Selasa, 12 Mei 2026
Walisongo Global Media
Culture

Kampung Adat Bena Menelusuri Jejak Zaman Megalitikum di Kaki Gunung Inerie

Admin WGM - Monday, 11 May 2026 | 11:30 AM

Background
Kampung Adat Bena Menelusuri Jejak Zaman Megalitikum di Kaki Gunung Inerie
Kampung Adat Bena (Portal Ngada /)

Berada di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut, Kampung Adat Bena seolah menjadi mesin waktu yang melestarikan napas peradaban zaman batu. Terletak di Kabupaten Ngada, Flores, desa ini merupakan salah satu perkampungan adat tertua di Indonesia yang masih memegang teguh tradisi Megalitikum. Dengan bentuk perkampungan yang memanjang dari utara ke selatan, Bena berdiri kokoh di bawah pengawasan Gunung Inerie, yang dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai tempat tinggal para dewa.

Arsitektur dan Struktur Megalitikum

Ciri paling mencolok dari Kampung Bena adalah keberadaan struktur batu-batu besar yang tertanam di tengah desa. Batu-batu ini bukan sekadar hiasan, melainkan sarana pemujaan dan simbol kehadiran leluhur. Di bagian tengah lapangan desa, terdapat bangunan kecil yang disebut Bhaga (simbol kewanitaan) dan Ngadhu (tiang kayu beratap ilalang simbol kejantanan).

Struktur desa yang berundak-undak menyerupai tangga menunjukkan hierarki dan penghormatan terhadap alam. Rumah-rumah adat yang disebut Sao berjajar rapi mengikuti kontur tanah, dibangun menggunakan material alami seperti bambu, kayu, dan atap rumbia. Setiap detail bangunan, mulai dari hiasan tanduk kerbau hingga simbol ayam jantan di atas atap, memiliki makna filosofis tentang perlindungan dan kemakmuran bagi penghuninya.

Filosofi Kehidupan dan Penghormatan Leluhur

Masyarakat Bena meyakini bahwa mereka hidup berdampingan dengan roh para leluhur. Hal ini tercermin dari tata letak makam batu yang diletakkan tepat di depan rumah-rumah warga. Keberadaan makam ini menjadi pengingat harian akan silsilah keluarga dan pentingnya menjaga warisan nilai-nilai lama.

Kehidupan di Bena sangat kental dengan semangat gotong royong. Meskipun zaman telah modern, masyarakatnya tetap setia pada kearifan lokal dalam mengelola lahan dan melakukan ritual adat. Menelusuri jalan setapak di antara rumah-rumah kayu ini memberikan perasaan damai sekaligus kekaguman akan ketangguhan peradaban manusia dalam menjaga jati dirinya di tengah arus perubahan zaman.

Gunung Inerie: Sang Pelindung Abadi

Gunung Inerie yang menjulang megah dengan bentuk piramida sempurnanya bukan sekadar latar pemandangan. Bagi warga Bena, Inerie adalah sosok ibu yang melindungi. Keberadaan gunung ini memberikan kesuburan bagi tanah di sekitarnya, yang menjadi sumber penghidupan melalui hasil perkebunan seperti kopi dan cengkeh. Hubungan antara gunung, batu (megalit), dan manusia di Bena menciptakan sebuah segitiga harmoni yang sangat kuat.

Sebagai penutup, mengunjungi Kampung Adat Bena adalah sebuah pengalaman spiritual untuk memahami akar kebudayaan Nusantara. Jejak-jejak peradaban batu yang masih hidup ini mengajarkan kita tentang kerendahan hati di hadapan alam dan pentingnya menghargai sejarah. Di kaki Gunung Inerie, waktu seolah berhenti, membiarkan kita merenungkan kembali makna kehormatan dan pengabdian pada tradisi yang telah diwariskan selama ribuan tahun.