Selasa, 25 Agustus 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Tampang Kernet Bus MTrans Pelaku Pelecehan Tersebar, Polisi Jatim Turun Tangan Selidiki Kasus Asusila

Admin WGM - Thursday, 16 July 2026 | 05:30 PM

Background
Tampang Kernet Bus MTrans Pelaku Pelecehan Tersebar, Polisi Jatim Turun Tangan Selidiki Kasus Asusila
Tampang kernet MTrans pelaku pelecehan (detikNews /)

Kasus pelecehan seksual di dalam transportasi publik kembali mencuat setelah seorang penumpang perempuan membagikan kisah pilunya saat menumpangi bus rute Malang menuju Denpasar. Melalui unggahan di media sosial, korban mengungkapkan pengalaman traumatis akibat tindakan tidak senonoh yang dilakukan oleh salah satu kru armada transportasi tersebut.

Cerita memilukan yang viral di jagat maya tersebut langsung memicu gelombang kemarahan publik yang mengecam keras perilaku menyimpang sang kru bus. Netizen berbondong-bondong mendesak pihak manajemen perusahaan transportasi untuk segera mengambil tindakan hukum yang tegas demi melindungi kenyamanan konsumen lainnya.

Merespons tuntutan publik dan laporan dari korban, manajemen otobus MTrans bergerak cepat dengan merilis pernyataan resmi terkait kasus yang mencoreng nama baik perusahaan tersebut. Tanpa kompromi, pihak manajemen langsung menjatuhkan sanksi pemecatan secara tidak hormat kepada kru bus yang diduga kuat menjadi pelaku pelecehan seksual selama perjalanan.

Langkah tegas pemutusan hubungan kerja ini diambil sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam menjaga aspek keamanan serta memberikan ruang aman bagi seluruh penumpang perempuan. Pihak manajemen MTrans juga menyatakan permohonan maaf yang mendalam atas insiden buruk yang terjadi di salah satu armada operasional mereka.

Di sisi lain, aparat kepolisian daerah Jawa Timur kini mulai turun tangan melakukan penyelidikan intensif setelah foto wajah pelaku tersebar luas di media massa. Petugas berwenang berupaya mengumpulkan bukti-bukti materiil tambahan serta memeriksa saksi mata guna melengkapi berkas perkara pidana perbuatan asusila ini.

Dukungan moral terus mengalir dari berbagai komunitas dan organisasi perlindungan perempuan untuk mendampingi korban dalam memulihkan kondisi psikologisnya pasca-kejadian. Kasus ini diharapkan menjadi momentum penting bagi seluruh penyedia jasa transportasi untuk memperketat proses rekrutmen pegawai serta memasang sistem pengawasan internal yang lebih protektif.