Bedah Linguistik: Mengapa Kata 'Qurban' Berubah Menjadi 'Kurban' dalam Kamus Baku KBBI?
Admin WGM - Monday, 18 May 2026 | 04:30 PM


Dinamika penyerapan kosakata asing ke dalam bahasa Indonesia sering kali mengubah atau mempersempit makna asli dari bahasa sumbernya. Salah satu fenomena linguistik yang menarik perhatian para pakar semantik adalah penggunaan diksi "qurban" (kurban) dan "nahr" yang berasal dari bahasa Arab. Dalam konteks kebahasaan di Indonesia, kedua istilah ini kerap berkelindan dengan ritual hari raya keagamaan, tetapi menyimpan akar etimologi yang jauh lebih luas dan mendalam secara historis.
Penelusuran terhadap evolusi makna kedua kata ini tidak hanya menyingkap bagaimana struktur bahasa Indonesia mengadopsi unsur eksternal, melainkan juga bagaimana masyarakat lokal mengontekstualisasikan konsep teologis menjadi bagian dari budaya tutur sehari-hari.
Pergeseran Semantik Kata 'Kurban'
Secara etimologis, kata kurban diserap dari akar kata bahasa Arab qaraba ($قَرَبَ$) yang memiliki arti dasar "dekat" atau "mendekatkan diri". Dalam leksikon asalnya, bentuk nomina qurban ($قُرْبَان$) merujuk pada segala sesuatu yang digunakan sebagai sarana untuk mendekatkan makhluk kepada Sang Pencipta, tidak terbatas pada hewan semata. Namun, setelah masuk ke dalam ekosistem bahasa Indonesia, kata ini mengalami proses penyempitan makna (spesialisasi).
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata "kurban" kini secara spesifik didefinisikan sebagai persembahan kepada Allah (seperti domba, sapi, unta yang disembelih pada Hari Raya Haji) atau seseorang yang menjadi penderita akibat suatu kejadian. Transformasi ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia mengambil inti ritualistik dari kata tersebut dan mengendapkannya sebagai istilah teknis keagamaan dan kemanusiaan.
Eksistensi Istilah 'Nahr' yang Terisolasi
Berbeda dengan kata kurban yang mengalami perluasan pemakaian di luar ranah ritual, diksi "nahr" ($نَحْر$) memiliki nasib yang berbeda dalam penyerapan bahasa Indonesia. Di dalam bahasa Arab, nahr secara spesifik berarti "menyembelih" atau "memotong", khususnya unta dalam posisi berdiri dengan menusuk pangkal lehernya. Istilah ini juga diabadikan dalam kitab suci melalui konsep Yaumun-Nahr (Hari Penyembelihan) yang merujuk pada tanggal 10 Zulhijah.
Dalam komparasi linguistik Indonesia, kata "nahr" tidak diserap secara masif menjadi kata dasar aktif seperti halnya kurban. Istilah ini umumnya hanya muncul dalam literatur fikih, khotbah keagamaan, atau kajian akademis Islam, tanpa bertransformasi menjadi kata kerja bentukan dalam percakapan umum. Masyarakat domestik lebih memilih frasa "hari penyembelihan" atau langsung merujuknya pada "Hari Raya Iduladha".
Standarisasi KBBI dan Fonologi Serapan
Proses integrasi kedua diksi ini juga mengilustrasikan bagaimana sistem fonologi bahasa Indonesia bekerja mengadaptasi bunyi-bunyi Arab yang tidak memiliki padanan langsung dalam aksara Latin Nusantara. Huruf qaf ($ق$) pada kata qurban secara resmi distandarisasi menjadi huruf "k", menghasilkan bentuk baku kurban. Penulisan dengan huruf "q" kini dikategorikan sebagai bentuk tidak baku dalam tata bahasa nasional.
Sementara itu, konsonan hambat glotal atau huruf ha ($ح$) pada kata nahr tetap dipertahankan dalam transliterasi formal, meskipun dalam pengucapan lisan masyarakat Indonesia sering kali terjadi peluluhan bunyi menjadi lebih lembut atau mengalami penambahan vokal (anaptiks) menjadi "nahar" demi menyesuaikan dengan kaidah artikulasi lidah lokal.
Konstruksi Budaya Lewat Bahasa
Langkah penyerapan istilah ini menjadi bukti nyata bahwa bahasa Indonesia bersifat dinamis, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan peradaban serta keyakinan masyarakatnya. Penyerapan istilah teologis menjadi kosakata sosiologis seperti penggunaan kata "korban bencana" atau "berkorban demi cinta" menunjukkan bahwa memori linguistik masyarakat Indonesia mampu mengolah konsep transendental (kedekatan kepada Tuhan) menjadi konsep horizontal (solidaritas antarmanusia).
Melalui pemahaman etimologi yang tepat, para pengguna bahasa diharapkan tidak hanya mampu menggunakan kata secara benar sesuai kaidah KBBI, tetapi juga mampu mengapresiasi kekayaan sejarah pembentukan kata yang mendasari jalinan komunikasi bangsa hingga era modern ini.
Next News

Dari Sumpah Gajah Mada ke Ruang Angkasa: Asal-usul dan Filosofi Nama Satelit Palapa
2 days ago

Tiga Mahakarya Kuno Asia Tenggara: Menjelajahi Sejarah Agung Borobudur, Angkor Wat, dan Bagan
2 days ago

Serupa tapi Tak Sama: Menemukan Kemiripan Kosakata Bahasa Indonesia dan Tagalog Filipina
2 days ago

Terkubur di Bawah Hamparan Pasir, Kota Kuno dari Era Bizantium Ditemukan di Oasis Dakhla Mesir
4 days ago

Bukan Dongeng Pengantar Tidur Biasa, Ini Fungsi Tersembunyi Cerita Rakyat Zaman Dulu
4 days ago

Pentingnya Melestarikan Bahasa Daerah di Era Digital (Menjaga Identitas Bangsa)
4 days ago

Menolak Lupa: Peran Pahlawan di Balik Berdirinya Bank Nasional Pertama di Indonesia
5 days ago

Sempat Dicap Racun Revolusi, Primadona Pantura Kini Kembali Menjemput Takhta Tradisi
8 days ago

Batang Art Festival Berpeluang Masuk Kalender Event Nasional, Angkat Budaya Lokal ke Panggung Lebih Luas
12 days ago

Ziarah Agung Awal Suro: Ikhtiar Mengetuk Pintu Langit di Wonobodro
12 days ago





