Jumat, 22 Mei 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Viral dan Dihujat, Donald Trump Hapus Gambar AI Dirinya Mirip Yesus

Admin WGM - Tuesday, 14 April 2026 | 07:30 PM

Background
Viral dan Dihujat, Donald Trump Hapus Gambar AI Dirinya Mirip Yesus
(AFP/Yonhap)

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan publik setelah mengunggah gambar berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan dirinya menyerupai sosok Yesus. Unggahan tersebut memicu gelombang kritik luas, hingga akhirnya dihapus dari media sosial.

Gambar tersebut pertama kali diunggah di platform Truth Social milik Trump pada pertengahan April 2026. Dalam visual tersebut, Trump digambarkan mengenakan jubah putih dengan cahaya terang di sekelilingnya, serta gestur seperti sedang menyembuhkan seseorang—ikonografi yang kerap diasosiasikan dengan sosok Yesus dalam tradisi Kristen.

Tak butuh waktu lama, unggahan tersebut langsung viral dan menuai reaksi keras, baik dari publik umum maupun kalangan religius. Kritik bahkan datang dari sebagian pendukung Trump sendiri, khususnya dari kelompok konservatif dan pemuka agama yang menilai gambar tersebut tidak pantas dan berpotensi menyinggung nilai keagamaan.

Sejumlah pihak menyebut visual tersebut sebagai bentuk "blasfemi" atau penistaan simbol agama. Kritik juga menyoroti penggunaan simbol religius dalam konteks politik, yang dinilai dapat memicu sensitivitas di tengah masyarakat yang beragam.

Kontroversi ini semakin besar karena muncul di tengah ketegangan antara Trump dan Pope Leo XIV. Sebelumnya, Trump sempat melontarkan kritik terhadap Paus terkait isu kebijakan luar negeri, yang kemudian memicu respons balik dari Vatikan.

Unggahan gambar AI tersebut pun dianggap sebagian pihak sebagai bagian dari dinamika konflik tersebut, meski tidak ada pernyataan resmi yang secara langsung mengaitkan keduanya.

Menanggapi polemik yang berkembang, Trump akhirnya menghapus unggahan tersebut. Ia menyatakan bahwa penghapusan dilakukan karena menimbulkan "kebingungan" di publik. Menurutnya, gambar tersebut tidak dimaksudkan untuk menggambarkan dirinya sebagai Yesus, melainkan sebagai sosok dokter yang sedang membantu orang sakit.

"Itu seharusnya saya sebagai dokter yang membuat orang menjadi lebih baik," ujar Trump dalam keterangannya kepada media.

Namun, penjelasan tersebut tidak sepenuhnya meredakan kritik. Banyak pihak tetap menilai bahwa elemen visual dalam gambar tersebut, seperti cahaya ilahi dan pose penyembuhan—lebih dekat dengan simbol keagamaan daripada representasi medis biasa.

Sejumlah analis juga menilai bahwa penggunaan konten berbasis AI oleh tokoh politik kini menjadi fenomena yang semakin kompleks. Teknologi AI memungkinkan pembuatan gambar dengan simbolisme kuat yang dapat memicu berbagai interpretasi, termasuk kontroversi.

Dalam konteks ini, kasus Trump menunjukkan bagaimana batas antara ekspresi digital dan sensitivitas publik menjadi semakin tipis. Apa yang mungkin dimaksudkan sebagai simbol atau satire, dapat dengan cepat dipersepsikan berbeda oleh audiens yang lebih luas.

Selain itu, insiden ini juga menyoroti pentingnya etika dalam penggunaan teknologi AI, terutama oleh figur publik. Sebagai pemimpin negara, setiap unggahan memiliki dampak yang lebih besar, baik secara politik maupun sosial.

Di sisi lain, peristiwa ini juga memicu diskusi lebih luas mengenai hubungan antara politik, agama, dan teknologi. Penggunaan simbol religius dalam komunikasi politik bukan hal baru, tetapi dengan hadirnya AI, bentuk dan dampaknya menjadi semakin kompleks.

Bagi sebagian pengamat, kontroversi ini dapat berdampak pada basis dukungan Trump, khususnya dari pemilih religius yang selama ini menjadi salah satu pilar utama kekuatannya.

Meski demikian, belum dapat dipastikan sejauh mana dampak politik dari insiden ini dalam jangka panjang. Yang jelas, peristiwa ini kembali menegaskan bahwa di era digital, satu unggahan dapat dengan cepat menjadi isu global.

Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa teknologi canggih seperti AI tidak hanya membawa peluang, tetapi juga risiko, terutama ketika digunakan dalam ruang publik oleh tokoh berpengaruh.

Dengan semakin berkembangnya teknologi dan media sosial, tantangan dalam menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan sensitivitas publik diperkirakan akan terus menjadi isu penting di masa depan.