The Return of Pasar Tradisional: Dulu Tempat Belanja, Sekarang Tempat Bergaya
Admin WGM - Tuesday, 10 February 2026 | 08:43 PM


Pernah terbayang nggak, Winners, kalau destinasi berakhir pekan paling cool saat ini bukan lagi mal mewah, melainkan pasar tradisional? Sebut saja Pasar Cihapit di Bandung atau Pasar Santa di Jakarta. Pasar-pasar ini sedang mengalami masa "kebangkitan kedua" berkat sentuhan revitalisasi yang pas dengan selera anak muda.
Kenapa pasar tradisional tiba-tiba jadi tempat nongkrong yang keren? Yuk, kita bedah fenomena unik ini!
1. Vibe "Authentic" yang Nggak Bisa Dibeli
Di tengah dunia yang serba dipoles dan terlihat serupa, anak muda sekarang haus akan sesuatu yang asli atau authentic.
- Keunikan Visual: Pemandangan kios sayur berdampingan dengan kedai kopi spesialisasi atau toko piringan hitam memberikan kontras visual yang sangat menarik. Estetika "industrial-tradisional" ini adalah makanan empuk buat konten media sosial yang beda dari yang lain.
2. Inkubator Brand Lokal Kreatif
Revitalisasi pasar sering kali membuka ruang bagi pelaku usaha kecil (UMKM) kreatif untuk menyewa lapak dengan harga terjangkau.
- Kurasi yang Unik: Di pasar-pasar ini, kamu bisa menemukan bakery artisan, kedai mi homemade, hingga toko baju thrifting yang dikurasi dengan sangat personal. Ini menciptakan pengalaman belanja yang jauh lebih intim dibandingkan masuk ke toko retail raksasa.
3. "Third Place" yang Terjangkau
Konsep third place (tempat ketiga setelah rumah dan kantor) sangat krusial bagi warga kota.
- Demokratisasi Ruang: Pasar tradisional adalah ruang publik yang jujur. Winners bisa duduk minum kopi seharga 15 ribu sambil melihat interaksi pedagang asli yang sudah puluhan tahun di sana. Ada rasa komunitas yang hangat, sesuatu yang sering kali hilang di dalam gedung-gedung beton yang kaku.
4. Melestarikan Budaya Sambil Modernisasi
Revitalisasi yang berhasil adalah yang tidak menggusur pedagang lama. Fenomena ini menarik karena anak muda jadi punya kesempatan untuk berinteraksi lagi dengan pedagang pasar asli.
- Modernisasi Tanpa Eliminasi: Saat kamu datang ke pasar untuk makan brunch estetik, secara tidak langsung kamu juga menghidupkan ekosistem pasar tersebut. Ekonomi berputar, dan pasar tradisional tetap relevan di zaman digital.
Tips Buat Kamu yang Mau "Pasar-Thrusting":
- Datang Pagi: Biar kamu bisa merasakan denyut asli pasar sebelum terlalu ramai oleh pengunjung lain.
- Eksplorasi Kuliner: Jangan cuma duduk di satu tempat. Coba jajanan pasar aslinya juga, ya!
- Bawa Tas Belanja Sendiri: Karena konsepnya sudah keren dan modern, jangan lupa tetap ramah lingkungan dengan mengurangi plastik.
Kebangkitan pasar tradisional membuktikan bahwa kita tidak perlu selalu membangun gedung baru untuk menjadi modern. Terkadang, kita hanya perlu merawat yang sudah ada dan memberinya nafas kreativitas baru. Pasar adalah jiwa sebuah kota, dan sekarang, jiwa itu kembali muda, Winners.
Kira-kira pasar tradisional mana yang jadi favorit kamu buat bengong sore-sore, Winners?
Next News

Rahasia di Balik Layar Industri K-Pop: Antara Obsesi Kesempurnaan dan Dominasi Global
10 hours ago

Bukan Sekadar Mentah, Ini Rahasia Teknik Ikejime yang Bikin Ikan Jepang Sangat Nikmat
11 hours ago

Lebih dari Sekadar Estetika, Ini Alasan Merah dan Emas Jadi 'Warna Wajib' Tradisi Tionghoa
11 hours ago

Hargai Tradisi! Ini Daftar Pamali yang Tak Boleh Dilanggar Saat Traveling di Indonesia
12 hours ago

Bukan Sekadar Pasrah, Intip Kekuatan Mental di Balik Filosofi Nrimo Ing Pandum
12 hours ago

Lebih Mahal dari Emas, Intip Sejarah Kelam di Balik Harumnya Rempah Nusantara
a day ago

Lebih dari Sekadar Dongeng, Ini Rahasia di Balik Seragamnya Nilai Moral Cerita Rakyat Indonesia
a day ago

Mengenal Arti 'Pitu' di Nasi Tumpeng, Rahasia Angka 7 yang Penuh Doa dan Pertolongan
a day ago

Gak Nyangka! 5 Makanan Enak Ini Ternyata 'Anak Kandung' Akulturasi Tiongkok dan Belanda
a day ago

Ternyata Bukan Asli Indonesia! Simak Sejarah Panjang Cabai Sampai Jadi Raja Kuliner Kita
a day ago





