Jumat, 22 Mei 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Viral Video Lama Mahasiswa Nyanyi Lagu Bermuatan Pelecehan, Ini Sikap ITB

Admin WGM - Friday, 17 April 2026 | 11:00 AM

Background
Viral Video Lama Mahasiswa Nyanyi Lagu Bermuatan Pelecehan, Ini Sikap ITB
(Instagram/)

Viralnya video lama yang memperlihatkan mahasiswa menyanyikan lagu dengan lirik bermuatan pelecehan terhadap perempuan memicu perhatian publik. Video tersebut diketahui berasal dari kegiatan Orkes Semi Dangdut (OSD) Himpunan Mahasiswa Tambang di Institut Teknologi Bandung dan kembali ramai diperbincangkan di media sosial.

Lagu berjudul "Erika" yang dinyanyikan dalam video tersebut menuai kritik karena dianggap mengandung unsur objektifikasi dan pelecehan verbal terhadap perempuan. Konten ini dinilai tidak sejalan dengan nilai-nilai etika yang seharusnya dijunjung tinggi di lingkungan akademik.

Menanggapi polemik tersebut, pihak ITB akhirnya buka suara. Melalui pernyataan resminya, kampus menegaskan komitmen untuk menjaga lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan menghormati martabat setiap individu.

Direktur Komunikasi dan Hubungan Masyarakat ITB menyatakan bahwa kejadian ini menjadi momentum penting bagi institusi untuk memperkuat budaya kampus yang berlandaskan etika dan penghormatan terhadap sesama.

ITB juga menekankan bahwa segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan seksual verbal, tidak dapat ditoleransi. Kampus berkomitmen untuk terus mendorong upaya pencegahan serta membangun kesadaran kolektif di kalangan mahasiswa.

Di sisi lain, organisasi mahasiswa yang terlibat, yakni Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) ITB, telah lebih dulu menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Mereka mengakui bahwa konten dalam video tersebut menimbulkan keresahan di masyarakat, khususnya bagi perempuan.

HMT ITB juga menegaskan bahwa mereka tidak membenarkan segala bentuk tindakan yang merendahkan martabat individu maupun kelompok. Permintaan maaf ini menjadi langkah awal untuk merespons kritik yang berkembang di ruang publik.

Sebagai tindak lanjut, organisasi tersebut langsung mengambil sejumlah langkah konkret. Salah satunya adalah menurunkan konten video dan audio dari berbagai kanal resmi maupun akun yang terafiliasi.

Selain itu, HMT ITB juga melakukan evaluasi internal secara menyeluruh terhadap kegiatan organisasi. Evaluasi ini mencakup konten, pelaksanaan kegiatan, hingga sistem pengawasan agar lebih selaras dengan nilai etika di lingkungan kampus.

Pihak ITB turut mengapresiasi langkah tersebut, sekaligus mendorong agar proses evaluasi dilakukan secara berkelanjutan. Kampus menilai bahwa insiden ini dapat menjadi pembelajaran penting bagi seluruh civitas akademika.

Menariknya, video yang viral tersebut diketahui merupakan rekaman lama dari tahun 2020. Namun, karena kembali beredar di media sosial, konten tersebut memicu reaksi publik di tengah meningkatnya sensitivitas terhadap isu kekerasan seksual dan kesetaraan gender.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana jejak digital dapat kembali muncul dan menjadi sorotan, meskipun terjadi bertahun-tahun sebelumnya. Dalam era media sosial, konteks dan persepsi publik terhadap suatu konten dapat berubah seiring waktu.

Kasus ini juga memperkuat pentingnya literasi digital di kalangan mahasiswa. Aktivitas yang dianggap biasa di masa lalu dapat dinilai berbeda ketika dilihat dari perspektif sosial yang lebih berkembang.

Di sisi lain, publik juga menyoroti peran organisasi mahasiswa dalam menjaga standar etika dalam setiap kegiatan. Sebagai bagian dari lingkungan akademik, organisasi diharapkan mampu menjadi contoh dalam menjunjung nilai-nilai positif.

Pengamat pendidikan menilai bahwa kejadian ini tidak hanya menjadi tanggung jawab individu atau organisasi tertentu, tetapi juga menjadi refleksi bersama bagi dunia kampus. Pendidikan tidak hanya soal akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan nilai.

Isu pelecehan verbal sendiri menjadi perhatian serius dalam beberapa tahun terakhir. Banyak kampus mulai memperkuat kebijakan pencegahan kekerasan seksual, termasuk dalam bentuk ujaran atau konten yang merendahkan.

Langkah ITB dalam merespons kasus ini dinilai sebagai upaya untuk menjaga integritas institusi sekaligus merespons tuntutan publik terhadap lingkungan pendidikan yang lebih aman.

Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan bahwa komitmen tersebut benar-benar diimplementasikan secara konsisten. Tidak hanya melalui kebijakan, tetapi juga melalui perubahan budaya di tingkat mahasiswa.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa ruang akademik harus menjadi tempat yang aman dan inklusif bagi semua pihak. Setiap bentuk ekspresi, termasuk dalam seni dan hiburan, tetap perlu mempertimbangkan dampak sosialnya.

Pada akhirnya, respons ITB dan HMT ITB menunjukkan bahwa kritik publik dapat menjadi pemicu perubahan. Dengan evaluasi yang tepat, insiden ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat nilai etika dan rasa saling menghormati di lingkungan kampus.