BBM Nonsubsidi Naik Hingga 30.000 Rupiah Per Liter, Nelayan Pekalongan Bertahan dengan Biosolar Meski Sempat Langka
Trista - Wednesday, 20 May 2026 | 03:59 PM


Kenaikan harga sejumlah Bahan Bakar Minyak (BBM) telah dilakukan PT Pertamina sebagai langkah penyesuaian harga di tengah tekanan geopolitik yang berpengaruh pada sektor ekonomi. Mulai tanggal 4 Mei 2026, harga BBM Pertamax Turbo (RON 98) di Pulau Jawa ditetapkan menjadi Rp19.900 per liter.
Sementara itu, Pertamina Dex Series atau BBM jenis solar turut mengalami peningkatan harga dari Rp23.600 per liter mencapai Rp26.000 per liter untuk jenis Dexlite (CN 51). Jenis lainnya, Pertamina Dex (CN 53), turut mengalami kenaikan harga dari Rp23.900 menjadi Rp27.900 per liter.
Namun, BBM bersubsidi seperti Biosolar tidak mengalami kenaikan dengan harga jual Rp6.800 per liter. Meskipun begitu, beberapa waktu lalu, ketersediaan Biosolar di sejumlah wilayah mengalami kelangkaan. Kondisi ini dinyatakan oleh sejumlah nelayan di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Kabupaten Batang dan TPI Kab. Pekalongan.
Sementara itu, di TPI Kota Pekalongan aktivitas melaut masih sama seperti biasanya. Kenaikan harga bahan bakar tidak terjadi bagi nelayan setempat, tetapi ketersediaan tergolong langka. Hal ini disampaikan oleh salah satu kapten kapal ikan, bahan bakar yang dibelinya masih dalam angka wajar, yakni Rp7.000 per liter.
"Masih normal, tujuh ribu (rupiah) per liter. Kita biasanya beli di KUD (Koperasi Unit Desa). Tapi kalau ambil tetap di SPBU, cuman kan bayarnya aja," ungkap Sumini (50) kepada WGM, Rabu (20/5/2026).
Sumini menyampaikan, dirinya dan awak kapal sempat tidak melaut karena ketersediaan bahan bakar yang kosong. Hingga saat ini mereka masih menggunakan BBM subsidi dan belum ingin mengambil risiko biaya jalan lebih besar dengan penggunaan BBM nonsubsidi.
"Kemarin langka, stok ada. Sini enak, masih ada dan kita tetap melaut seperti biasa. Tapi tergantung pom (SPBU), kalau ada ya dapat, kalau habis nunggu biasanya," lanjut Sumini.
Hal serupa dirasakan oleh Muhtarom (48) yang menyampaikan dirinya masih menggunakan subsidi dengan harga Rp6.800. Pembelian harga solar di Kota Pekalongan oleh nelayan menggunakan koperasi desa melalui kode batang (barcode).
"Untuk stok aman, harga juga aman. Saya melaut terus setiap hari berangkat dari jam 05.00 WIB sampai darat jam 08.00 lagi," ungkap Muhtarom, Rabu (20/5/2026).
Menghadapi dinamika harga dan fluktuasi pasokan solar subsidi saat ini, sinergi antara pihak pangkalan (SPBU), koperasi unit desa, dan ketepatan sistem kuota digital kini menjadi penentu nasib para nelayan agar dapur mereka tetap mengepul di tengah tekanan ekonomi global.
Next News

John Herdman Terapkan Standar Tinggi, Posisi Pemain Timnas Indonesia Belum Aman Jelang ASEAN Championship 2026
in 5 hours

Korban Tembus 60 Orang! Ini Modus Mahasiswa FEB USU Pelecehan Seksual dari Ajak Check-in hingga Kuntit Kos
in 4 hours

Seorang Perempuan Asal Pemalang Ditemukan Meninggal di Rumah Warga Karanganyar
in 2 hours

Geger Brankas Rahasia! Polisi Sita Emas 74 Kg dan Uang Rp543 Miliar Hasil Korupsi, Polri-KPK Buru Tersangka
in 3 hours

Korban Tewas Gempa Venezuela Tembus 3.889 Orang, PM Vietnam Apresiasi Ratusan Prajurit Evakuasi
in 2 hours

Sering Insomnia? Coba 5 Ritual Malam Ini untuk Mengatasi Susah Tidur
in 4 hours

Kewalahan dengan Media Sosial? Coba Panduan Digital Detox untuk Kesehatan Mental
in 2 hours

Mens Rea Etik Suryani: KPK Sebut Korupsi di Sukoharjo Estafet Antarbupati
an hour ago

Diserang Isu Money Laundering Raffi Ahmad, RANS Buka Suara di Tengah Persiapan Melantai di Bursa!
2 hours ago

Sogok Massal Penguasa Gerbang Negara: Bagaimana John Field dkk Membeli Kebijakan Bea Cukai Senilai Puluhan Miliar
3 hours ago





