Kisah Tirto Adhi Soerjo, Sang Pemula Pergerakan yang Mengguncang Hindia Belanda Lewat Tulisan
Admin WGM - Wednesday, 20 May 2026 | 09:00 AM


Pada masa ketika sebagian besar bangsawan pribumi memilih tunduk dan menikmati fasilitas dari pemerintah kolonial Hindia Belanda, seorang pemuda asal Blora justru mengambil jalan yang berbeda. Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo memilih menanggalkan kenyamanan status kebangsawanannya. Ia membelokkan arah hidupnya dari calon dokter di STOVIA menjadi seorang juru warta. Keputusan tersebut menjadi awal mula lahirnya tradisi pers perlawanan di tanah air yang kelak melahirkan kesadaran nasional.
Lahir pada tahun 1880, Tirto tumbuh dalam lingkungan yang menyaksikan langsung kesewenang-wenangan para pejabat kolonial dan sekutunya. Keadaan tersebut memicu gejolak dalam dirinya. Ia menyadari bahwa perlawanan fisik tidak lagi efektif menghadapi kekuatan modern Belanda. Bangsa ini membutuhkan sebuah alat baru yang mampu menyatukan suara, menyebarkan ide, serta mengedukasi masyarakat luas secara serentak. Alat itu adalah media cetak.
Langkah monumental Tirto dimulai ketika ia mendirikan surat kabar Medan Prijaji pada tahun 1907 di Bandung. Surat kabar ini dicatat dalam sejarah sebagai media massa pertama yang seluruh pengelolaannya, mulai dari modal, redaksi, percetakan, hingga sirkulasi, berada di tangan orang pribumi asli. Medan Prijaji bukan sekadar lembaran kertas berisi informasi harian, melainkan sebuah panggung advokasi publik bagi rakyat yang tertindas.
Melalui gaya penulisan yang lugas, tajam, dan menggunakan bahasa Melayu pasar yang mudah dipahami oleh masyarakat luas, Tirto mulai membongkar borok pemerintahan kolonial. Ia menyuarakan kritik pedas terhadap penyalahgunaan kekuasaan oleh para bupati yang korup dan kesewenang-wenangan pengusaha perkebunan tebu kapitalis. Keberanian Tirto membuat Medan Prijaji lekat dengan jargon tempat mengadu bagi rakyat yang diperlakukan tidak adil.
Tirto juga memperkenalkan metode jurnalisme investigasi pertama di Indonesia. Ia tidak ragu turun langsung ke lapangan demi mengumpulkan bukti-bukti ketidakadilan sebelum menuangkannya ke dalam artikel yang menggigit. Baginya, pers memiliki fungsi suci sebagai kontrol sosial dan pembela kaum lemah atau yang ia sebut sebagai kaum yang terperintah.
Selain aktif di dunia jurnalistik, Tirto mengepakkan sayapnya di dunia sastra dan organisasi. Ia menulis beberapa fiksi yang diangkat dari kisah nyata ketimpangan sosial masa itu, seperti cerita Nyai Permana dan Busono. Melalui karya sastra tersebut, ia menyelipkan pesan-pesan emansipasi dan kritik terhadap feodalisme yang masih mengakar kuat di kalangan masyarakat Jawa sendiri. Pada tahun 1906, ia juga membidirikan Sarekat Prijaji yang menjadi cikal bakal organisasi modern bumiputra.
Keberanian yang luar biasa ini tentu harus dibayar mahal. Pemerintah kolonial Hindia Belanda yang merasa gerah dengan kritik-kritik tajam Tirto mulai mencari berbagai alasan untuk membungkamnya. Aturan hukum kolonial yang ketat mengenai delik pers akhirnya menjerat Tirto. Ia berulang kali menghadapi persidangan hingga dijatuhi hukuman pengasingan ke Teluk Betung, Lampung, dan kemudian ke Pulau Bacan, Maluku Utara.
Pengasingan demi pengasingan secara perlahan menghancurkan kesehatan fisik dan kelangsungan bisnis penerbitannya. Surat kabar Medan Prijaji dipaksa berhenti terbit, dan ruang geraknya dikunci rapat oleh intelijen Belanda. Ketika ia kembali dari pengasingan dalam kondisi sakit-sakitan, Tirto mendapati dirinya terasing di tanah airnya sendiri. Sahabat dan pengikutnya menjauh karena ketakutan terhadap ancaman intelijen kolonial.
Tirto Adhi Soerjo mengembuskan napas terakhirnya dalam kesunyian pada tahun 1918 di Batavia tanpa ada penghormatan besar. Kendati wafat dalam kesepian, benih-benih pemikiran yang ia tanam lewat tulisan tajamnya telah tumbuh subur di benak generasi penerus. Kisah perjuangannya yang heroik menginspirasi sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer untuk mengabadikan figur Tirto sebagai tokoh utama bernama Minke dalam tetralogi novel Pulau Buru yang legendaris. Atas jasa-jasanya yang sangat besar, pemerintah Indonesia kemudian menetapkan Tirto Adhi Soerjo sebagai Bapak Pers Nasional.
Next News

Gak Boleh Dilewatkan, Ini 3 Rekomendasi Film Dokumenter Tema 1998 yang Wajib Kamu Tonton!
10 hours ago

Bukan Cuma Belajar Kedokteran, Mahasiswa STOVIA Ini Sukses Mengubah Arah Sejarah Indonesia
2 days ago

Bedah Linguistik: Mengapa Kata 'Qurban' Berubah Menjadi 'Kurban' dalam Kamus Baku KBBI?
4 days ago

Siti Walidah dan Peran Perempuan dalam Keperawatan Tradisional Indonesia
9 days ago

Sejarah PPNI Perjalanan Persatuan Perawat Nasional Indonesia Sejak 1974
10 days ago

Pesona Pantai Keramat: Keindahan Tersembunyi di Ujung Utara Nusantara
10 days ago

Tradisi Mane'e: Kearifan Lokal Menangkap Ikan dengan Janur Kelapa di Kepulauan Talaud
10 days ago

Suku Talaud di Pulau Miangas Penjaga Budaya dan Kedaulatan di Beranda Terluar Nusantara
10 days ago

Lebih Dekat ke Filipina daripada ke Manado Tantangan Hidup di Beranda Depan Negara
10 days ago

Tari Caci Tradisi Adu Ketangkasan yang Mengikat Persaudaraan di Tanah Manggarai
11 days ago




