Jumat, 22 Mei 2026
Walisongo Global Media
Daily & Lifestyle

Menilik Keutamaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah vs 10 Malam Terakhir Ramadan

Admin WGM - Monday, 18 May 2026 | 03:30 PM

Background
Menilik Keutamaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah vs 10 Malam Terakhir Ramadan
Bulan Djulhijjah (SindoNews /)

Banyak umat Islam yang menganggap bahwa bulan Ramadan adalah satu-satunya puncak spiritualitas dan masa terbaik untuk memanen pahala sepanjang tahun. Khususnya pada sepuluh malam terakhir Ramadan, masjid-masjid dipenuhi oleh jemaah yang berburu keutamaan Lailatul Qadar, sebuah malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Namun, di dalam kalender penanggalan Islam, terdapat satu waktu lain yang keutamaannya tidak kalah luar biasa, bahkan dalam beberapa aspek tertentu melampaui keutamaan Ramadan. Waktu tersebut adalah sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Kurangnya edukasi mengenai hal ini membuat banyak umat Muslim melewatkan awal bulan Dzulhijjah begitu saja tanpa persiapan ibadah yang spesial, berbeda dengan atmosfer Ramadan yang disambut secara meriah sejak jauh-jauh hari.

Para ulama terdahulu, seperti Ibnu Taimiyah, Ibnu Katsir, dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, telah membuat rumusan yang sangat adil dan presisi untuk mendudukkan perkara ini berdasarkan dalil-dalil yang sahih dari Al-Qur'an dan Sunnah. Mereka menjelaskan bahwa jika kita menilik waktu siang hari, maka sepuluh siang hari pertama pada bulan Dzulhijjah adalah waktu siang yang paling utama dalam setahun, bahkan mengalahkan siang harinya sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Sebaliknya, jika kita melihat dari sudut pandang malam hari, maka sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan tetap memegang kedudukan sebagai malam-malam paling utama dalam setahun karena keberadaan Lailatul Qadar. Pemisahan yang adil ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa Allah Swt. menyebarkan waktu-waktu utama di sepanjang tahun agar hamba-Nya selalu memiliki kesempatan untuk kembali bertaubat dan meningkatkan derajat ketakwaan mereka secara konsisten.

Ada beberapa alasan mendasar mengapa sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah begitu istimewa dalam pandangan syariat Islam. Alasan pertama dapat kita temukan langsung di dalam kitab suci Al-Qur'an, di mana Allah Swt. bersumpah menggunakan waktu-waktu tersebut. Di dalam Surah Al-Fajr ayat satu dan dua, Allah berfirman yang artinya demi fajar, dan malam yang sepuluh. Mayoritas ahli tafsir terkemuka, termasuk sahabat Ibnu Abbas, menyatakan bahwa frasa malam yang sepuluh dalam ayat tersebut secara spesifik merujuk pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Dalam kaidah tafsir Al-Qur'an, ketika Allah bersumpah demi suatu makhluk atau waktu tertentu, hal tersebut menjadi penanda yang sangat kuat tentang betapa agungnya nilai, kemuliaan, dan kedudukan waktu tersebut di mata Sang Pencipta.

Alasan kedua yang membuat awal bulan Dzulhijjah begitu agung dijelaskan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya yang fenomenal, Fathul Bari. Beliau memaparkan bahwa keistimewaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah bersumber dari sebuah fakta bahwa pada hari-hari itulah tempat berkumpulnya induk-induk ibadah utama dalam Islam. Pada waktu-waktu lain di luar bulan Dzulhijjah, kebersamaan berbagai macam ibadah agung ini tidak pernah terjadi secara sekaligus. Di awal Dzulhijjah, seorang Muslim dapat melaksanakan ibadah shalat, baik shalat fardhu maupun shalat sunnah Iduladha. Di saat yang sama, mereka disunnahkan untuk menjalankan ibadah shaum atau puasa, terutama Puasa Arafah pada tanggal sembilan Dzulhijjah yang dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Selain ibadah fisik tersebut, ada pula ibadah finansial dan sosial berupa sedekah serta penyembelihan hewan kurban. Puncaknya, di waktu ini pula jutaan umat Islam melaksanakan ibadah haji yang mengintegrasikan seluruh kekuatan fisik, jiwa, dan harta. Kehadiran ibadah-ibadah besar ini secara serempak di satu waktu menjadikan awal Dzulhijjah sebagai momen spiritual yang tiada tandingannya.

Kemuliaan ini dipertegas oleh sabda Nabi Muhammad saw. dalam sebuah hadis sahih riwayat Imam Bukhari. Rasulullah saw. bersabda bahwa tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Mendengar hal itu, para sahabat yang sangat antusias dengan ibadah bertanya kepada beliau mengenai perbandingannya dengan jihad, yang selama ini dikenal sebagai amalan tertinggi. Mereka bertanya apakah amalan di awal Dzulhijjah tidak juga bisa ditandingi oleh jihad di jalan Allah. Rasulullah saw. kemudian menjawab tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali bagi seorang laki-laki yang keluar mempertaruhkan jiwa dan hartanya, lalu dia tidak kembali membawa sedikit pun dari keduanya karena gugur di medan perang. Hadis ini menjadi dalil yang sangat kuat bahwa setiap amal kecil yang kita lakukan di awal Dzulhijjah, mulai dari senyuman, zikir, hingga sedekah, nilainya berlipat ganda dan sangat dicintai Allah melampaui amalan besar di waktu yang lain.

Mengetahui betapa besarnya keutamaan yang disediakan, umat Islam dianjurkan untuk tidak menyia-nyiakan waktu emas ini. Bentuk amalan yang disyariatkan pun sebenarnya sangat terjangkau bagi setiap individu. Rasulullah saw. menganjurkan umatnya untuk memperbanyak tahlil, takbir, dan tahmid sepanjang sepuluh hari tersebut. Menggaungkan zikir di sela-sela aktivitas harian merupakan cara termudah untuk menghidupkan sunnah yang mulai banyak dilupakan ini. Selain itu, bagi masyarakat yang memiliki kelapangan finansial, mempersiapkan hewan kurban terbaik menjadi bentuk nyata dari kombinasi rasa syukur, ketakwaan, dan kepedulian sosial terhadap sesama.

Kesimpulannya, memahami perbandingan dan dalil keutamaan antara sepuluh hari pertama Dzulhijjah dan hari-hari terakhir Ramadan membuka mata kita akan luasnya kasih sayang Allah. Peluang untuk mendulang pahala besar dan menghapus dosa-dosa masa lalu tidak hanya diberikan sekali dalam setahun pada momen Ramadan saja. Sepuluh hari pertama Dzulhijjah adalah kesempatan emas kedua yang dihadiahkan kepada umat Islam agar dapat membersihkan hati, meningkatkan kapasitas spiritual, serta memperkuat modal sosial melalui ragam ibadah yang holistik. Menghidupkan hari-hari ini dengan amal saleh adalah bukti nyata dari keimanan seorang hamba yang menghargai setiap waktu mulia yang telah ditetapkan oleh syariat.