Selasa, 12 Mei 2026
Walisongo Global Media
Culture

6 Tradisi Bugis yang Unik dan Sarat Makna Budaya

Admin WGM - Sunday, 10 May 2026 | 10:00 PM

Background
6 Tradisi Bugis yang Unik dan Sarat Makna Budaya
Mappalette (Etnis.id/)

Tradisi Bugis Jadi Warisan Budaya yang Tetap Bertahan di Era Modern

Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan budaya yang sangat beragam. Salah satu suku yang memiliki tradisi kuat dan masih terus dijaga hingga saat ini adalah Suku Bugis dari Sulawesi Selatan.

Masyarakat Bugis dikenal memiliki adat istiadat yang diwariskan turun-temurun sejak zaman nenek moyang. Berbagai tradisi tersebut tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat, tetapi juga mengandung nilai gotong royong, penghormatan terhadap leluhur, hingga rasa syukur kepada Tuhan.

Hingga kini, sejumlah tradisi Bugis masih rutin dilaksanakan dalam berbagai acara adat maupun kehidupan sehari-hari. Bahkan, beberapa di antaranya menjadi daya tarik budaya yang mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Berikut sejumlah tradisi Bugis yang unik dan sarat makna budaya.

1. Mappere, Tradisi Ayunan sebagai Simbol Kesuburan

Salah satu tradisi Bugis yang cukup unik adalah Mappere. Tradisi ini biasanya dilakukan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil panen yang melimpah.

Dalam bahasa Bugis, "ma" berarti melakukan atau bertindak, sedangkan "pere" berarti mengayun. Tradisi ini dilakukan dengan cara mengayunkan gadis-gadis desa menggunakan ayunan besar yang ditarik oleh beberapa pria dewasa.

Ayunan tersebut bahkan dapat mencapai ketinggian belasan meter sehingga membutuhkan keberanian dari peserta yang ikut dalam tradisi tersebut.

Masyarakat Bugis dahulu percaya bahwa gadis yang berayun tinggi seperti bidadari akan membawa keberkahan dan kesuburan bagi ladang pertanian mereka. Karena itu, Mappere menjadi bagian penting dari pesta rakyat di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Bone.

Selain sebagai ritual adat, tradisi ini kini juga berkembang menjadi atraksi budaya yang menarik perhatian wisatawan.

2. Mappalette Bola, Tradisi Gotong Royong Memindahkan Rumah

Tradisi Bugis lain yang terkenal adalah Mappalette Bola atau tradisi memindahkan rumah secara bersama-sama tanpa membongkarnya terlebih dahulu.

Rumah panggung khas Bugis biasanya terbuat dari kayu sehingga memungkinkan untuk diangkat dan dipindahkan ke lokasi baru dengan tenaga manusia. Dalam prosesnya, puluhan hingga ratusan warga bergotong royong mengangkat rumah secara bersamaan.

Tradisi ini mencerminkan kuatnya nilai solidaritas dan kebersamaan masyarakat Bugis. Selain itu, Mappalette Bola juga menunjukkan kemampuan teknik tradisional masyarakat dalam membangun rumah adat.

Di balik proses pemindahan rumah, masyarakat Bugis biasanya melakukan ritual tertentu untuk menentukan hari baik serta memohon keselamatan selama proses berlangsung. Pengetahuan tersebut diwariskan melalui naskah lontara yang hanya dipahami tokoh adat tertentu.

Tradisi ini sempat viral di media sosial dan forum daring karena dianggap unik dan jarang ditemukan di daerah lain. Beberapa pengguna Reddit bahkan menyebut tradisi tersebut sebagai salah satu bentuk gotong royong paling ekstrem di Indonesia.

3. Mappadendang, Pesta Syukur Setelah Panen

Mappadendang merupakan tradisi pesta rakyat yang dilakukan setelah musim panen padi selesai. Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur masyarakat Bugis atas hasil pertanian yang diperoleh.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat menumbuk gabah menggunakan alu dan lesung secara bersama-sama dengan irama tertentu. Aktivitas tersebut menghasilkan bunyi ritmis yang khas dan sering diiringi lagu tradisional Bugis.

Tradisi Mappadendang biasanya dilaksanakan pada malam hari di lapangan terbuka dan dihadiri masyarakat dari berbagai kampung sekitar.

Selain menjadi bentuk syukur, kegiatan tersebut juga menjadi ajang hiburan rakyat dan mempererat hubungan sosial antarwarga desa.

4. Mappacci, Ritual Pensucian Menjelang Pernikahan

Dalam adat pernikahan Bugis, Mappacci menjadi salah satu prosesi paling penting sebelum akad nikah dilaksanakan.

Kata "pacci" berasal dari daun pacar atau henna yang biasa digunakan untuk menghias tangan. Dalam filosofi Bugis, pacci memiliki makna kesucian dan kebersihan hati.

Prosesi Mappacci dilakukan dengan menempelkan daun pacar ke tangan calon pengantin sambil dipanjatkan doa-doa keselamatan dan keberkahan rumah tangga.

Ritual ini melibatkan keluarga besar dan kerabat dekat sebagai simbol dukungan moral kepada calon mempelai. Suasana prosesi biasanya berlangsung khidmat dan penuh nuansa kekeluargaan.

Masyarakat Bugis percaya bahwa Mappacci menjadi simbol pembersihan diri sebelum memasuki kehidupan baru sebagai suami dan istri. Karena itu, tradisi ini masih sangat dijaga hingga sekarang, terutama pada pernikahan adat Bugis di Sulawesi Selatan.

5. Mabbaca Doang, Tradisi Membaca Doa Bersama

Tradisi berikutnya adalah Mabbaca Doang yang secara harfiah berarti membaca doa bersama.

Tradisi ini biasanya dipimpin oleh tokoh agama, imam masjid, atau pemuka adat dalam acara tertentu seperti syukuran, pindah rumah, panen, hingga hajatan keluarga.

Melalui Mabbaca Doang, masyarakat berkumpul untuk memanjatkan doa demi keselamatan dan keberkahan bersama.

Tradisi ini menunjukkan kuatnya pengaruh nilai religius dalam kehidupan masyarakat Bugis. Selain itu, Mabbaca Doang juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga.

6. Sigajang Laleng Lipa, Duel Kehormatan dalam Sarung

Salah satu tradisi Bugis yang paling ekstrem adalah Sigajang Laleng Lipa atau duel dalam sarung menggunakan senjata tradisional badik.

Tradisi ini dahulu dilakukan sebagai jalan terakhir untuk menyelesaikan konflik atau sengketa antarindividu. Dua orang yang berselisih akan masuk ke dalam satu sarung lalu bertarung menggunakan badik hingga salah satu kalah.

Bagi masyarakat Bugis-Makassar, tradisi tersebut melambangkan keberanian, harga diri, dan kehormatan.

Meski kini sudah jarang dilakukan karena faktor keamanan dan hukum modern, Sigajang Laleng Lipa tetap dikenang sebagai bagian dari sejarah budaya Bugis.

Budaya Bugis Jadi Kekayaan Nusantara

Berbagai tradisi Bugis menunjukkan bahwa budaya lokal Indonesia memiliki nilai filosofi yang mendalam dan kaya akan makna sosial.

Mulai dari tradisi syukuran panen, gotong royong, hingga ritual pernikahan, seluruhnya mencerminkan kuatnya hubungan masyarakat Bugis dengan adat, agama, dan kehidupan sosial.

Di tengah perkembangan zaman modern, masyarakat Bugis masih terus menjaga berbagai tradisi tersebut agar tidak hilang ditelan waktu. Pelestarian budaya lokal dinilai penting sebagai bagian dari identitas bangsa sekaligus warisan budaya Nusantara yang harus dijaga generasi muda.