Jumat, 22 Mei 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Xi Jinping di Balai Agung Rakyat: Taiwan dan Tiongkok Adalah Keluarga Besar yang Tak Terpisahkan

Admin WGM - Saturday, 11 April 2026 | 05:00 PM

Background
Xi Jinping di Balai Agung Rakyat: Taiwan dan Tiongkok Adalah Keluarga Besar yang Tak Terpisahkan
Pertemuan Pemimpin Oposisi Taiwan di Beijing (ABC News /)

Presiden Tiongkok, Xi Jinping, kembali menegaskan posisi keras sekaligus persuasif Beijing terkait hubungan lintas selat saat menerima kunjungan pemimpin oposisi Taiwan di Balai Agung Rakyat, Beijing. Dalam pertemuan bersejarah tersebut, Xi menekankan bahwa rakyat di kedua sisi Selat Taiwan adalah "satu keluarga" dan menegaskan bahwa masa depan wilayah tersebut harus tetap berada di bawah kendali bangsa Tiongkok, tanpa campur tangan kekuatan asing.

Pertemuan ini menjadi sinyal diplomatik yang kuat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan transisi kepemimpinan di Taiwan serta dinamika politik di Amerika Serikat.

Dalam pidatonya, Presiden Xi Jinping menyampaikan pesan emosional sekaligus politis. Ia menekankan bahwa perbedaan sistem politik tidak boleh menjadi penghalang bagi persatuan nasional. Menurut Xi, hubungan darah antara rakyat Tiongkok dan Taiwan adalah ikatan yang tidak bisa diputus oleh kekuatan apa pun.

"Intervensi eksternal tidak dapat menghentikan tren bersejarah penyatuan kembali keluarga dan negara. Kita harus memegang teguh masa depan lintas selat di tangan rakyat Tiongkok sendiri," ujar Xi Jinping dalam laporan yang dirilis oleh media pemerintah, Jumat (10/4/2026).

Pernyataan ini secara luas ditafsirkan sebagai bentuk penolakan terhadap pengaruh Washington yang kian intensif di wilayah tersebut. Beijing berusaha menunjukkan bahwa pintu dialog tetap terbuka bagi pihak-pihak di Taiwan yang mengakui prinsip "Satu Tiongkok", namun tetap tertutup bagi gerakan separatis.

Para analis internasional melihat kunjungan ini bukan sekadar pertemuan seremonial. Di tengah memanasnya persaingan global, Beijing dinilai sedang mengirimkan pesan terselubung kepada Amerika Serikat, khususnya kepada Donald Trump dan tim kebijakan luar negerinya.

Dengan menyambut hangat pemimpin oposisi Taiwan yang lebih condong pada dialog, Beijing ingin menunjukkan bahwa stabilitas kawasan dapat dicapai tanpa campur tangan militer AS. Langkah ini dipandang sebagai upaya Tiongkok untuk memengaruhi opini publik internasional bahwa mereka lebih mengedepankan solusi damai dan diplomasi berbasis kekeluargaan, dibandingkan konfrontasi terbuka.

"Tiongkok sedang memainkan kartu diplomatik yang halus namun tegas. Mereka menunjukkan bahwa ada alternatif selain konflik, yaitu kerja sama lintas selat yang berlandaskan identitas bersama sebagai bangsa Tiongkok," tulis laporan analisis ekonomi politik global.

Kunjungan pemimpin oposisi Taiwan ke Beijing ini memicu perdebatan sengit di dalam negeri Taiwan sendiri. Pemerintah yang berkuasa di Taipei terus mengingatkan akan pentingnya kedaulatan dan kewaspadaan terhadap taktik "persatuan nasional" yang dilancarkan Beijing.

Namun, ketergantungan ekonomi yang besar antara kedua sisi selat membuat pesan Xi Jinping mengenai kerja sama ekonomi tetap memiliki daya tarik bagi sebagian pelaku usaha di Taiwan. Beijing sering kali menggunakan akses pasar sebagai instrumen diplomasi untuk merangkul pihak-pihak yang bersedia berkompromi secara politik.

Meski Xi Jinping menekankan narasi perdamaian, aktivitas militer di sekitar Selat Taiwan tidak sepenuhnya surut. Hal ini menciptakan kontras antara retorika diplomatik di Balai Agung Rakyat dengan realitas keamanan di lapangan. Masyarakat internasional kini memantau apakah ajakan "satu keluarga" ini akan diikuti oleh pengurangan tekanan militer atau justru menjadi pendahulu dari kebijakan yang lebih asertif.

Ke depan, tantangan terbesar bagi kedua belah pihak adalah mencari jalan tengah yang dapat diterima oleh rakyat Taiwan tanpa mengabaikan prinsip kedaulatan yang dipegang teguh oleh Beijing. Di tengah ketidakpastian dunia, masa depan Selat Taiwan tetap menjadi salah satu titik paling krusial bagi perdamaian di kawasan Asia-Pasifik.