Trump "Bercanda" Peristiwa Pearl Harbor sebagai Analogi Serangan Iran, Buka Luka Lama Jepang
Trista - Friday, 20 March 2026 | 01:28 PM


Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu perbincangan publik setelah pernyataan kontroversialnya di konferensi pers bersama Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, di Gedung Putih AS (19/3/2026). Pada pertemuan diplomatik tersebut Trump menyinggung peristiwa Pearl Harbor yang menjadi luka lama Jepang saat ditanya alasan serangan terhadap Iran.
Pernyataan yang dianggap sebagai candaan ini dianggap tidak etis karena melibatkan penyerangan tanpa mempertimbangkan nilai kemanusiaan dan keadilan bagi seluruh dunia. Trump menyatakan bahwa serangan terhadap Iran memang tidak dibeberkan secara publik dengan alasan sebagai kejutan, seperti peristiwa serangan Pearl Harbor dengan serangan balasan yang mengebom Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945.
"Kami tidak memberi tahu siapa pun tentang hal itu karena kami menginginkan kejutan. Siapa yang lebih tahu tentang kejutan daripada Jepang, mengapa Anda tidak memberi tahu saya tentang Pearl Harbor," ungkap Trump, dilansir dari laman detikNews (19/3/2026).
Tidak ada tanggapan secara verbal maupun vokal yang diberikan oleh Takaichi, melainkan dapat dilihat dari ekspresi wajah PM Jepang tersebut mengisyaratkan ketidaknyamanan. Peristiwa Pearl Harbor dan Perang Dunia II menjadi trauma memprihatinkan bagi Jepang dan mereka tidak ingin mengulangi hal yang sama.
Sebagai informasi, Jepang pernah melancarkan serangan di Pearl Harbor, Hawaii, pada 7 Desember 1941 yang menewaskan 2400 warga Amerika di era kepemimpinan Presiden Franklin D. Roosevelt. Serangan ini dianggap sebagai penghinaan oleh Amerika Serikat, sehingga dibalas dengan menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Peristiwa ini turut memukul mundur Jepang dalam kedudukannya di negara Asia, termasuk Indonesia yang pada saat itu menjadi salah satu wilayah penjajahan Jepang.
Pertemuan PM Jepang dengan Presiden Amerika Serikat ini disinyalir menjadi salah satu pertemuan yang membahas terkait permintaan Trump agar Jepang mengirimkan bantuan berupa kapal perang ke Selat Hormuz, Iran. Sebelumnya dalam pernyataan di parlemen, Takaichi mengatakan akan menimbang kajian seruan militer tersebut.
"Kami sama sekali belum mengambil keputusan untuk mengirim kapal pengawal. Kami masih mengkaji apa yang dapat dilakukan Jepang secara mandiri dan apa yang bisa dilakukan dalam kerangka hukum yang ada," ungkap Takaichi, dilansir dari laman Kumparan.com, (16/3).
Dari pernyataan tersebut, setelahnya Takaichi dijadwalkan bertemu Trump di Washington D.C. untuk membahas situasi dan keputusan tersebut. Dilansir dari ANTARA, yang mengutip melalui tayangan stasiun TV Jepang NHK, Jepang menegaskan tidak akan mengirim kapal perang hanya karena Trump mengatakan demikian pun tidak akan mempertimbangkan.
Next News

Jajaran Kejaksaan Negeri Karo Diperiksa Kejagung Imbas Dugaan Pelanggaran Kode Etik Perkara Amsal Sitepu
in 8 minutes

Fenomena Langit April: Komet Paskah C/2026 A1 Mendekati Matahari, Berpotensi Terlihat dengan Mata Telanjang
3 hours ago

Fenomena Cahaya Misterius di Langit Lampung dan Sumbar, Pakar Bilang Bukan Meteor
5 hours ago

Viral Seruan Saiful Mujani Jatuhkan Pemerintahan Prabowo: Pengamat Sebut Langkah Absurd
7 hours ago

Capai Pilar Ketahanan Pangan Nasional, Bulog Siap Bangun 100 Gudang Panen di Seluruh Indonesia
a day ago

Andrie Yunus Terancam Buta Permanen, Proses Hukum Berjalan Lambat dan Tidak Transparan
a day ago

Bertahan Hidup 7 Hari di Hutan, Molly si Border Collie Ditemukan Selamat
a day ago

Berkas Lengkap! KPK Limpahkan Kasus Korupsi Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko ke PN
a day ago

KPK Beri Peringatan Keras! Bos Rokok Muhammad Suryo Diminta Kooperatif Penuhi Panggilan
a day ago

Banjir Terjang Desa Labean Sulawesi Selatan, Puluhan Rumah Warga Terendam Lumpur dan Air
a day ago





