Senin, 6 April 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Tewasnya Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Tertinggi Iran Memicu Perang Lebih Luas dan Terbuka

Trista - Thursday, 19 March 2026 | 01:35 PM

Background
Tewasnya Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Tertinggi Iran Memicu Perang Lebih Luas dan Terbuka
Ali Larijani (Wikipedia /)

Eskalasi konflik di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran meluncurkan serangan rudal besar-besaran ke jantung pertahanan Israel,Tel Aviv (18/3/2026). Serangan ini dikonfirmasi sebagai aksi balas dendam Iran atas tewasnya Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani dalam serangan udara Israel, Selasa malam (17/3/2026). 

Melalui wawancara Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menegaskan tewasnya petinggi Iran tidak akan menjadi kemunduran bagi pemerintah Iran untuk terus melawan aliansi Israel-Amerika Serikat. Pembunuhan tokoh yang paling berpengaruh terhadap sistem tidak akan mempengaruhi sistem politik iran yang telah dibentuk dengan sangat kokoh. 

"Saya tidak tahu mengapa Amerika dan Israel masih belum memahami poin ini, Republik Islam Iran memiliki struktur politik yang kuat dengan lembaga politik, ekonomi, dan sosial yang mapan. Kehadiran atau ketidakhadiran satu individu tidak memengaruhi struktur ini," ungkap Araghchi, dilansir dari laman SindoNews, (18/3/2026). 

Terhitung saat ini, sudah enam dari  pejabat Iran yang menjadi tubuh bagi sistem politik dan militer Iran yang terbunuh akibat dari konflik dengan aliansi Israel-Amerika Serikat yakni, Ayatollah Ali Khamenei (Pemimpin Tertinggi), Ali Larijani (Sekretaris Dewan Keamanan Nasional tertinggi), Ali Shamkhani (Kepala Dewan Pertahanan Nasional), Mohammad Pakpour (Panglima IRGC), Amir Nasirzadeh (Menteri Pertahanan), dan Abdolrahim Mousavi (Kepala staf angkatan bersenjata). Serangan ini hanya menyisakan satu petinggi Iran yaitu  Masoud Pezeshkian sebagai Presiden yang akan mengerahkan unit militer sebagai perlawanan. 

Serangan Iran melalui IRGC (Korps Garda Revolusi Islam Iran) berhasil menargetkan lebih dari 100 titik militer dan keamanan di jantung wilayah pendudukan Israel. Layanan darurat Israel menyatakan bahwa seorang pria dan seorang wanita tewas akibat pecahan peluru di Tel Aviv. Pernyataan terbaru Presiden Masoud Pezeshkian menunjukan bahwa unit-unit angkatan bersenjata telah diberi kewenangan luas untuk bertindak jika kepemimpinan senior tidak dapat menjalankan tugasnya. 

Di sisi lain, Trump menyatakan keinginannya untuk menemukan sosok pragmatis yang dapat "mempimpin" Iran seperti Delcy Rodriguez di Venezuela. Seakan menimpali ucapan Trump, Mojtaba Khamenei anak dari Ayatollah Ali Khamenei akan membalaskan kematian dari petinggi Iran dalam serangan aliansi Israel-Amerika Serikat. 

"Setiap tetes darah akan mendapat balasannya dan bahwa para pembunuh keji para martir ini akan segera menerima balasannya," ungkap Mojtaba Khamenei, dilansir dari laman MetroNews, (19/3/2026). 

Diketahui bahwa Ali Larijani tewas bersama putranya, Morteza dan satu ajudannya Alireza Bayat serta beberapa anggota staf dewan. Tewasnya Ali Larijani bukan sekadar seorang pemimpin Iran melainkan memperdalam krisis kepemimpinan dalam strategi perang yang akan memicu perang terbuka lebih luas.