Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Culture

Tradisi Kliwonan di Batang: Cerita Rakyat yang Berkembang di Setiap Hari Kliwon

Admin WGM - Sunday, 04 January 2026 | 09:55 AM

Background
Tradisi Kliwonan di Batang: Cerita Rakyat yang Berkembang di Setiap Hari Kliwon
Alun-alun Batang (TribunJateng/)

Tradisi Kliwonan di Batang: Cerita Rakyat yang Berkembang di Setiap Hari Kliwon

Di tengah riuhnya kota Batang, masih ada satu tradisi yang tetap menggelegar meski zaman berubah: Kliwonan. Kalau Anda pernah bertanya, "Apa sih Kliwonan?" jawabannya sederhana namun mendalam. Kliwonan adalah perayaan yang dilaksanakan setiap hari Kliwon menurut kalender Jawa, di mana masyarakat mengumpulkan tenaga spiritual, kebersihan rumah, dan kebersamaan keluarga. Di Batang, tradisi ini terasa lebih hidup karena setiap langkahnya sudah dijalin oleh generasi ke generasi. Saya pun pernah mengalami sendiri, dan rasanya seperti menyusuri lorong sejarah yang masih berdenyut.

Setiap kali matahari mulai menyinari sawah Batang, orang-orang sudah mulai mempersiapkan diri. Kliwon dianggap hari "kuncang" dalam kalender Jawa, jadi para warga biasanya membersihkan rumah dari debu, merapikan barang-barang, bahkan menata pagar rumah dengan motif batik yang sederhana. Ada cerita yang mengatakan bahwa pada hari Kliwon, roh leluhur lebih mudah meresapi kebersihan, jadi kuncinya memang pada "bersih" dan "cinta". Di samping itu, para pencinta musik gamelan sering mengatur "tampilan gamelan" di ruang terbuka, menambah suasana keakraban.

Persiapan: Dari Pembersihan Hingga Penyiapan Makanan

Persiapan Kliwonan di Batang bisa jadi ritual yang menakjubkan. Biasanya, keluarga akan menyiapkan beras, gula aren, dan air jernih. Makanan sederhana seperti ketupat, tempe, dan sayur segar jadi simbol kebersamaan. Ada juga tradisi kecil, yaitu menaruh cangkir kopi di meja dan menantikan datangnya tetangga untuk saling bertukar cerita. Ternyata, kuncinya bukan sekadar persiapan fisik, tapi juga mental: menjaga hati agar tetap damai dan penuh syukur.

Setelah rumah dibersihkan, para tetua keluarga biasanya mengadakan doa bersama. Mereka mengangkat tangan ke langit, mengucapkan "Om shanti" dan "Bendahara" dengan nada lantang yang membuat udara terasa lebih hening. Begitu doa selesai, semua keluarga duduk di halaman sambil menikmati cemilan. Di samping itu, ada praktik "ngedegdegan" yang bertujuan menenangkan pikiran dengan bernyanyi atau menari kecil. Semua elemen ini menguatkan rasa kebersamaan, yang menjadi inti dari Kliwonan.

Acara Utama: Musik, Tari, dan Wayang

Hari Kliwonan biasanya dimulai dengan gamelan di ruang terbuka. Suara suling dan gong yang menenangkan memancarkan suasana "sejati" yang membuat semua orang terhanyut. Ada juga pertunjukan wayang kulit yang disajikan oleh pemain tradisional. Mereka memandu cerita tentang keberanian dan pengorbanan, mengingatkan kita akan nilai-nilai luhur yang harus dijaga. Ketika musik berakhir, biasanya akan ada tarian tradisional yang dipadukan dengan lirik sederhana, membuat anak-anak bahkan yang sudah dewasa tak bisa menahan tawa.

Di tengah semua kegembiraan, masih ada tempat untuk merenung. Beberapa orang akan menyalakan lampu minyak di dekat pintu masuk rumah, berharap agar cahaya itu menebar keberkahan di seluruh keluarga. Tidak ketinggalan, ada "kumpulan cangkir kopi" yang berisi doa dan harapan. Semua elemen ini saling melengkapi, menciptakan suasana kehangatan yang sulit ditemukan di perayaan modern.

Makna Kliwonan dalam Konteks Budaya Batang

Setiap elemen Kliwonan di Batang mempunyai makna yang lebih dalam. Di luar kebersihan fisik, ada pesan tentang "harmoni" antara manusia dan alam. Kebersamaan dalam menyembelih, memberi, dan bernyanyi menunjukkan bahwa nilai budaya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Tradisi ini tidak hanya menjadi sekadar perayaan, melainkan sebuah pengingat bahwa kita semua terikat oleh sejarah dan budaya yang sama.

Bagi generasi muda, Kliwonan seringkali menjadi pengalaman yang "out of this world". Banyak di antara mereka menganggapnya sebagai "pencarian jati diri". Dengan berpartisipasi aktif, mereka dapat memahami bagaimana nilai-nilai tradisional masih relevan, bahkan di era digital. Kliwonan memberi ruang bagi mereka untuk memelihara akar budaya tanpa harus menolak modernitas.