berbagi bahan makanan, meminjamkan sisa kebutuhan pokok, hingga bersama-sama menjaga keamanan lingkungan dari potensi penjarahan. Sikap saling menopang inilah yang menjadi energi tak terlihat yang membuat bangsa ini mampu bertahan melewati titik nadir perekonomian.

Melalui kilas balik memori Krismon 1998 ini, generasi muda saat ini dapat memetik pelajaran berharga mengenai arti sebuah ketangguhan dan pentingnya menjaga keharmonisan sosial. Pengalaman pahit ketika sembako sulit dicari mengajarkan bahwa stabilitas ekonomi dan pangan adalah fondasi utama kesejahteraan, sedangkan empati sosial adalah pengikat yang menyelamatkan masyarakat di masa-masa paling gelap dalam sejarah bangsa.