Selasa, 12 Mei 2026
Walisongo Global Media
Culture

Siti Walidah dan Peran Perempuan dalam Keperawatan Tradisional Indonesia

Admin WGM - Tuesday, 12 May 2026 | 07:30 PM

Background
Siti Walidah dan Peran Perempuan dalam Keperawatan Tradisional Indonesia
Siti Walidah (Republika /)

Dalam narasi sejarah kesehatan di Indonesia, nama Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan menonjol sebagai tokoh yang mengubah wajah keterlibatan perempuan di ruang publik, termasuk dalam ranah asuhan kesehatan. Pada awal abad ke-20, keperawatan di Indonesia masih didominasi oleh praktik tradisional yang sering kali terisolasi di dalam rumah tangga. Siti Walidah hadir dengan visi untuk mengorganisasi peran alami perempuan tersebut menjadi sebuah gerakan kesehatan komunitas yang sistematis.

Perempuan sebagai "Penyembuh" dalam Tradisi Lokal

Secara tradisional, perempuan Indonesia telah lama memegang peran sebagai caregiver atau pemberi asuhan utama dalam keluarga. Pengetahuan mengenai tanaman obat (jamu), teknik pemijatan, hingga perawatan pasca-persalinan diwariskan secara lisan dari ibu ke anak perempuan. Namun, praktik ini sering kali terbatas pada lingkup domestik. Siti Walidah melihat potensi besar ini dan melalui organisasi Aisyiyah (yang didirikan pada 1917), ia mulai mengarahkan pengetahuan tradisional tersebut agar lebih terstruktur dan memperhatikan aspek sanitasi serta ilmu kesehatan dasar.

Nyai Ahmad Dahlan dan Gerakan Kesehatan Aisyiyah

Siti Walidah memahami bahwa kesehatan adalah pilar penting bagi kemajuan bangsa. Ia mendorong perempuan untuk tidak hanya menjadi perawat di rumah sendiri, tetapi juga aktif di masyarakat.

  • Pendidikan Kesehatan: Ia mempelopori kursus-kursus bagi perempuan yang mencakup cara merawat orang sakit, pentingnya kebersihan lingkungan, dan perawatan bayi.
  • Pendirian Balai Pengobatan: Di bawah pengaruh dan bimbingannya, Aisyiyah mulai merintis pelayanan kesehatan masyarakat yang kemudian berkembang menjadi balai kesehatan dan rumah sakit ibu dan anak.
  • Peran dalam Kepanduan: Melalui gerakan kepanduan putri (Sopo Tresno yang kemudian menjadi Nasyiatul Aisyiyah), keterampilan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) mulai diajarkan secara luas kepada kaum perempuan.

Keperawatan sebagai Bentuk Emansipasi

Bagi Siti Walidah, peran perempuan dalam keperawatan adalah bentuk ibadah sekaligus emansipasi. Ia mengajarkan bahwa perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk menolong sesama yang menderita tanpa harus kehilangan identitas budayanya. Ia mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dengan praktik perawatan, menciptakan model "keperawatan holistik" yang menyentuh aspek fisik maupun mental pasien.

Warisan untuk Keperawatan Modern

Gerakan yang dimulai oleh Siti Walidah memberikan dasar bagi profesi keperawatan di Indonesia, terutama dalam konsep keperawatan komunitas. Ia membuktikan bahwa perempuan memiliki kemampuan organisatoris untuk mengelola institusi kesehatan. Warisannya terlihat jelas pada ribuan pusat kesehatan dan rumah sakit yang dikelola oleh organisasi perempuan Islam di Indonesia hingga saat ini, yang tetap mempertahankan nilai-nilai empati dan kesantunan dalam asuhan keperawatan.

Sebagai penutup, Siti Walidah adalah jembatan antara keperawatan tradisional yang bersifat domestik menuju praktik kesehatan masyarakat yang terorganisir. Melalui dedikasinya, peran perempuan dalam keperawatan Indonesia tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan diakui sebagai pilar utama dalam pembangunan kesehatan nasional. Menghargai perjuangannya berarti terus memupuk semangat pelayanan dan kepedulian yang menjadi inti dari profesi keperawatan.