Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Culture

Tau Gak! Sejarah Panjang Mudik Lebaran Ternyata Berasal dari Tradisi Kerajaan Majapahit

Admin WGM - Tuesday, 10 February 2026 | 10:06 AM

Background
Tau Gak! Sejarah Panjang Mudik Lebaran Ternyata Berasal dari Tradisi Kerajaan Majapahit
Tradisi Mudik di Indonesia (Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah/)

Momen menjelang Lebaran di Indonesia selalu identik dengan pemandangan jutaan orang yang bergerak serentak meninggalkan ibu kota menuju kampung halaman. Fenomena ini kita kenal dengan istilah mudik. Meski terlihat sebagai rutinitas tahunan, mudik sebenarnya menyimpan narasi sejarah yang sangat panjang dan kompleks. Tradisi ini bukan sekadar urusan pulang kampung, melainkan sebuah manifestasi budaya yang melibatkan aspek sosiologis, ekonomi, hingga spiritual.

Bagi masyarakat Indonesia, mudik adalah panggilan jiwa yang sulit untuk diabaikan. Lantas, bagaimana awal mula tradisi ini terbentuk dan mengapa Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah pemudik terbesar di dunia?

Akar Tradisi dari Zaman Kerajaan Majapahit

Banyak yang mengira bahwa mudik adalah fenomena modern hasil dari urbanisasi. Namun, para sejarawan menemukan bahwa akar tradisi ini sudah ada sejak era Kerajaan Majapahit dan Mataram Islam. Pada masa itu, wilayah kekuasaan kerajaan sangat luas hingga ke pelosok-pelosok daerah.

Para pejabat kerajaan atau petani yang merantau biasanya akan pulang ke pusat kerajaan atau kampung halaman mereka pada waktu-waktu tertentu. Tujuannya adalah untuk menghadap raja atau sekadar membersihkan makam leluhur. Istilah pulang ke kampung halaman ini dilakukan sebagai bentuk pengabdian dan menjaga hubungan dengan akar asal-usul mereka. Tradisi menjaga makam ini kemudian menyatu dengan momen perayaan keagamaan seiring masuknya Islam ke Nusantara.

Asal-Usul Istilah Mudik dari Bahasa Jawa dan Betawi

Secara etimologi, kata mudik memiliki dua akar kata yang sering diperdebatkan. Versi pertama menyebutkan mudik berasal dari bahasa Jawa, yaitu singkatan dari mulih dilik yang berarti pulang sebentar. Istilah ini menggambarkan perilaku perantau yang hanya memiliki waktu sedikit untuk bertemu keluarga sebelum kembali bekerja.

Versi kedua yang lebih populer di Jakarta adalah serapan dari kata menuju udik. Udik dalam bahasa Betawi berarti selatan atau hulu. Pada masa lalu, wilayah geografis Jakarta terbagi antara kota (pusat kegiatan) dan udik (pinggiran/pedesaan). Ketika para pekerja di pusat kota ingin pulang ke rumah mereka yang berada di wilayah hulu atau pedesaan, mereka menyebutnya "ke udik" yang lambat laun menjadi "mudik".

Urbanisasi Masif di Tahun 1970-an

Fenomena mudik dalam skala raksasa seperti yang kita lihat sekarang baru benar-benar terbentuk pada tahun 1970-an. Saat itu, Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi tumbuh pesat di bawah orde baru. Hal ini menarik minat jutaan orang dari berbagai daerah untuk mengadu nasib di ibu kota.

Lebih dari 80 persen penduduk Jakarta saat itu adalah pendatang. Karena jadwal kerja yang padat, satu-satunya kesempatan bagi para perantau ini untuk berkumpul dengan keluarga besar secara serentak adalah saat libur Idulfitri. Sejak saat itulah, mudik bertransformasi dari tradisi lokal yang sunyi menjadi mobilisasi massa yang luar biasa besar dan memengaruhi perputaran ekonomi nasional.

Makna Filosofis sebagai Bentuk Eksistensi Diri

Mengapa orang Indonesia rela bermacet-macetan puluhan jam demi mudik? Jawabannya terletak pada nilai sosiokultural yang sangat kuat. Mudik adalah ajang untuk menunjukkan eksistensi diri dan keberhasilan di perantauan. Ada kebanggaan tersendiri ketika seseorang bisa pulang membawa buah tangan atau cerita sukses kepada keluarga di kampung.

Selain itu, mudik berfungsi sebagai sarana "pembersihan diri". Setelah satu tahun bergelut dengan tekanan pekerjaan di kota besar, pulang ke rahim asal atau tempat kelahiran dianggap mampu memberikan energi spiritual baru. Silaturahmi dan permintaan maaf kepada orang tua menjadi puncak dari segala kelelahan selama perjalanan.

Dampak Ekonomi yang Menggerakkan Daerah

Mudik juga menjadi instrumen redistribusi kekayaan dari kota ke desa secara alami. Dalam waktu kurang dari dua minggu, triliunan rupiah berpindah tangan melalui belanja transportasi, konsumsi, hingga pemberian uang saku kepada kerabat di desa. Fenomena ini sangat unik di Indonesia karena mampu menghidupkan sektor UMKM di daerah pelosok yang biasanya sepi secara ekonomi. Transportasi publik, sektor bahan bakar, hingga industri pariwisata daerah mendapatkan keuntungan berlipat ganda setiap musim mudik tiba.

Tradisi mudik adalah perpaduan antara sejarah kerajaan masa lalu, perkembangan urbanisasi modern, dan nilai-nilai spiritualitas yang kental. Ia bukan sekadar perpindahan raga, melainkan perjalanan hati untuk kembali mengenali jati diri. Meski teknologi komunikasi sudah sangat canggih, kehadiran fisik di tengah keluarga saat hari raya tetap tidak tergantikan oleh layar gawai mana pun. Selama rasa rindu terhadap asal-usul masih ada, mudik akan terus menjadi fenomena abadi yang mewarnai sejarah bangsa Indonesia.